RS Siloam Hadir di Yogyakarta

RS Siloam Hadir di Yogyakarta
Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X meresmikan Rumah Sakit (RS) Siloam Yogyakarta yang berada di kompleks Lippo Plaza, Rabu (15/1/2020). Peresmian dilakukan secara simbolis melalui pengguntingan pita oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X (ketiga kanan), yang didampingi pendiri dan chairman Lippo Group Dr Mochtar Riady (kedua kiri), ibu Mochtar Riady (ketiga kiri), serta CEO Lippo Group James Riady (kedua kanan). (Foto: Suara Pembaruan/Fuska Sani Evani)
Fuska Sani Evani / IDS Rabu, 15 Januari 2020 | 20:04 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Hari ini, rumah sakit (RS) Siloam resmi beroperasi di Yogyakarta. Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X berharap, kehadiran RS Siloam Yogyakarta bisa memberikan perawatan kesehatan terbaik sehingga masyarakat Yogyakarta tidak perlu lagi berobat ke luar negeri.

Menurutnya, dengan semakin canggihnya teknologi medis serta sumber daya manusia di bidang kesehatan, sudah seharusnya pasien bisa mendapatkan perawatan terbaik di dalam negeri dan tak perlu repot-repot berobat ke luar negeri.

Namun ia juga menyebutkan bahwa pasien Indonesia cenderung lebih percaya pada RS di Malaysia atau Singapura karena persoalan persepsi mitos success rate pengobatan di luar negeri lebih tinggi.

“Padahal, image itu belum tentu sepenuhnya benar," ujar Sultan saat meresmikan RS Siloam Yogyakarta yang berada di kompleks Lippo Plaza, Rabu (15/1/2020).

Peresmian dilakukan secara simbolis melalui penandatanganan prasasti oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang didampingi oleh Walikota Yogya Haryadi Suyuti, pendiri dan chairman Lippo Group Dr Mochtar Riady, serta manajemen Siloam Hospitals Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Sultan meminta agar pasien yang datang ke RS Siloam, termasuk pemegang kartu JKN-KIS, bisa mendapatkan layanan prima, smart, ramah, aman, dan bermutu lebih. Ia juga berpesan agar layanan RS mengedepankan layanan medik yang total holistik, utuh, adil, ikhlas, dan hormat kepada pasien, dalam spirit membela hak insani pasien.

Selain itu, ia juga meminta agar dokter membuka keran komunitasi yang baik dengan pasiennya, karena pasien cenderung ingin tahu penyakitnya.

“Seringnya dokter enggak mau bicara detail. Kalau saya, mending saya pindah RS. Memang ada orang yang tidak mau terbuka, tetapi kalau saya punya penyakit, maunya tahu persis," ucap Sultan.

Khusus untuk RS Siloam yang berfokus pada penanganan trauma, Sultan mengatakan, berdasarkan data, pasien dengan kasus trauma mencapai 40,7% dari seluruh kasus gawat darurat dengan angka kematian 1%-3%, dan nontrauma sebesar 59,3% dengan angka kematian kurang dari 1%.

Karena itu, tata laksana trauma awal dan nontrauma ini membutuhkan keterampilan dan sarana yang sama, yaitu layanan UGD yang mengutamakan penyelamatan nyawa. Karena Indonesia menjadi wilayah yang rawan bencana, layanan gawat darurat sudah menjadi tuntutan masyarakat dan memerlukan dokter spesialis.

Wisatawan
Sementara itu, pendiri dan chairman Lippo Group Mochtar Riady mengatakan, Yogyakarta masih tetap menjadi daya tarik wisatawan termasuk pelancong dari luar negeri, juga pelajar. Karena itu, destinasi pariwisata unggulan ini juga membutuhkan fasilitas kesehatan.

RS Siloam Yogyakarta menyediakan berbagai fasilitas antara lain UGD 24 jam, laboratorium, farmasi, ruang hemodialisa, ruang operasi, ruang kemoterapi, serta peralatan dan penunjang medis seperti MRI 1,5 Tesla, CT Scan 128 Slices, dan ultrasonografi.

Sejalan dengan visi Siloam Hospitals Group dan sebagai wujud komitmen terhadap industri kesehatan di Indonesia, Siloam Hospitals Group terus membangun dan membuka rumah sakit serta memberikan pelayanan kesehatan profesional berstandar internasional di berbagai wilayah di Indonesia, salah satunya adalah DI Yogyakarta.

Melalui peresmian ini, Siloam Hospitals Group semakin meneguhkan komitmennya untuk memberikan pelayanan kesehatan yang unggul, dengan menghadirkan suasana nyaman didukung oleh para dokter spesialis, subspesialis, serta tenaga medis yang kompeten dan berpengalaman demi upaya penyelamatan dan pemulihan pasien.



Sumber: Suara Pembaruan