IDI: Belum Ada Obat Antivirus Korona

IDI: Belum Ada Obat Antivirus Korona
Penumpang kereta di Tiongkok menggunakan masker sebagai alat perlindungan terhadap virus pneumonia di Kota Wuhan. ( Foto: istimewa )
/ WBP Jumat, 24 Januari 2020 | 14:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengatakan hingga saat ini belum ada obat untuk antivirus korona yang sedang melanda beberapa negara.

"Belum ada obat antivirusnya," kata Zubairi Djoerban di Jakarta, Jumat (24/1/2020).

Ia mengatakan masyarakat yang terserang virus tersebut biasanya ditandai dengan beberapa hal, di antaranya batuk, pilek, demam panas, sesak napas, dan nyeri otot. Gejalanya muncul dua hari hingga 14 hari setelah terpapar.

Di Davos, CEPI Janji Percepat Pengembangan Vaksin Virus Korona

Meski demikian untuk mencegah virus tersebut menyebar, masyarakat disarankan beberapa hal yaitu cuci tangan menggunakan sabun atau air mengalir selama 20 detik atau dengan sanitizer alkohol. Selanjutnya hindari mengusap mata, hidung, dan mulut sebelum cuci tangan. Menghindari kontak dengan pasien terjangkit virus, tinggal di rumah apabila sakit, tutup mulut maupun hidung saat bersin.

Virus Korona Diduga Ditularkan Lewat Sup Kelelawar

Ia mengatakan berdasarkan penelitian, kasus yang terjadi di Kota Wuhan Tiongkok, sebanyak 830 orang yang sudah melakukan kontak erat dengan pasien korona. Awalnya tidak satu pun tertular. "Awalnya kita kira penularan dari manusia ke manusia tidak ada, namun kemudian telah terjadi penularan dari manusia," ujar Zubairi Djoerban.

Kasus yang terjadi di Wuhan juga berawal dari masyarakat setempat mengonsumsi ular. Setelah diteliti, ternyata ular tersebut memangsa kelalawar yang sudah terserang virus korona. "Dari penelitian yang dilakukan, ular tersebut memangsa kelalawar, kemudian ular itu dimakan manusia sehingga terserang virus korona," ujar Zubairi Djoerban.

Saat ini, ujar dia, beberapa kota di Tiongkok telah dikarantina sehingga akses transportasi yaitu bus, kereta api, pesawat dan sebagainya tidak boleh keluar. Kalau pun ingin keluar, harus memiliki izin khusus, namun sulit diperoleh.



Sumber: ANTARA