Putus Mata Rantai Sebaran Corona, Pemerintah Serukan Physical Distancing

Putus Mata Rantai Sebaran Corona, Pemerintah Serukan Physical Distancing
Doni Monardo. ( Foto: Antara )
Lenny Tristia Tambun / CAH Rabu, 25 Maret 2020 | 18:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Hingga saat ini, kasus positif corona di Indonesia sudah mencapai 790 orang. Melihat jumlah penduduk Indonesia yang terpapar virus corona semakin meningkat dari hari ke hari, maka Pemerintah tidak lagi menyerukan imbauan social distancing (pembatasan sosial) tetapi kini menekankan physical distancing atau pembatasan kontak fisik.

Alasannya penularan virus antara manusia dengan manusia cukup tinggi.

Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan imbauan tersebut sudah disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menggelar rapat online dengan 34 Gubernur di Indonesia dari Istana Merdeka, Jakarta, beberapa hari lalu.

Seluruh gubernur mendukung keputusan pemerintah dalam hal menyerukan physical distancing di seluruh wilayah mereka.

"Seluruh gubernur mendukung keputusan pemerintah dalam mengambil kebijakan yang oleh Bapak Presiden diterjemahkan menjadi physical distancing," kata Doni Monardo, Rabu (25/3/2020).

Baca JugaPhysical Distancing, PLN Jakarta Raya Minta Pelanggan Laporkan Pemakaian Listrik Lewat Online

Dengan imbauan ini, lanjut Doni Monardo, presiden menekankan agar penerapan physical distancing ini bisa diterapkan dengan baik, yakni dengan menjaga jarak aman dan disiplin melaksanakannya.

"Bapak presiden menekankan agar physical distancing ini bisa diterjemahkan oleh para gubernur termasuk seluruh pejabat yang ada di daerah dengan jaga jarak atau jaga jarak aman dan disiplin untuk melaksanakannya," ujar Doni Monardo.

Imbauan physical distancing ini, tidak hanya berlaku di tempat umum, tetapi juga berlaku di seluruh rumah tangga dan keluarga. Pasalnya belum tentu seluruh anggota keluarga aman dari virus corona, meskipun belum ada satu anggota keluarga yang dinyatakan terpapar virus corona.

"Oleh karenanya, penjelasan secara terus menerus tentang pentingnya jaga jarak dan diikuti disiplin yang tinggi harus menjadi prioritas dalam setiap kesempatan," terang Doni Monardo.

Baca Juga: Jokowi: Social Distancing Membutuhkan Kedisiplinan Warga

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini mengharapkan imbauan physical distancing ini tidak dianggap enteng atau sepele oleh masyarakat. Justru diharapkan dengan adanya imbauan ini, prosedur protokol kesehatan dengan pencegahan benar-benar ditaati.

"Jaga jarak, jangan berdekatan, hindari kerumunan. Ketika bepergian pun, apabila tangan disengaja atau tidak disengaja menyentuh sesuatu jangan coba-coba memegang mata, hidung, mulut. Apabila ingin memegang mata hidung mulut, harus dan wajib mencuci tangan lebih dulu," tuturnya.

Agar imbauan ini sampai ke kelompok masyarakat, maka presiden sudah memerintahkan Gubernur untuk memberikan penjelasan mengenai physical distancing ini sampai ke tingkat kelompok masyarakat paling rendah, yakni desa dan kelurahan.

"Gubernur diminta harus melibatkan semua potensi yang ada di kelurahan, seperti PKK, Karang Taruna, Posyandu, RT/RW, termasuk juga relawan-relawan yang diorganisir. Saatnya kita saling bahu membahu dan saling menolong," jelas Doni Monardo.

Tidak hanya itu, setiap pejabat di daerah harus mampu menyampaikan informasi mengenai ancaman yang semakin serius dari wabah virus corona ini dan caranya supaya bisa selamat.

"Tapi informasi itu upayakan tidak membuat panik, melainkan memberikan semangat agar kita bisa terhindar dari wabah ini. Salah satunya adalah memakan makanan bergisi, menjaga perasaan supaya hati tetap tenang dan senang, pikiran juga tidak boleh terlalu banyak, dengan begitu imunitas tubuh menjadi bagus. Sehingga saat berpapasan dengan masyarakat yang terlanjut positif, kita punya daya tahan yang lebih baik," papar Doni Monardo.

 



Sumber: BeritaSatu.com