Mengapa Tes Massal Covid-19 Penting Dilakukan?

Mengapa Tes Massal Covid-19 Penting Dilakukan?
Ilustrasi pemeriksaan Covid-19 di laboratorium. (Foto: AFP)
Aditya L Djono / ALD Rabu, 8 April 2020 | 09:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pelaksanaan tes virus corona secara massal menjadi tantangan pemerintah ke depan. Sebab, saat ini Indonesia menghadapi lonjakan kasus positif Covid-19, dengan jumlah warga yang menjalani swab test sangat minim, jauh di bawah negara-negara dengan jumlah kasus positif yang sama.

Hingga Selasa (7/4/2020), mengutip data Worldometer, dengan jumlah kasus positif sebanyak 2.738, baru 14.354 orang di Indonesia yang menjalani tes, atau setara 52 orang per 1 juta penduduk. Dikhawatirkan, jumlah kasus positif di Indonesia sebenarnya sudah belipat-lipat dari jumlah yang terdeteksi saat ini, lantaran pola penyebaran virus dan penambahan kasus yang bergerak eksponensial.

Persoalan utama yang dihadapi saat ini adalah pelaksanaan swab test masih belum tampak ada akselerasi. Akibat minimnya warga yang dites, upaya memutus mata rantai penyebaran belum optimal. Dikhawatirkan, lebih banyak warga yang positif terinfeksi namun belum terdeteksi lantaran belum menjalani tes.

Di sinilah bahayanya. Apalagi mulai ada kategori orang tanpa gejala (OTG), atau orang yang terpapar namun tidak didahului oleh gejala-gejala yang selama ini menjadi pengetahuan publik, seperti batuk, demam, dan sesak napas. Ibarat bom waktu, warga semacam ini sangat berpotensi menjadi penular ke keluarganya dan lingkungan sekitarnya.

Sebaliknya, jika semakin banyak orang yang menjalani tes dan terkonfirmasi positif, otomatis akan ada tindakan medis yang diberikan. Mereka akan menjalani protokol yang telah ditetapkan, baik dirujuk di rumah sakit maupun menjalani karantina mandiri secara ketat di bawah pengawasan tenaga kesehatan. Selain itu, lingkungan sekitar juga akan menyesuaikan dengan lebih memperketat physical distancing antarwarga. Dengan demikian, upaya memutus mata rantai penularan menjadi lebih efektif.

Dengan kata lain, semakin cepat pemerintah mampu menyelenggarakan swab test secara massal, upaya penanganan akan lebih cepat dapat dilakukan. Masyarakat pun tidak perlu berlama-lama berada dalam ketidakpastian. Dampak penyebaran Covid-19 ke sendi kehidupan lain, terutama ke sektor ekonomi, tidak berlangsung lama. Ekonomi akan cepat pulih.

Pengalaman Negara Lain
Tiongkok bisa menjadi contoh, dalam tempo tiga bulan mampu mengatasi penyebaran virus corona. Pertambahan kasusnya pun semakin mengecil. Dalam tempo kurang dari sebulan terakhir, Tiongkok yang semula merupakan negara dengan jumlah kasus terbanyak, kini berada di posisi keenam, disalip AS, Spanyol, Italia, Prancis dan Jerman. Jumlah kasus di Tiongkok relatif “stabil” di angka 81.000 orang. Sedangkan, lima negara lainnya jumlah kasusnya melesat menembus 100.000, bahkan AS sudah hampir mencapai 400.000 kasus positif.

Selain upaya-upaya physical distancing yang dilakukan secara ketat melalui kebijakan karantina (lockdown), salah satu kunci sukses Tiongkok adalah tes Covid secara massal di awal-awal penyebaran. Dalam tempo dua pekan dari akhir Januari hingga pertengahan Februari, sedikitnya 320,000 warga menjalani tes. Saat banyak negara belum menganggap serius ancaman penyebaran Covid-19, Tiongkok bergerak cepat menyelamatkan warganya.

Kini, di saat ratusan negara bergelut melawan virus corona, Tiongkok boleh merasa lega. Pekan ini, kegiatan mulai pulih. Kantor-kantor mulai buka, warga mulai bekerja, dan roda perekonomian kembali bergerak.

Selain Tiongkok, negara lain yang dianggap sukses menekan jumlah kasus di masa-masa awal penyebaran adalah Korea Selatan (Korsel). Jauh sebelum AS, Spanyol, Italia, Prancis, dan Jerman menjadi lima besar negara terserang Covid-19, dunia sempat mengkhawatirkan Korsel.

Namun, negeri ginseng itu mampu memangkas kurva penyebaran sehingga tidak terjadi lonjakan kasus secara dramatis. Kuncinya, lagi-lagi tes massal. Di masa awal penyebaran virus, Korsel langsung menggelar rapid test massal terhadap 300.000 warga, dan menjadi pionir dengan melakukan tes secara drive-thru ala restoran cepat saji. Berkat rapid test massal, dalam tempo cepat bisa terdeteksi berapa banyak warga yang terpapar, sehingga pemerintah Korsel bisa segera memberi tindakan medis dan upaya pencegahan lainnya.

Korsel mampu mengendalikan penyebaran Covid-19 tanpa kebijakan lockdown. Dampaknya, kehidupan warga tampak berjalan normal. Lusinan orang tetap tenang mengantre di apotek untuk membeli masker setiap pekan, dan banyak warga yang bekerja dari rumah. Bisnis tetap berjalan dan kota-kota tidak dikarantina oleh pemerintah. Pemerintah cukup memperketat pemeriksaan perbatasan untuk menekan kasus impor Covid-19.

