Nebivolol Dinilai Efektif Turunkan Prevalensi Hipertensi

Nebivolol Dinilai Efektif Turunkan Prevalensi Hipertensi
Presiden Direktur Menarini Indonesia, Reinhard Ehrenberger, bersama Anggota Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSH), dr Erwinanto, SpJP(K), di acara media briefing hasil penelitian studi Benefit di Seribu Rasa Menteng, Jakarta Pusat, Senin (24/2/2020). ( Foto: Beritasatu Photo / Feriawan Hidayat )
Indah Handayani / FER Senin, 24 Februari 2020 | 21:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Strok, penyakit jantung dan penyakit ginjal memiliki faktor risiko yang sama, hipertensi atau tekanan darah tinggi. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan, di Indonesia persentase jumlah orang dewasa yang memiliki peningkatan tekanan darah meningkat dari 8 persen pada 1995 menjadi 32 persen pada 2008.

Baca Juga: Jahe Merah Mampu Turunkan Hipertensi

Sementara itu, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 memperlihatkan, prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 34,1 persen, yang mengindikasikan adanya peningkatan penyakit kronis ini di Indonesia.

Pengurus Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Perhi), dr Erwinanto SpJP(K), menjelaskan, penderita penyakit hipertensi di Indonesia kerap menyebabkan strok.

"Kondisi ini berbeda dengan pengidap hipertensi di Amerika dan Eropa yang justru kerap mengalami jantung koroner sebagai imbas dari hipertensi," jelas dr Erwinanto di acara media briefing hasil penelitian studi Benefit di Jakarta, Senin (24/2/2020).

Menurut Erwinanto, jumlah penderita hipertensi di Asia Pasifik saja mencapai 65 persen dari total populasi dunia. Lebih dari tiga perempat kenaikan prevalensi hipertensi di Asia disebabkan oleh pertumbuhan populasi dan penuaan serta gaya hidup yang tidak sehat.

Baca Juga: Strok Mulai Menyerang Kalangan Usia Muda

"Meski nebivolol sudah terbukti efektif untuk penanganan pasien hipertensi, penelitian Benefit ini menunjukkan hasil yang sama efektifnya sebagai penelitian yang pertama kalinya dilakukan pada pasien Asia dalam jumlah yang besar," jelasnya.

Selain itu, dibandingkan dengan penghambat beta (beta-blocker) generasi sebelumnya, nebivolol memiliki profil efek samping yang lebih baik, termasuk efek yang tidak diharapkan terkait fungsi seksual.

Kedua sifat ini, yaitu tingkat efektivitas dan tolerabilitas, berperan penting agar pasien benar-benar mau mematuhi penanganan hipertensi yang dianjurkan.

"Penelitian ini dirilis di waktu yang tepat untuk membantu para dokter menangani pasien hipertensi di Indonesia," ujar dr Erwinanto.

Presiden Direktur Menarini Indonesia, Reinhard Ehrenberger, menambahkan, pihaknya berkomitmen melayani kebutuhan pasien di Asia yang masih be|um terpenuhi saat ini dan di masa depan. Komitmen ini mencakup identifikasi dan pengembangan solusi inovatif terkait kesehatan, sambil terus mendukung peneiitian baru.

"Dengan berbagi hasil penelitian Benefit ini, kami berharap bisa membantu para dokter di Indonesia dalam melayani pasien dengan memberikan mereka akses terhadap riset dan pengetahuan terbaru. Penelitian ini juga sejaian dengan panduan hipertensi ESC/ESH 2018 yang merekomendasikan penghambat beta dalam penanganan hipertensi," kata Reinhard.



Sumber: BeritaSatu.com