RSPI Sulianti Saroso Tangani Pasien Pertama yang Diduga Tertular Virus Korona

RSPI Sulianti Saroso Tangani Pasien Pertama yang Diduga Tertular Virus Korona
RSPI Sulianti Saroso. ( Foto: SP/Carlos Roy Fajarta )
Carlos Roy Fajarta / AB Jumat, 24 Januari 2020 | 10:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso di Jakarta Utara sebagai salah satu rumah sakit rujukan pemerintah pusat menangani pasien yang diduga tertular virus korona.

"Kami ada suspect satu orang. Kondisi masih stabil belum memburuk dan belum dinyatakan sebagai pengidap virus korona. Dia WNI, baru masuk Rabu kemarin," ujar Direktur Medik dan Keperawatan RSPI, Dyani Kusumawardhani, Jumat (24/1/2020) pagi kepada awak media.

Phaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang membutuhkan waktu dua hingga tiga hari.

RSPI Sulianti Saroso, lanjutnya, telah ditunjuk sebagai pusat rujukan dan kajian penyakit infeksi, karena memiliki dokter spesialis dan subspesialis infeksi serta ruangan isolasi ketat ditunjang laboratorium dan radiologi yang mumpuni untuk menunjang diagnosis pasien.

"Kami memiliki 11 tempat tidur ruang isolasi sekaligus intensive care. Ruangan isolasi tersebut memiliki tekanan negatif, artinya antara satu ruang dengan ruang isolasi lainnya tidak ada aliran udara keluar, sehingga memutus semaksimal mungkin kuman dari kamar pasien keluar. Petugas yang masuk menggunakan alat pelindung diri untuk menghindari penularan kepada petugas," katanya.

Pada kesempatan itu, Dyani meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap virus korona, karena sampai saat ini belum ada obatnya.

"Untuk mencegah penularan virus korona, masyarakat perlu menjaga daya tahan tubuh, mencuci tangan dengan bersih, dan menutup hidung dan mulut ketika batuk dan bersin," katanya.

Sementara itu, dokter spesialis paru, Pompini Agustina Sitompul mengatakan gejala klinis dari virus korona adalah demam, batuk, sesak napas, serta memiliki riwayat perjalanan dari daerah endemis Tiongkok.

"14 hari sejak perjalanan itu masih masa inkubasi dari virus tersebut harus diperiksa intensif. Korona virus ini adalah virus yang menyebabkan gejala ringan, seperti influenza, pusing, pilek, batuk dan kemudian menjadi berat atau kronis layaknya SARS dan MERS. Tingkat mortality rate-nya untuk virus korona masih dalam investigasi WHO," ujar Pompini.

Kementerian Kesehatan dan sejumlah rumah sakit rujukan nasional infeksi masih melakukan investigasi apakah penularan virus korona dari hewan liar, seperti kelelawar atau musang ke manusia

"Sumber dan cara penularan ini belum definitif dan masih diselidiki. Namun kita sebagai rumah sakit rujukan harus tetap mengutamakan kewaspadaan. Gejala tertular virus korona adalah suhu di atas 38 derajat celsius," tutur Pompini.

Pasien yang diduga tertular virus korona akan ditempatkan di ruangan isolasi agar virus tersebut tidak menyebar ke mana-mana.

"Kita melakukan kontrol agar tidak terjadi penularan. Prinsip kewaspadaan dengan pencegahan pengendalian infeksi. Ada suspect dan kita mengambil bahan dari hidung, tenggorokan, dan dahak. Jalan napas dari bawah diperiksa. Saat ini kami masih melakukan pemeriksaan suspect pertama virus korona," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan