James Riady Berikan Solusi untuk Tingkatkan Tes PCR

James Riady Berikan Solusi untuk Tingkatkan Tes PCR
Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan James Riady berfoto bersama dengan petugas medis dari Siloam Hospitals yang bertugas melaksanakan Rapid Test Covid-19 di Hari Buruh Internasional di Kementerian Tenaga Kerja RI, Jakarta, Jumat 1 Mei 2020. (Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah)
Heru Andriyanto / HA Kamis, 14 Mei 2020 | 04:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Pengusaha nasional James Riady menyampaikan sejumlah strategi yang bisa dilakukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 untuk meningkatkan jumlah tes diagnostik yang sangat krusial dalam upaya memutus mata rantai penularan penyakit ini.

Menurut Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Kesehatan dan Tenaga Kerja itu, sejumlah kendala yang selama ini menghambat dilakukannya tes secara massal bisa diatasi dengan cepat.

“Kapasitas testing ini suatu hal yang kelihatannya kompleks tapi sebenarnya enggak,” kata James dalam diskusi virtual berjudul “Gaduh Gara-gara Covid-19”, Rabu (13/5/2020).

Ada dua kendala utama yang menurut James bisa segera diatasi. Pertama adalah pasokan reagen, komponen yang dibutuhkan untuk melakukan tes polymerase chain reaction (PCR), metode yang saat ini dianggap paling akurat untuk mendeteksi infeksi virus corona.

Menurut James, Indonesia tidak perlu khawatir kekurangan reagen karena pasokan di dunia cukup banyak.

“Pengamatan kita sendiri sebenarnya reagen itu banyak sekali. Umpamanya di lab kita, kita ada 100.000 reagen,” kata James, yang juga CEO Lippo Group, kelompok usaha yang salah satunya mengendalikan jaringan Rumah Sakit Siloam di seluruh Indonesia dan sejumlah negara lain.

Masalahnya, menurut James, selama ini pemerintah terlalu fokus pada satu produk reagen buatan Roche.

“Selama ini dari sistem di Indonesia yang disetujui hanya reagen dari Roche. Karena selama ini hanya Roche yang mendaftar di Indonesia,” ujarnya.

“Tapi kita sendiri berpengalaman bahwa ada enam atau delapan [merek] reagen. Jadi kalau kita tidak kaku dengan satu reagen, kita membuka, ternyata banyak. Reagen sebenarnya not a problem [bukan masalah],” kata James.

Dia menambahkan bahwa saat ini berbagai laboratorium di Indonesia sudah mulai menggunakan reagen dari produsen lain sehingga kapasitas pengetesan mulai naik.

Kendala kedua adalah kurangnya tenaga laboratorium. Untuk mengatasi masalah ini, mau tidak mau pemerintah atau gugus tugas harus menyediakan anggaran untuk merekrut tenaga baru dan memberi insentif, kata James.

James mengatakan ada cukup banyak petugas laboratorium dan microbiologist di Indonesia, tetapi mereka tidak akan bersedia melakukan pekerjaan berisiko tanpa insentif yang menarik.

“Pengalaman kita, orangnya ada banyak kalau dibayar,” ujarnya.

Saat ini 39 Rumah Sakit Siloam di seluruh Indonesia menerima pasien Covid-19 dan bahkan ada dua rumah sakit sementara yang khusus diperuntukkan bagi kasus ini, yaitu di Mampang, Jakarta Selatan, dan di Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang.

James mengapresiasi keputusan pemerintah yang membuka pintu bagi rumah sakit swasta dan laboratorium swasta untuk terlibat menangani pasien Covid-19 dan melakukan tes PCR, asalkan memenuhi standar yang ditetapkan.

Lebih lanjut dia mengatakan saat ini ada sekitar 150-200 mesin PCR di Indonesia. Jika diterapkan dua atau tiga shift kerja, satu mesin PCR bisa melakukan tes pada 500 pasien.

“Jadi dengan demikian semestinya kapasitas ini ada untuk bisa digunakan,” kata James.

Kunci kesuksesan program ini bukan hanya pada berapa banyak tes yang mampu dilakukan per hari per mesin, tetapi juga seberapa cepat hasilnya bisa keluar, imbuhnya.

“PCR testing itu mestinya … dalam tujuh-delapan jam sudah dapat hasil. Pada saat ini kita [Siloam] bisa dalam tujuh jam dapat hasil, bisa dapat same day result,” kata James.

Testing adalah Segalanya
James sepakat dengan pemerintah bahwa uji diagnostik menjadi kunci dalam menghentikan mata rantai penularan Covid-19.

Tanpa uji diagnostik, upaya pemerintah menghentikan penularan virus corona seperti berjalan dalam kegelapan karena tidak diketahui kluster-kluster penularan baru atau wilayah baru yang terdampak.

James menambahkan dalam situasi sekarang, Indonesia harus berasumsi bahwa 12 bulan atau bahkan 24 bulan ke depan mungkin belum akan ditemukan vaksin virus corona. Kurun waktu yang cukup lama ini akan memaksa masyarakat untuk kembali beraktivitas, dan pemerintah juga harus merelaksasi pembatasan sosial.

“Dalam situasi seperti itu testing adalah segalanya. Saya tidak bisa mengerti bagaimana bisa ambil keputusan apa pun juga, apakah itu pasien, dokter, rumah sakit, atau perusahaan tanpa kapasitas testing,” kata James.

“Tanpa testing kita tidak bisa isolasi, kita tidak bisa merawat pasien, dirawat di mana, dan harusnya dirawat seawal mungkin. Tanpa testing kita tidak bisa melakukan contact tracing [penelusuran kontak], dan sebagainya. Jadi testing ini segalanya,” tegasnya.



Sumber: BeritaSatu.com