Dokter Wuhan Sarankan Pasien Saraf Dites Covid-19

Dokter Wuhan Sarankan Pasien Saraf Dites Covid-19
Ilustrasi tes cepat Covid-19. (Foto: Antara)
Heru Andriyanto / HA Jumat, 8 Mei 2020 | 02:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Seorang pakar neurology atau sistem saraf yang bekerja di Rumah Sakit Union di kota Wuhan, Tiongkok, menyarankan agar pasien yang datang ke rumah sakit dengan keluhan gangguan saraf untuk lebih dulu menjalani tes Covid-19.

Alasannya karena infeksi virus corona juga bisa menyerang pusat saraf dan otot pasien, sehingga dokter tidak melakukan kesalahan diagnosa dan mencegah penularan Covid-19 kepada orang lain.

Hal tersebut disampaikan oleh neurologist Profesor Bo Hu, dalam diskusi lewat video yang digelar oleh Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan dan Rumah Sakit Siloam, Kamis (7/5/2020).

Perempuan itu mengatakan Wuhan menjadi episentrum wabah Covid-19 pertama di dunia dan banyak masalah terjadi di awal wabah karena banyaknya pasien yang datang dan terbatasnya tenaga medis serta daya tampung rumah sakit.

Wuhan adalah salah satu kota terbesar di dunia dengan penduduk 15 juta orang, ujarnya.

“Awal wabah terjadi pada 29 Januari dan kota kami harus ditutup,” kata Bo Hu.

Karena Covid-19 adalah penyakit yang baru sama sekali, banyak hal baru yang kemudian bisa dipelajari dan temuannya harus dibagikan ke negara-negara lain yang baru di masa pertengahan atau puncak wabah agar tidak mengulangi kesalahan diagnosa. 

“Selama periode itu kami berusaha mencari tahu. Ada 35 neurologist rekan saya yang berjuang di garis depan, dan kami menemukan satu hal khusus pada sistem neurology. Kami menganalisis data dan membahasnya,” kata Bo Hu.

“Temuan ini sudah kami terbitkan di JAMA Neurology pada 25 Februari,” kata Bo Hu.

JAMA Neurology adalah jurnal medis bulanan yang diterbitkan oleh American Medical Association.

Di awal wabah, sejumlah penelitian menyebutkan gejala umum Covid-19 yaitu demam, batuk, diare dan kelelahan. Tidak disebutkan bahwa Covid-19 juga menyerang sistem saraf.

Dalam hasil penelitian yang diterbitkan JAMA Neurology, seperti disimak redaksi, Bo Hu dan para neurologist lainnya melakukan penelitian sendiri dengan mengobservasi kasus-kasus positif Covid-19 antara 16 Januari dan 19 Februari di RS Union, Wuhan. Penelitian ini melibatkan 214 pasien Covid-19.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 78 pasien atau 36,4 persen mengalami gangguan sistem saraf.

Selanjutnya, untuk pasien Covid-19 yang berada dalam kondisi sangat parah, kasus-kasus gangguan sistem saraf itu makin banyak ditemukan, misalnya penyakit pembuluh darah otak (cerebrovascular) yang akut, yaitu 5 banding 1 pasien, kehilangan kesadaran (13 banding 3), dan cedera otot (17 banding 6).

Karena itu disimpulkan bahwa gangguan neurology juga merupakan gejala umum pasien Covid-19.

Selama pandemik Covid-19, para petugas medis yang menangani pasien saraf harus mencurigai kemungkinan Covid-19 untuk menghindari kesalahan diagnosa atau keterlambatan dalam mendeteksi infeksi virus corona ini, sehingga mereka tidak membuang kesempatan untuk bisa merawat secara tepat dan mencegah penularan lebih lanjut.

Lalu, apa saja yang termasuk gangguan neurology?

Ada tiga kategori utama gangguan saraf, yaitu gangguan pada sistem pusat saraf (pusing, kepala nyeri, kehilangan kesadaran, penyakit pembuluh darah otak yang akut, ataksia, kejang); gangguan sistem saraf periferal (hilangnya indera perasa, hilangnya indera pembau, hilangnya penglihatan, dan nyeri saraf); dan cedera otot yang melekat pada tulang.



Sumber: BeritaSatu.com