Menko PMK Tegaskan Indonesia Masih Aman Virus Korona

Menko PMK Tegaskan Indonesia Masih Aman Virus Korona
Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy (ketiga dari kanan) memberikan keterangan kepada pers terkait kesiapsiagaan pemerintah Indonesia menghadapi ancaman novel coronavirus (nCoV) atau korona virus usai rapat koordinasi tingkat menteri, Jakarta, Selasa (28/1/2020). ( Foto: Beritasatu Photo / Dina Manafe )
Dina Manafe / FER Selasa, 28 Januari 2020 | 19:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menegaskan, hingga saat ini Indonesia masih aman dari novel coronavirus (virus korona) atau nCoV atau 2019 nCoV. Virus yang kini mewabah di kota Wuhan itu, dipastikan belum masuk ke Indonesia.

Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk mewaspadai penularan penyakit ini dengan tidak perlu panik dan selalu menjaga kekebalan tubuh.

"Sampai hari ini Indonesia dalam kondisi masih aman, dan mudah-mudahan masih aman, dan itu yang kita usahakan,” kata Menko PMK usai menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) tingkat Menteri di Kantor Kemko PMK, Jakarta, Selasa (28/1/2020).

Rakor ini untuk membahas tentang kesiapan masing-masing kementerian/lembaga terkait dalam mengantisipasi ancaman virus yang berasal dari Kota Wuhan, ibukota Provinsi Hubei, Tiongkok.

Rakor dihadiri Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Menteri Komunikasi dan Informatika Jhonny G Plate, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito, Kepala BNPB Doni Monardo serta perwakilan dari kementerian maupun lembaga terkait.

Menko PMK mengatakan, yang penting saat ini pemerintah terus meningkatkan kewaspadaan, melakukan antisipasi, pencegahan, dan bersiap-siap mengambil langkah maksimal untuk pengendalian apabila akhirnya virus ini masuk ke Indonesia.

Menkes Terawan menambahkan, sampai detik ini tidak ada kasus suspect (terduga) maupun positif nCoV. Semua kasus yang menunjukkan gejala serupa pneumonia (gangguan pernapasan) di sejumlah daerah, termasuk pasien yang sempat dirawat di RSPI Sulianti Saroso, bukanlah disebabkan nCoV dari Tiongkok. Ini dipastikan setelah dilakukan pemeriksaan sesuai prosedur standar operasional untuk pengendalian virus baru.

Menkes melanjutkan, ketika seseorang dilaporkan menunjukkan gejala seperti demam, batuk, dan sesak napas sudah langsung dilakukan pemeriksaan detail, pemantauan, bahkan isolasi untuk pencegahan. Semua upaya penanganan akan dilakukan secara terkoordinir dengan semua kementerian/lembaga terkait.

Kemkes sendiri, lanjut Menkes, sudah meningkatkan kewaspadaan di 135 pintu masuk dalam beberapa hari terakhir. Pintu masuk ini selain dipasang thermal scanner (pendeteksi suhu tubuh), dijaga 24 jam, dan dilaporkan setiap saat Kemkes maupun Kementerian Perhubungan.

"Kita berdoa jangan sampai ada kasus positif. Tapi kita akan jujur informasikan apa yang terjadi, dan dari hasil pemeriksaan yang ada," kata Terawan.

Menkes mengatakan, pemerintah Indonesia sudah melakukan kesiapsiagaan tinggi tanpa menimbulkan kepanikan. Untuk mencegah virus ini mewabah di Indonesia, yang terpenting, seluruh masyarakat menjaga imunitas diri. Sebab, mudah tertular atau tidaknya serta tingkat keparahan penyakit akibat virus ini tergantung imunitas tubuh.

"Ini terbukti, bahwa dari 243 WNI kita yang sekarang ini terkurung di Provinsi Hubei dalam keadaan sehat. Padahal, mereka berada di pusat wabah dan kota di mana nCoV pertama kali ditemukan,” kata Menkes.



Sumber: Suara Pembaruan