Menkominfo: Media Harus Menjaga Kerahasiaan Pasien Positif Virus Corona

Menkominfo: Media Harus Menjaga Kerahasiaan Pasien Positif Virus Corona
Dari kiri ke kana, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menkominfo Jhonny G Plate, dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menjawab pertanyaan wartawan seusai pertemuan dengan sejumlah pemimpin redaksi media massa di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa, 3 Maret 2020. ( Foto: BeritaSatu.com / Lenny Tristia Tambun )
Lenny Tristia Tambun / AO Rabu, 4 Maret 2020 | 01:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Dalam pertemuan dengan Forum Pemimpin Redaksi (Pemred), Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Jhonny G Plate meminta agar media massa selalu menjaga kerahasian data pribadi dua pasien yang telah dinyatakan positif terjangkit virus corona jenis baru (Covid-19).

“Harus kita jaga bersama-sama etika komunikasi. Jangan sampai hak privat, kerahasiaan pasien, itu juga diberitakan,” kata Jhonny G Plate seusai bertemu dengan sejumlah pemimpin redaksi media massa di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (3/3/2020) malam.

Ia mencontohkan, ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan dua WNI positif corona, tak berapa lama kemudian data terkait kedua pasien tersebut bocor ke tengah-tengah masyarakat. Publik menjadi tahu nama dan tempat tinggal keduanya yang berdomisili di Depok.

“Ini contoh yang terjadi. Ini pelajaran yang baik untuk tidak kita ulangi. Jaga betul etika komunikasi,” ujar Jhonny G Plate.

Selain itu, dalam pertemuan tersebut, media juga diminta untuk menangkal berita-berita bohong yang beredar di masyarakat. Selain merugikan diri sendiri, berita bohong juga merugikan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Apalagi, ujar Menkominfo, saat ini aparat kepolisian sudah mengambil langkah-langkah tegas untuk penindakan berita-berita bohong seputar virus corona dengan sanksi hukum pidana maupun sanksi denda.

Untuk menangkal berita dan informasi bohong itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) telah melakukan kerja sama dengan platform Facebook, Youtube, dan Twitter. Kemkominfo meminta ketiga platform sosial media ini untuk mencabut semua berita yang dikategorikan bohong (hoax) dan disinformasi.

“Pada saat yang sama, kami juga berkomunikasi dengan Polri untuk mengambil langkah-langkah sesuai dengan amanat undang-undang (UU) agar kita bersama-sama sukses mengawal dan menjaga serta menjadi perisai bangsa dan negara kita,” kata Jhonny G Plate.

Menkomifo mengatakan, diskusi bersama Forum Pemred merupakan acara untuk berbagi informasi untuk bersama-sama menjaga ruang publik. Tujuannya agar Indonesia bisa mengendalikan penyebaran Covid-19 dan media massa bisa menjadi perisai untuk bangsa dan negara.

“Tadi, kami sama-sama berdiskusi, Ibu Pertiwi memanggil kita semuanya untuk menjaga bangsa kita dari penyebaran lebih luas Covid-19. Begitu juga dari dampak Covid-19 yang memengaruhi perekonomian, politik, dan berbagai aspek kehidupan masyarakat,” kata Jhonny G Plate.

Ditegaskan, pesan Presiden Jokowi sangat jelas bahwa masyarakat tetap waspada tetapi tidak panik. Jangan melakukan tindakan yang mengakibatkan ketakutan, sebab pemerintah secara sungguh-sungguh, serius, terukur, dan mengambil kebijakan-kebijakan yang telah dibicarakan dan didiskusikan secara matang.

“Kesiapan pemerintah dan semua sumber yang ada di pemerintahan, semua digunakan. Baik rumah sakit, tersedianya paramedis, laboratorium, dan semua yang terkait dengan penanganan penyakit dari sisi medis,” papar Jhony G Plate.

Di sisi lain, pemerintah juga mengerahkan seluruh instrumen negara untuk mengambil langkah-langkah relaksasi kebijakan. Tujuannya agar dapat menjaga stabilitas perekonomian Indonesia juga menjaga sistem pembayaran yang ada di Indonesia.

“Jadi, pemerintah melakukan dengan sungguh-sungguh. Sekali lagi, pesan kita untuk bersama-sama bahwa jangan berbuat yang mengakibatkan masyarakat panik. Meski demikian, kita tetap harus waspada,” tegasnya.



Sumber: BeritaSatu.com