Virus Corona Resmi Pandemik, Apa Bedanya dengan Epidemik?

Virus Corona Resmi Pandemik, Apa Bedanya dengan Epidemik?
Seorang petugas kesehatan mengawasi antrean kendaraan masyarakat yang ingin melakukan tes COVID-19 di Denver, Colorado, AS, 12 Maret 2020. Layanan tes ini digelar gratis kepada warga yang memenuhi persyaratan tertentu dibuktikan dengan pengantar dari dokter. ( Foto: AFP )
Heru Andriyanto / HA Jumat, 13 Maret 2020 | 04:45 WIB

Beritasatu.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya resmi menyatakan wabah virus corona atau penyakit Covid-19 sebagai sebuah pandemik, Rabu (11/3/2020) lalu, atau lebih dari dua bulan sejak wabah ini mulai terdeteksi di Tiongkok.

Terlepas dari kurun waktu yang cukup lama itu, status pandemik tidak ada kaitannya dengan perubahan karakteristik penyakit dimaksud, misalnya penyakit yang makin ganas dibandingkan sebelumnya.

Pandemik lebih terkait pada geografis penyebarannya. Secara sederhana, makna pandemik adalah wabah suatu penyakit baru yang menyebar di berbagai negara dalam waktu yang sama.

Menurut WHO, status pandemik ditetapkan jika sebuah penyakit baru yang belum ada penangkal kekebalannya menyebar ke berbagai wilayah dunia tanpa diduga.

Saat ini tercatat ada lebih dari 118.000 kasus Covid-19 di sedikitnya 114 negara, dan menewaskan lebih dari 4.000 orang.

Bagaimana WHO menetapkan status pandemik?
Pandemik tidak bisa ditetapkan hanya karena seseorang yang melancong ke luar negeri tertular penyakit, atau orang di dalam negeri tertular oleh pelancong yang baru pulang dari negara lain.

Harus ada gelombang wabah kedua yang membuat orang-orang dalam sebuah komunitas tertular penyakit yang sama di antara mereka sendiri.

Begitu status pandemik ditetapkan, pemerintah dan sistem layanan kesehatan harus memastikan bahwa mereka siap menangani wabah yang meluas.

Apa bedanya dengan epidemik?
Epidemik bermakna sebagai lonjakan kasus penyakit yang khas di sebuah komunitas atau negara tertentu. Misalnya, demam berdarah dengue di Indonesia.

Jika status epidemik ditetapkan, artinya jumlah orang yang terkena penyakit tersebut meningkat sangat tajam dalam kurun waktu yang pendek.

Kapan status pandemik bisa ditetapkan?
Hanya WHO yang bisa memutuskan hal ini. Tidak ada ambang batas tertentu, misalnya jumlah kematian atau penderita penyakit tersebut, atau jumlah negara yang terdampak.

Contohnya, wabah severe acute respiratory syndrome (SARS) atau sindrom pernapasan akut pada 2003 tidak ditetapkan sebagai sebuah pandemik meskipun melanda 26 negara. Wabah itu, yang juga disebabkan oleh salah satu tipe virus corona, bisa cepat ditangani dan hanya sedikit negara yang terkena dampak parah.

Deklarasi pandemik bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan global terhadap penyebaran suatu penyakit, tetapi juga bisa menimbulkan efek yang tidak diinginkan: kepanikan global.

Pada 2009, ketika dinyatakan pandemik flu babi atau swine flu, banyak negara menghamburkan dana tak perlu untuk menyiapkan obat anti-virus dan menambah layanan di unit gawat darurat. Gejala virus corona umumnya ringan dan sebagian besar penderita bisa sembuh dalam enam hari.

Setelah resmi pandemik, apa selanjutnya?
WHO telah menekankan bahwa istilah “pandemik” tidak mengubah pendekatannya terhadap upaya menangani Covid-19.

Sama seperti sebelumnya, WHO menyerukan kepada semua negara di dunia untuk “mendeteksi, menguji, merawat dan mengisolasi pengidap Covid-19, melacak sumber penularannya, dan memobilisasi masyarakat untuk mencegah penularan lebih lanjut.”

Menurut Dr Nathalie MacDermott, peneliti di National Institute for Health Research, King’s College di London, istilah itu hanya formalitas saja karena dalam beberapa pekan terakhir dunia sudah diminta bersiap menghadapi pandemik Covid-19.

“Namun, penggunaan istilah ini menggarisbawahi pentingnya semua negara di dunia untuk saling akur dan terbuka, dan bersatu dalam upaya mengendalikan situasi sekarang,” ujarnya.



Sumber: The Guardian