Kemkes : 59 Kasus Diduga Virus Korona di Indonesia Negatif

Kemkes : 59 Kasus Diduga Virus Korona di Indonesia Negatif
Dua petugas medis berjalan usai melakukan observasi Warga Negara Indonesia (WNI) pascaevakuasi dari Wuhan, Hubei, China di Hanggar Pangkalan Udara Raden Sadjad, Ranai, Natuna, Kepulauan Riau, Selasa, 4 Februari 2020. ( Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww. )
Dina Mana / FMB Senin, 10 Februari 2020 | 20:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Novel coronavirus (nCoV) atau korona virus Wuhan semakin banyak menelan korban. Di Indonesia hingga hari ini belum dilaporkan kasus positif nCoV. Kementerian Kesehatan (Kemkes) melaporkan dari 62 spesimen suspect (diduga) nCoV yang diperiksa, 59 sudah keluar hasilnya dan negatif. Sementara tiga spesimen lainnya masih dalam proses pemeriksaan.

Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemkes), Achmad Yurianto mengungkapkan sampai saat ini tidak ditemukan satu pun kasus positif di Indonesia. Semua kasus yang diduga nCoV hasilnya negatif setelah dilakukan pemeriksaan spesimen oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis Balitbangkes Kemkes.

Setelah 14 Hari, WNI dari Tiongkok di Natuna Dipulangkan Lewat Jakarta

Tidak adanya kasus positif di Indonesia menimbulkan pertanyaan banyak kalangan. Bahkan sejumlah pihak menyangsikan kemampuan Indonesia dalam melakukan pemeriksaan nCoV. Menanggapi hal ini, Yurianto menjelaskan, memeriksa virus tidak sama dengan memeriksa golongan darah. Sebab spesimen terduga nCoV yang diperiksa adalah lendir saluran napas, bukan darah.

Sesuai standar WHO, pemeriksaan ini membutuhkan fasilitas minimal laboratorium dengan sertifikasi biosecurity safety level (BSL) 2 dan 3. Di Indonesia laboratorium yang memiliki sertifikasi level ini hanya ada tiga, yaitu Lembaga Penyakit Tropis Universitas Airlangga Surabaya dan Lembaga Eijkman memiliki BSL 2, sedangkan Balitbangkes Kemkes dengan BSL 3.

“Satu yang punya level 3 adalah Balitbangkes. Di tempat inilah semua pemeriksaan bisa dilakukan. Karena itulah semua pasien dari seluruh daerah dikirim ke Balitbangkes, dan sampai saat ini dari 62 yang diperiksa, 59 negatif,” kata Yurianto di Kantor Kemkes, Jakarta, Senin (10/2/2020).

Semua 78 WNI di Kapal Pesiar Diamond Pincess Negatif Corona

Yurianto menjelaskan, pemeriksaan spesimen pasien suspect dilakukan dua kali. Ada spesimen yang dikirim pada hari pertama dan kedua. Jika negatif, hasilnya dikirim kembali ke rumah sakit yang mengirim spesimen pasien tersebut. Kemudian Balitbangkes meminta rumah sakit untuk mengirimkan spesimen kedua di hari kelima dan keenam untuk diperiksa kembali.

Yurianto mengatakan, tidak semua pasien yang datang dari epicentrum nCov harus dilakukan pemeriksaan spesimen. Tidak semua yang mengalami flu juga harus dilakukan pemeriksaan serupa. Pemeriksaan hanya dilakukan terhadap mereka yang memenuhi kriteria klinis, yaitu influensa berat, seperti panas badan, bisa disertai gangguan bernapas atau napas tidak nyaman ditambah batuk. Sesuai standar WHO, selain menunjukkan gejala yang bersangkutan juga harus punya riwayat kontak dengan orang positif atau datang dari epicentrum nCoV.

Faktanya, kata Yurianto, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan secara detail hampir semua kasus disebabkan bakteri atau influenza biasa H1N1. Ini adalah influenza yang umum diderita oleh masyarakat Indonesia. Jenis influenza ini hanya dengan pemberian antibiotik pasien sembuh sendiri.

“Jadi meskipun gejalanya muncul seperti nCoV, tapi kalau sama sekali tidak ada riwayat kontak maka tidak dilakukan pemeriksaan. Karena banyak bukti bahwa kebanyakan virus yang manifes adalah H1N1,” kata Yurianto. 

Satu WNI di Natuna Sakit Karena Air Kotor, Bukan Virus Korona



Sumber: Suara Pembaruan