Radiasi Nuklir Bantu Temukan Vaksin Covid-19

Radiasi Nuklir Bantu Temukan Vaksin Covid-19
Ilustrasi Vaksin Covid-19 ( Foto: AFP )
Ari Supriyanti Rikin / WBP Kamis, 9 April 2020 | 10:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) siap memberikan dukungan pembuatan vaksin corona (covid-19) dengan teknologi radiasi nuklir. Saat ini konsorsium riset teknologi (ristek) untuk penanganan covid-19 yang terdiri lembaga penelitian dan pengembangan (litbang), perguruan tinggi dan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) sedang melakukan riset untuk menemukan alat deteksi cepat virus, obat, hingga vaksin.

Dia mengatakan, vaksin merupakan zat yang mengandung bakteri atau virus yang mati atau dilemahkan dan dapat dijadikan pemicu meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit tertentu. Pemberian vaksin dianggap sebagai cara efektif untuk menghindari sebuah penyakit, di antaranya tetanus, tifus, polio dan lainnya.

"Ketika vaksin dimasukkan ke dalam tubuh, sistem keamanan tubuh yang bernama sel limfosit, merespons dengan memproduksi antibodi. Antibodi inilah akhirnya melawan virus dan memproteksi tubuh agar tidak mengalami infeksi," kata Peneliti Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) Batan Mukh Syaifudin di Jakarta, Kamis (9/4/2020).

Baca juga: Hadapi Virus Corona, Bill Gates Lebih Optimistis daripada Trump

Syaifudin menuturkan, teknologi nuklir dapat dimanfaatkan untuk membuat vaksin termasuk covid-19 dengan memanfaatkan radiasi sinar gamma. "Secara teknis fasilitas radiasi gamma dapat dimanfaatkan untuk membuat vaksin," ucapnya.

Menurut Syaifudin, maka dalam pembuatan vaksin diperlukan fasilitas pendukung seperti laboratorium bio safety level 3 (BSL 3) dan alat pelindung diri (APD) yang memadai selama preparasi.

Untuk membuat vaksin, kata Syaifudin, dapat dilakukan dengan beberapa metode, yakni pemberian bahan kimia seperti formalin, pemanasan, atau radiasi sinar gamma. Adapun tahapan pembuatan vaksin dengan memanfaatkan radiasi sinar gamma dimulai dari penyiapan sumber virus, melakukan radiasi, hingga pengujian efektivitas. Tahapan ini dapat dikatakan praklinis dan membutuhkan waktu 6 bulan hingga 1 tahun.

"Yang harus dipersiapkan tentunya tersedia vaccine seed atau virus itu sendiri yang ada di dalam inangnya yang pas, lalu dilakukan proses iradiasi, dan kemudian dilakukan pemurnian yang diikuti uji efektivitas baik pada kultur sel atau hewan coba atau sukarelawan," paparnya.

Menurutnya, radiasi sinar gamma dengan daya tembus yang besar dapat mengarah langsung ke asam nukleat tanpa merusak epitop di permukaan sel. Ha ini digunakan untuk melemahkan virus sehingga diharapkan dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangannya. "Karena ukurannya sangat kecil maka diperlukan intensitas radiasi hingga 50 kilogray untuk merusak asam nukleat agar virus tidak bisa memperbanyak diri," kata dia.

Ketika virus yang lemah dan tidak mampu memperbanyak diri serta tidak menimbulkan infeksi, maka akan memicu respons kekebalan tubuh dengan membentuk antibodi untuk menghadapi virus tersebut.

Dalam melakukan penelitian pembuatan vaksin malaria yang pernah dilakukan, Batan telah menggandeng beberapa stakeholder di antaranya veteriner Institut Pertanian Bogor, Naval Medical Reseacrh Unit (Namru - USA), Balitbang Kementerian Kesehatan, dan Lembaga Eijkman. 



Sumber: BeritaSatu.com