Bantah Hoaks, Imboost Tidak Picu Reaksi Imun Berlebihan

Bantah Hoaks, Imboost Tidak Picu Reaksi Imun Berlebihan
Ilustrasi pemberian infus vitami untuk meningkatkan imunitas tubuh. (Foto: istimewa)
Rully Satriadi / RSAT Minggu, 29 Maret 2020 | 19:30 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perusahaan farmasi SOHO Global Health membantah kabar hoaks yang menyebut Imboost bisa menyebabkan reaksi imun yang berlebihan. Pesan gambar yang beredar sejak 24 Maret lalu tidak memiliki rujukan klinis yang valid.

Demikian disampaikan Vice President Research & Development and Regulatory SOHO Global Health Raphael Aswin Susilowidodo dalam keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com, Minggu (29/3/2020).

Aswin menjelaskan Echinace purpurea yang terkandung dalam Imboost dan Imboost Force memiliki manfaat sebagai immunomodulator, yang berarti Echinacea dapat mengatur kerja sistem imun tubuh. Echinace purpurea memainkan fungsi yang dapat menyesuaikan kebutuhan tubuh ketika sehat dan ketika menderita infeksi.

Menurut Aswin, pada tubuh orang sehat Echinacea berperan meningkatkan pertahanan tubuh dengan meningkatkan kerja imun tubuh seperti fagositosis, natural killer cell yang diperlukan tubuh untuk mengeliminasi benda asing/patogen yang masuk seperti virus/bakteri.

“Kandungan Echinacea purpurea extract pada Imboost telah terbukti secara klinis dapat memodulasi sistem daya tahan tubuh dan mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Sementara zinc picolinate berperanan aktif dan bekerja sinergis pada sistem daya tahan tubuh,” ujar Aswin.

Imboost dan Imboost Force telah melalui pengujian keamanan, efikasi, bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, serta telah terdaftar dan mendapatkan izin edar dari Badan POM. Imboost dan Imboost Force telah dipasarkan selama hampir 20 tahun di Indonesia, secara umum dinyatakan aman untuk dikonsumsi dan bermanfaat bagi daya tahan tubuh, jika di gunakan sesuai dengan aturan pakai. Imboost dan Imboost Force bisa digunakan secara rutin selama 8 minggu sesuai aturan pakai di kemasan.

Agus Joko Susanto dari Fellow of the Indonesian Society of Internal Medicine (Finasim) menyatakan sistem imun tubuh manusia sangat kompleks. Sistem imun menurut Agus terbagi dalam sistem imun inate dan adaptif. Sistem imun akan berada dalam kondisi homeostasis (seimbang) selama tubuh manusia sehat.

Sementara imunomodulator terbagi tiga, yaitu sebagai imunostimulator, imunsupresor dan imunoregulator. Ketiganya saling mengontrol dan saling menyeimbangkan. Apabila jumlah salah satunya rendah, maka jumlah imunomudulator lain akan naik, begitu pun sebaliknya hingga kondisi tubuh mencapai seimbang.

“Kekhawatiran sistem imun akan over stimulasi bila diberikan imunostimulan dari luar tidak sepenuhnya benar, karena ketiga hal tersebut di atas yang akan mengatur untuk menuju homeostasis,” ujar Agus.

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Inggrid Tania juga menegaskan bahwa pesan gambar yang menyatakan Echinacea dan propolis sebagai kontra-indikasi terhadap Covid-19 adalah keliru atau hoaks.

Inggrid menyatakan suplemen kesehatan, termasuk suplemen herbal Echinacea dan propolis yang mempunyai izin edar Badan POM telah melalui pengujian keamanan sehingga masyarakat umum dinyatakan aman untuk mengonsumsinya.

Inggrid menjelaskan Echinacea secara pengalaman empiris telah digunakan selama ratusan tahun oleh masyarakat dunia, terutama masyarakat Barat. Adapun tujuannya untuk memelihara kesehatan, meningkatkan kekebalan tubuh, meredakan nyeri dan mengurangi gejala common cold (selesma) dan flu (empirical experiential evidence).

"Berbagai penelitian in-vitro dan praklinis di dunia terhadap Echinacea menunjukkan bahwa Echinacea bersifat anti-inflamasi (antiperadangan), antioksidan, dan imunomodulator," ujar Inggrid.



Sumber: BeritaSatu.com