Obat Corona dari Herbal Masih dalam Proses Riset

Obat Corona dari Herbal Masih dalam Proses Riset
Pedagang menunjukkan temulawak dan jahe. ( Foto: Antara / Asprilla Dwi Adha )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Rabu, 11 Maret 2020 | 21:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menghadapi wabah corona, masyarakat banyak beralih ke ramuan herbal yang berasal dari bahan alami. Ramuan ini dipercaya bisa membuat tubuh mampu menangkis virus tersebut.

Sayangnya, saat ini, pengembangan bahan alam asli Indonesia masih sebatas sebagai antioksidan dan pencegahan penyakit level dasar. Riset bahan alam tersebut umumnya hanya sebagai penambah daya tahan tubuh.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko mengatakan, saat ini LIPI sudah mengembangkan berbagai jenis suplemen berbasis kekayaan hayati lokal Indonesia.

"Khususnya ada di Pusat Penelitian Kimia, Pusat Penelitian Bioteknologi, dan Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam," katanya kepada Beritasatu di Jakarta, Rabu (11/3).

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga sudah melakukan riset bahan alam untuk obat herbal terstandar. Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT Soni Solistia Wirawan berpendapat, obat penyembuh memang membutuhkan waktu lama untuk pengembangannya.

"Kalau untuk suplemen kita bisa selaraskan dengan program pengembangan obat herbal. Di BPPT, khususnya di tempat kami, ada kegiatan pengembangan obat herbal," katanya kepada Beritasatu.

Selain itu BPPT juga mendata berbagai jenis tanaman yang berpotensi untuk dimanfaatkan menjadi obat herbal. Beberapa tanaman seperti sambung nyawa dan kelor sedang diteliti khasiatnya untuk dikembangkan menjadi obat herbal.

Terkait dengan merebaknya virus corona, sekarang ramai dibicarakan khasiat empon-empon (ramuan herbal yang terdiri dari jahe, temulawak, kunyit) yang dapat memberikan khasiat meningkatkan daya tahan tubuh.

"Pak Menteri (Menteri Riset dan Teknologi) meminta kita menguji secara ilmiah atau klinis khasiat dari obat-obat herbal tersebut dan diharapkan dalam jangka pendek, dapat menemukan lagi obat-obat yang dapat digunakan sebagai suplemen daya tahan tubuh," ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Yenny Meliana. Ia mengungkapkan, suplemen daya tahan tubuh yang sudah dihasilkan oleh peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI adalah tablet hisap pace dari ekstrak mengkudu. Bahan alam ini berguna sebagai antioksidan dan antihipertensi.

"Kalau untuk antivirus kami belum ada. Yang sedang jalan adalah membuat untuk hepatoprotektor (pembengkakan hati) dari ekstrak pegagan. Ada juga suplemen kapsul curcumin (kunyit) untuk antioksidan dan akan dikembangkan ke arah antivirus," paparnya ketika dihubungi Beritasatu.

Riset bahan alam tersebut masih dalam tahap kerja sama pengembangan dengan industri seperti Nucleus Farma. Yenny berharap, ke depannya pemanfaatan sumber daya alam lokal untuk tindak preventif (pencegahan) dan kuratif (pengobatan) berbagai penyakit dapat dimasifkan. Hal itu sekaligus juga untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat. Saat ini, bahan baku obat di Indonesia hampir 90% lebih berasal dari impor.

Sementara itu, untuk produksi massal pihak industri, Yenny menyebut, bisa dilakukan setelah fasilitas Cara Pembuatan Obat Tradisional milik LIPI sudah tersertifikasi Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Vaksin

Sebelumnya, Menteri Riset Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN), Bambang Soemantri Brodjonegoro, meminta lembaga riset untuk lebih dulu menemukan suplemen daya tubuh terhadap virus. Setelah itu, dalam jangka panjang harus ada riset pengembangan vaksin khususnya vaksin korona.

Bambang mendorong Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Lembaga Pemerintah Nonkementerian (LPNK) di lingkungan Kemristek/BRIN untuk membuat time frame atau perencanaan waktu dalam pencegahan dan penanganan penyakit virus corona (Covid-19).

Suplemen penguat daya tahan pasien corona serta obat terhadap gejala dan vaksin corona ditargetkan menjadi hasil dari kerja sama riset tersebut.

"Ada jangka yang mungkin lebih panjang. Misalkan obat harus melalui uji klinis, tidak mungkin waktunya cepat apalagi vaksin. Saya tidak tahu apakah vaksin bisa cepat, tergantung apakah virus Covid-19 sudah bisa diisolasi atau belum. Kita bisa fokus pada bagaimana memperkuat daya tahan tubuh, apakah dalam bentuk suplemen, apakah dalam bentuk obat bebas," ungkap Menristek.

Ia mengungkapkan, suplemen dapat menjadi harapan bertahan hidup bagi pasien yang sudah positif terinfeksi corona. Dengan begitu, riset jangka pendek dapat difokuskan untuk menemukan suplemen penguat daya tahan tubuh terhadap gejala mematikan yang ditimbulkan corona.

Setelah suplemen ditemukan, target berikutnya adalah mencari vaksin untuk pencegahan corona bagi masyarakat yang belum terinfeksi virus corona tersebut.



Sumber: BeritaSatu.com