Kontras dengan pemandangan panic buying yang terjadi di beberapa negara yang terpukul virus corona, tidak ada laporan penimbunan bahan pokok di Korsel. Justru yang umum terlihat adalah antrean orang untuk mengikuti tes massal Covid-19 atau membeli masker wajah.

Tenda-tenda pengujian Covid-19 menjadi pemandangan lazim di jalanan. Di parkir mobil di belakang sebuah rumah sakit di Seoul, Rachel Kim (45) memutuskan melakukan tes drive-thru karena menderita demam dan batuk sepulang dari Daegu. Kim tidak perlu turun dari mobil, hanya cukup menurunkan kaca mobilnya dan menjulurkan lidahnya untuk diusap bagian belakang mulut dan tenggorokan.

Sejak Korsel mengonfirmasi kasus pertamanya pada 20 Januari, otoritas kesehatan negara itu langsung beralih kepada teknologi, pengujian secara agresif, dan pemberlakuan jarak sosial sebagai upaya menahan wabah. Tingkat kematian akibat Covid-19 di Korsel juga tercatat salah satu yang terendah yaitu sekitar 1%.

Kini, seiring dengan terus melonjaknya jumlah kasus di AS dan negara-negara Eropa, Koresel menginisiasi tes walk-thru di Bandara Internasional Incheon. Inovasi itu dilakukan untuk mencegah kasus impor Covid-19 di Korsel.

Percepat Tes Massal
Menyadari pentingnya tes, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Senin (6/4/2020) menginstruksikan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 segera mempercepat uji laboratorium, agar penyebaran kasus di Indonesia segera terpetakan. “Mengenai kecepatan, saya betul-betul meminta agar tes PCR (polymerase chain reaction), rapid test, harus menjadi bagi prioritas orang-orang berisiko tinggi, baik itu dokter dan keluarganya, PDP (pasien dalam pengawasan), dan ODP (orang dalam pemantauan). Kita harapkan dengan kecepatan itu kita bisa mengetahui siapa yang telah positif dan siapa yang negatif,” ujar Presiden.

Persoalannya, pelaksanaan swab test dengan metode PCR terkendali jumlah dan kapasitas peralatan dan laboratorium penguji. Untuk itu, pemerintah didorong untuk mempercepat rapid test dengan sampel darah. Dorongan ini antara lain disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, pada Jumat (3/4/2020) lalu. Di Jabar, hingga akhir pekan lalu telah dilakukan rapid test terhadap sekitar 15.000 warga. Hasilnya, 677 orang dinyatakan positif.

Dia memperkirakan, di seluruh Indonesia baru dilakukan rapid test terhadap sekitar 60.000 orang. Jumlah itu masih jauh dari ideal. Di DKI Jakarta, dengan jumlah kasus terbanyak, yakni mencapai lebih dari 1.300 orang, baru sekitar 20.000 yang menjalani rapid test. Dengan jumlah penduduk 260 juta orang, setidaknya 2 juta orang harus menjalani rapid test.


Meskipun belum seratus persen akurat, hasil rapid test dengan sampel darah setidaknya memberi gambaran pola sebaran kasus Covid-19, sehingga pemerintah bisa merumuskan pola tindak di tiap-tiap wilayah. Dengan demikian penanganannya bisa lebih cepat dan optimal.

Mengapa rapid test dengan sampel darah belum sepenuhnya akurat? Sebab, ini merupakan sekadar upaya awal untuk mendeteksi antibodi dan antigen yang diproduksi seseorang untuk melawan Covid-19. Antibodi menunjukkan bahwa seorang terpapar virus. Hasil rapid test menyatakan negatif, tidak berarti orang tersebut tidak terpapar Covid-19. Sebaliknya, hasil positif juga belum menjamin yang bersangkutan positif terinfeksi.

Untuk itu, diperlukan tes lanjutan yang lebih akurat (golden test) yakni swab test yang memiliki presisi tinggi. Caranya melalui pengambilan dahak atau lendir di pangkal hidung untuk diteliti di laboratorium yang memiliki real-time polymerase chain reaction (RT-PCR).

Selain rapid test dan swab test, pemerintah juga menambah jenis tes pemeriksaan virus corona dengan tes cepat molekuler (TCM). Jenis tes ini biasa digunakan untuk pasien penyakit tuberkolosis (TB). Nantinya, TCM memanfaatkan mesin laboratorium yang selama ini digunakan untuk pemeriksaan TB, dengan terlebih dahulu mengkonversi sejumlah komponennya.

Dengan TCM ini, diharapkan mampu mengakselerasi jumlah warga yang dites, mengingat fasilitas laboratoriumnya sudah tersebar di banyak fasilitas kesehatan, bahkan hingga tingkat puskesmas.

Memang tidak semua warga harus menjalani tes. Sebab, hal itu jelas tidak memungkinkan. Pemerintah telah menetapkan prioritas yang harus menjalani tes tersebut adalah OTG, ODP, dan PDP. Selain itu, dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya yang selama ini menangani pasien Covid-19 dan keluarganya, juga termasuk dalam kategori prioritas menjalani tes.

“Kita tidak akan pernah bisa memadamkan api dengan mata tertutup. Pandemi corona tidak akan mungkin dihentikan jika kita tidak tahu siapa saja yang terinfeksi,” kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

“Pesan kami sederhana. Lakukan tes sebanyak mungkin. Periksa semua ODP,” tegasnya. 

Dengan demikian, tes corona secara massal sangat penting dilakukan hingga menjangkau sebanyak-banyaknya populasi. Sekali lagi, itu satu-satunya cara untuk memitigasi dan memutus mata rantai penyebaran.



Sumber: BeritaSatu.com