CEO Moderna Tepis Keragu-raguan akan Uji Vaksin Covid-19

CEO Moderna Tepis Keragu-raguan akan Uji Vaksin Covid-19
Kantor pusat perusahaan bioteknologi Moderna di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. (Foto: AFP)
Faisal Maliki Baskoro / FMB Kamis, 21 Mei 2020 | 06:45 WIB

New York, Beritasatu.com - Perusahaan bioteknologi Moderna mengatakan pihaknya tidak akan mengumumkan hasil penelitian vaksin virus corona (Covid-19) yang tidak sesuai dengan realita.

Pernyataan ini disampaikan CEO Moderna Noubar Afeyan kepada CNBC, Rabu (20/5/2020) menanggapi artikel STAT News, mengutip sejumlah pakar vaksin, yang meragukan hasil uji vaksin Covid-19 yang dikembangkan Moderna bersama Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular (NIAID).

"Kami melakukan pekerjaan kami dengan serius. Kami tidak akan mengumumkan data yang tidak sesuai dengan kenyataan," kata Afeyan. Dia juga mengatakan kemungkinan keragu-raguan pakar karena mereka hanya bisa menduga-duga hasil penelitian.

Moderna melaporkan tahap pertama pengujian vaksin Covid-19 berjalan sukses. Moderna mengatakan bahwa setelah dua dosis, semua 45 partisipan uji coba berhasil mengembangkan antibodi dengan tingkat-tingkat tertentu, mulai dari level antibodi seperti orang yang baru sembuh dari Covid-19 hingga memiliki antibodi penetralisir. Antibodi netralisir, yang ditemukan pada delapan partisipan, merupakan faktor penting bagi perlindungan tubuh terhadap Covid-19. Moderna menargetkan Januari 2021, vaksin ini sudah siap untuk digunakan.

STAT News melaporkan bahwa sejumlah pakar meragukan klaim vaksin Covid-19 yang dikembangkan Moderna. Mereka mengatakan bahwa Moderna tidak melampirkan data, hanya kata-kata. Padahal data tersebut sangat penting untuk menguji klaim Moderna.

Laporan terkait antibodi penetralisir virus juga diragukan. Moderna mengatakan bahwa temuan antibodi penetralisir dalam delapan pasien berasal dari sampel darah yang diambil dua minggu setelah pemberian dosis kedua. Menurut Anna Durbin, peneliti vaksin dari Johns Hopkins University, dua minggu masih terlalu dini untuk memastikan ketahanan antibodi.



Sumber: CNBC.com