Kenali Komplikasi Jantung Koroner

Kenali Komplikasi Jantung Koroner
Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre (RS MMC) membuka layanan Cardiovascular Centre One Stop Service, Kamis (23/1/2020). ( Foto: Beritasatu Photo / Indah Handayani )
Indah Handayani / FER Kamis, 23 Januari 2020 | 15:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penyakit jantung koroner (PJK) jika tidak tertangani dengan baik dapat memicu beberapa komplikasi yang berakibat fatal.

Dokter Spesialis Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah RS Metropolitan Medical Centre (MMC), dr Eka Ginanjar, mengatakan, PJK merupakan kondisi pembuluh darah jantung (arteri koroner) tersumbat oleh timbunan lemak.

"Jika lemak semakin menumpuk akan mempersempit arteri dan akibatnya aliran darah ke jantung menjadi berkurang," ungkap dr Eka di Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Menurut dr Eka, untuk mengenali serangan jantung, ada beberapa ciri seperti nyeri dada yang biasanya terasa di bagian tengah atau kanan atau kiri atau ulu hati, dapat terjadi lebih dari 15 menit atau lebih, rasanya seperti tertindih benda berat, atau dada seperti terikat, disertai penjalaran ke lengan kiri atau kadang-kadang kanan, leher, rahang, disertai keringat dingin, mual. Kadang-kadang muntah, juga terjadi komplikasi sesak, lemah, pingsan, dan kejang.

"Selain serangan jantung, PJK memiliki komplikasi berupa gangguan irama jantung (aritmia). Sayangnya, aritmia kerap tidak terdeteksi sebagai penyakit jantung, padahal akibatnya fatal," ungkap dr Eka.

Dokter Spesialis Kardiovaskular dari RS MMC, Prof Yoga Yuniadi, menjelaskan, secara normal jantung berdenyut sebanyak 50-90 kali per menit. "Saat denyut jantung berdenyut cepat, akan berdetak hingga 200 kali per menit," jelas Prof Yoga.

Sementara itu, denyut jantung melambat ketika denyut irama jantung terhitung 40 kali per menit. Gangguan irama jantung (aritmia) terjadi akibat pembentukan dan atau penjalaran impuls listrik sehingga memunculkan denyut jantung yang tidak beraturan.

"Denyut jantung berdetak cepat disebut takiaritmia, sebaliknya denyut jantung yang melambat dikenal sebagai bradiaritma. Bila aritmia tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan kerusakan otak secara permanen hingga kematian mendadak," jelasnya.

Direktur utama RS MMC, dr Roswin R Djafar, menambahkan, menyadari bahwa masyarakat mesti mendapatkan pelayanan penyakit jantung secara komprehensif, pihaknya membuka layanan cardiovascular centre one stop service. Artinya, pasien dapat memperoleh pelayanan konsultasi bersama spesialis, diagnosa secara menyeluruh, pengambilan obat di lantai yang sama hingga terapi penyakit jantung koroner.

"Jika dibutuhkan tindakan lebih lanjut, pasien dapat melakukan terapi penyakit jantung koroner secara langsung, seperti pemasangan ring dan operasi bypass jantung di lokasi yang sama," tutup dr Roswin.



Sumber: Investor Daily