OTG Tanpa Masker Berpeluang Tulari Orang Lain

OTG Tanpa Masker Berpeluang Tulari Orang Lain
Ilustrasi warga mengenakan masker. (Foto: Antara)
Ari Supriyanti Rikin / IDS Minggu, 10 Mei 2020 | 18:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Di tengah masyarakat, keberadaan orang tanpa gejala (OTG) sangat sulit dibedakan karena tidak menunjukan gejala sakit meskipun di dalam tubuhnya sudah terinfeksi Covid-19. OTG ini sangat potensial menularkan virus ke lingkungan sekitarnya, apalagi jika tidak menggunakan masker.

Oleh sebab itu, untuk memutus rantai penularan, kepatuhan memakai masker dan perilaku hidup bersih harus dilakukan semua orang.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan, OTG tidak memberi gambaran orang itu sakit karena tidak panas dan tidak batuk. OTG yang berada di tengah masyarakat dan tidak memakai masker lalu berkontak dekat dengan kelompok rentan tentu berpotensi besar menularkan virus.

"Jika hal itu terjadi, ini dari hari ke hari terus kita dapatkan penambahan kasus positif baru," katanya dalam telekonferensi di Kantor BNPB, Jakarta, Minggu (10/5/2020).

Yurianto menegaskan, di tengah kondisi pandemi ini, masyarakat harus konsisten melindungi diri masing-masing dengan menggunakan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta membatasi diri keluar rumah dan menghindari kerumunan.

"Kita tidak pernah tahu, di luar sana siapa OTG yang membawa virus dan tidak menunjukkan gejala," ucapnya.

Ia menjelaskan, apabila ada seorang OTG kemudian tidak menggunakan masker, maka peluang orang tersebut menularkan virus ke orang lain dan mengkontaminasi benda-benda di sekitarnya mencapai 70%. Namun jika menggunakan masker, peluangnya hanya 5%.

Menurutnya, jika OTG memakai masker, semua percikan ludah saat ia bicara, batuk, dan bersin tertahan di masker dan tidak mencemari benda-benda di sekitarnya.

Ia juga mengingatkan agar kepatuhan menjaga jarak fisik saat berkomunikasi dengan orang lain juga harus dipatuhi. Selain itu juga upayakan tidak melakukan perjalanan kemanapun dan tidak mudik karena bisa saja tertular virus ketika dalam perjalanan.

Oleh karena itu, saat ini upaya melindungi diri melalui pembatasan sosial skala besar (PSBB) juga sudah diterapkan. Dalam kebijakan ini, masyarakat diminta tidak hanya melindungi diri tetapi juga melindungi orang lain.

Di kemudian hari nanti, jika memang sudah ditemukan vaksin, orang tidak perlu menghindar. Namun saat ini vaksin belum ditemukan dan belum ada orang yang kebal terhadap penyakit ini. Oleh karena itu, Yurianto meminta masyarakat untuk bersama bisa saling melindungi dan memutus rantai penularan Covid-19.

Hingga Minggu (10/5) lanjutnya, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat pemeriksaan spesimen sebanyak 157.769 dengan real time polymerase chain reaction dan didapati 13.879 positif dan 99.420 negatif. Kemudian dengan metode tes cepat molekuler (TCM) diperiksa 504 spesimen dan diketahui hasil positif 153.

Dengan adanya penambahan 387 kasus positif baru, maka total kasus positif Covid-19 hingga Minggu (10/5) mencapai 14.032. Kasus sembuh bertambah 91 menjadi 2.698 dan meninggal dunia bertambah 14 orang menjadi 973 orang. ODP tercatat mencapai 248.690 orang dan pasien dalam pengawasan 30.317 orang. Sebanyak 373 kabupaten/kota di 34 provinsi terdampak.



Sumber: BeritaSatu.com