LIPI: Mitigasi Penyebaran Virus Korona dari Satwa Liar

LIPI: Mitigasi Penyebaran Virus Korona dari Satwa Liar
Daging kelelawar menjadi salah satu menu favorit yang dijual di Pasar Tomohon, Minahasa, Sulawesi Utara. Menurut warga Tomohon-Minahasa dan sekitarnya, mereka sudah terbiasa makan daging dari hewan jenis apa saja. Semua bisa dimakan dengan racikan bumbu yang berbeda. ( Foto: AFP/Bay Ismoyo )
Ari Supriyanti Rikin / FMB Jumat, 24 Januari 2020 | 20:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengingatkan mitigasi penyebaran virus korona dari satwa liar. Virus korona merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit ringan seperti pilek dan penyakit yang serius seperti MERS dan SARS.

Virus korona adalah single-stranded RNA (ssRNA) virus yang umum ditemukan pada berbagai hewan yang berkeliaran di atas tanah seperti mamalia, burung dan reptil.

Beberapa jenis virus korona dikenal dapat menyebabkan infeksi akut pada saluran pernapasan bagian atas maupun bawah pada manusia, di antaranya adalah Severe Acute Respiratory Syndrome-related virus korona(SARS-CoV) yang mengalami kejadian luar biasa di Tiongkok pada tahun 2002.

Kemudian Middle East Respiratory Syndrome virus korona (MERS-CoV) yang mengalami kejadian luar biasa di Arab Saudi pada tahun 2012, dan yang terakhir adalah novel virus korona (2019-nCoV) yang laporan gejala awalnya terjadi di Wuhan, Tiongkok pada 31 Desember 2019.

Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Cahyo Rahmadi mengatakan, satwa liar yang secara alami dapat menyeberang lintas negara, maupun dibawa dan dimanfaatkan oleh manusia untuk tujuan tertentu.

Menurutnya, hal ini perlu menjadi fokus mitigasi antisipasi zoonosis. Sebab kata dia, zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan dari satwa liar ke manusia.

"Hewan yang dominan berpotensi membawa penyakit adalah tikus, kelelawar, celurut, karnivora dan kelompok primata seperti monyet," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (24/1/2020).

Peneliti mikrobiologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Sugiyono Saputra juga menjelaskan, virus korona memiliki laju mutasi yang sangat cepat dibandingkan dengan jenis virus yang lain seperti double-stranded DNA (dsDNA) virus sehingga kemunculan kejadian luar biasa dapat berlangsung cepat dan tidak terduga.

Sugiyono menyebut, penyebaran secara global pun dapat terjadi dengan mudah karena tingginya mobilitas manusia.

"Penelitian menunjukkan ketiga jenis virus korona yang bersifat mematikan terhadap manusia tersebut berasal dari kelelawar yang berperan sebagai perantara alaminya," ungkapnya.

Menurut Sugiyono, walaupun memungkinkan, namun interaksi langsung antara kelelawar dengan manusia sangatlah jarang.

"Tetapi virus tersebut dapat pula menginfeksi hewan lainnya sebagai perantara, dan hewan perantara tersebutlah yang lebih sering berinteraksi langsung dengan manusia," ungkapnya.

Pada kasus SARS hewan perantaranya adalah mamalia kecil seperti kelelawar, musang, dan rakun. Pada kasus MERS, hewan perantaranya adalah unta. Sedangkan pada kasus terbaru, material genetik dari 2019-nCoV merupakan rekombinasi dari
material genetik virus yang berasal dari kelelawar dan ular.

Menurut Sugiyono, hipotesis tersebut diangkat berdasarkan data terbaru yang dipublikasikan pada Journal of Medical Virology. Hipotesis tersebut menjelaskan bahwa kode-kode protein atau material genetik 2019-nCoV memiliki kesamaan dengan material genetik yang berasal dari ular.

Data tersebut diketahui setelah membandingkannya dengan lebih dari 200 jenis virus korona dari berbagai hewan.

"Rekombinasi yang dimaksud adalah gabungan antara bagian selubung virus dari virus korona asal kelelawar yang dikenal dapat menginfeksi manusia dan dari material genetik virus korona yang berasal dari ular," paparnya.

Spesies ular tersebut, lanjutnya, adalah Bungarus multicinctus atau the many-banded krait dan Naja atra atau the Chinese cobra. Ia menjelaskan, selubung virus atau viral spike merupakan bagian yang akan menempel atau menginfeksi sel inangnya jika memiliki reseptor yang sesuai.

"Mutasi bagian inilah yang menyebabkan virus korona dari ular tersebut dapat menginvasi sel-sel pada saluran pernapasan manusia," ungkapnya.

Namun kata dia, masih diperlukan penelitian menyeluruh untuk menyimpulkan asal virus 2019-nCoV, yang merupakan bagian dari sub-kelompok kecil betacoronavirus, melalui identifikasi di tempat kerja dan laboratorium lebih lanjut.

"Kendati demikian, para ilmuwan menduga bahwa mamalia adalah kandidat yang paling mungkin, seperti yang telah tervalidasi pada kasus SARS dan MERS sebelumnya," katanya.

Senada dengan itu peneliti satwa liar Pusat Penelitian Biologi LIPI Taufiq P Nugraha menyebut, para ilmuwan menduga kemunculan penyakit zoonosis baru (new emerging infectious diseases) seperti kasus 2019-nCoV merupakan hasil tingginya frekuensi interaksi antara satwa liar dengan manusia.

"Jika berkaca pada kasus ebola di Afrika, deforestasi untuk pertanian dapat berperan dalam ekspansi kelelawar di luar habitatnya dan ekspansi manusia ke dalam habitat kelelawar, sehingga keduanya dapat saling berinteraksi bebas dan berisiko tinggi dalam penyebaran penyakit baru," paparnya.

Dalam kasus 2019-nCoV, Taufiq menyebutkan kemungkinan orang yang berinteraksi langsung di pasar hewan di Wuhan, Tiongkok adalah yang pertama terkena penyakit infeksi tersebut.

"Interaksi langsung tersebut dapat melalui makanan maupun dalam proses pengolahan hewannya, baik hewan perantara maupun yang merupakan perantara alaminya," tutur Taufiq. 



Sumber: Suara Pembaruan