Tenaga Medis Covid-19 Berjuang Melawan Lelah Fisik dan Hoax

Tenaga Medis Covid-19 Berjuang Melawan Lelah Fisik dan Hoax
Perawatan pasien Covid-19 di Wisma Atlet, Jakarta. (Foto: Istimewa)
Dina Fitri Anisa / EAS Kamis, 16 April 2020 | 16:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Beban tanggung jawab tenaga medis yang menjadi garda terdepan melawan pandemi Covid-19 bukan hanya lelah fisik semata. Ternyata berdasarkan catatan diari para petugas medis di Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 Wisma Atlet, pikiran mereka pun lelah dengan banyaknya berita hoax yang tersebar luas di media sosial.

Mereka khawatir, jika berita tersebut dikonsumsi secara mentah-mentah oleh masyarakat, dan akhirnya menimbulkan kekacauan.

Seperti yang diceritakan oleh rekan kerja Jati Putama, dr Debryna Dewi Lumanauw di Instagram stories-nya. Beberapa kali ia menanggapi informasi keliru yang sedang ramai menjadi perbincangan. Salah satunya saat seorang warganet mengatakan RSD Wisma Atlet tidak memiliki pelayanan dan fasilitas yang baik untuk para pasien yang baru datang.

Ia mengatakan, memang benar adanya jika saat itu IGD penuh, dan antrean panjang. Untuk itu, para petugas pengamanan menyampaikan kepada masyarakat untuk kembali lagi esok harinya, atau beralih ke RS rujukan lainnya. Hal itu dilakukan agar masyarakat bisa mendapat tempat istirahat lebih nyaman, dibanding mengantre di ruang tunggu RSD Wisma Atlet.

"Saya tahu, betapa melelahkannya kejadian ini untuk kita semua. Kerugian atau kerusakan yang saat ini kita lihat, dan akan terus terlihat, lebih dari apa yang bisa ditanggung oleh siapa pun. Tetapi, ini semua sama seperti dalam skenario bencana alam ataupun terorisme. Apa yang benar-benar Anda ingin hindari adalah menciptakan ketakutan dan kecemasan bagi orang lain. Jadi, tolonglah," terang dr Debryna Dewi.

Selain itu, dr Debryna Dewi juga rajin memberikan informasi terkini mengenai pengalaman dan perkembangan yang terjadi selama ia bekerja. Seperti, mengedukasi masyarakat akan pentingnya menjalin komunikasi kepada pihak RS sebelum melakukan donasi alat pelindung diri (APD) untuk para petugas.

“Banyak orang baik yang mau donasi APD. Sayangnya, karena tenaga medis risiko terpaparnya tinggi, kita harus memakai APD yang mempunyai standar tertentu. Jadi banyak donasi yang tidak terpakai di sini,” tulis perempuan yang gemar membuat roti ini.

Akhirnya ia menjelaskan sebuah fakta lirih, salah satu cara agar mereka bisa menjaga ketersediaan APD cukup untuk seluruh petugas adalah dengan cara menahan tidak membuka APD selama jam bekerja. Fakta tersebut merujuk bahwa mereka harus menahan rasa lapar, haus, buang air kecil hingga buang air besar selama bekerja.



Sumber: BeritaSatu.com