Virus Korona Mengganas pada Orang Berdaya Tahan Lemah

Virus Korona Mengganas pada Orang Berdaya Tahan Lemah
Dalam rangka mencegah penyebaran dan penularan virus korona, PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta meningkatkan pengawasan dan pemeriksaan terhadap penumpang, khususnya yang tiba melalui penerbangan internasional, Kamis 23 Januari 2020. ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani )
Fuska Sani Evani / FMB Jumat, 24 Januari 2020 | 19:47 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Kemunculan virus korona di Tiongkok yang telah menyebabkan puluhan orang meninggal, juga telah menyebar ke sejumlah negara seperti Amerika, Jepang, Thailand, Taiwan, Korea Selatan, Makau hingga Singapura.

Menyikapi hal itu, Pakar Penyakit Dalam Spesialis Paru-Paru (Internis Pulmonologist) FKKMK UGM, dr Sumardi mengimbau masyarakat Indonesia untuk tetap tenang dan tidak khawatir secara berlebihan menghadapi virus ini. Masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan pola hidup sehat dan bersih.

“Virus korona ini memang bisa menyerang siapa saja segala usia, tetapi risiko lebih besar pada orang dengan daya tahan tubuh lemah,” jelasnya, Jumat (24/1/2020) saat ditemui di Poli Paru RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.

Sumardi mengatakan virus korona dapat menimbulkan efek serius pada orang dengan penyakit kornis seperti seperti jantung, diabetes, liver, kanker dan lainnya. Sebab, kelompok tersebut mempunyai imunitas rendah sehingga rentan terkena serangan virus.

Serangan virus ini pada orang dengan sistem imun lemah dapat mengakibatkan infeksi saluran pernapasan bawah yang lebih serius bahkan menyebabkan kematian.

Dikatakan, virus korona yang menginfeksi pada manusia, umumnya memunculkan gejala seperti flu, batuk, demam, dan sakit kepala. Pada orang dengan daya tahan tubuh kuat, gejala ini biasanya akan hilang atau sembuh dalam waktu tidak lama.

“Gejalanya sama persis seperti orang flu sehingga kadang membuat bingung. Namun, saat di hari kedua masih demam dan tiba-tiba sesak nafas harus segera dibawa ke rumah sakit, apalagi yang habis pulang dari Tiongkok karena ada risiko terinfeksi,” tegasnya

Virus korona yang muncul di Wuhan, Tiongkok, menurut Sumardi, merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pernafasan seperti SARS dan MERS. Virus korona ini bisa dijumpai pada hewan seperti musang, unta, dan kelelawar.

“Tidak hanya menginfeksi hewan, tetapi virus ini bisa menular dari hewan ke manusia serta dapat menular antar manusia,” paparnya.

Penyebaran virus korona antar manusia terjadi melalui sejumlah cara. Antara lain lewat udara dengan batuk dan kontak dengan berjabat tangan atau menyentuh benda dengan virus diatasnya.

“Virus korona ini baru muncul pada 2002, sedangkan kasus SARS dan MERS pada 2012. Saat ini yang muncul bukan virus baru, tapi virus korona yang telah bermutasi dan karena mutasi jadi lebih berbahaya,” terang Sumardi.

Hingga saat ini belum ditemukan obat untuk virus korona. Namun demikian, tubuh dengan imunitas yang kuat, akan melawan virus ini. Sementara pada orang dengan penyakit kronis, pengobatan harus dilakukan dengan terapi suportif.

“Misalnya pada pasien jantung dengan memasang alat pacu jantung agar jantungnya tidak berhenti dan untuk pasien penyakit paru dipasang ventilator untuk memberikan bantuan nafas,” urainya.

Sumardi menyebutkan tidak pernah ditemukan kasus virus korona di tanah air. Meskipun begitu, upaya antisipasi pencegahan dan penyebaran virus ckorona perlu dilakukan oleh pemerintah dengan memperketat pemeriksaan kesehatan di bandara dan pelabuhan seluruh Indonesia. Terlebih saat ini virus korona telah menjangkit hingga ke Singapura.

“Harus ada isolasi, pergi ke Singapura harus sangat dibatasi terutama pada warga Batam yang mudah keluar masuk Singapura lewat pelabuhan. Masyarakat Batam harus diberitahu risiko penularan korona ini,” ujarnya. 



Sumber: Suara Pembaruan