Risiko Kematian Pasien Covid-19 Minum Hydroxychloroquine Lebih Tinggi

Risiko Kematian Pasien Covid-19 Minum Hydroxychloroquine Lebih Tinggi
ilustrasi obat ( Foto: ist / ist )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Sabtu, 23 Mei 2020 | 08:13 WIB

Cambridge, Beritasatu.com - Pasien Covid-19 di rumah sakit yang mengonsumsi hydroxychloroquine, obat malaria yang diminum Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mencegah virus corona, memiliki risiko kematian lebih tinggi dibandingkan pasien yang tidak meminumnya. Demikian sebuah penelitian yang diterbitkan The Lancet, Jumat (23/5/2020).

Pasien yang menggunakan obat chloroquine, yang berasal dari hydroxychloroquine, membuat denyut jantung tidak teratur, menurut penelitian. Studi ini mengamati lebih 96.000 pasien dari 671 rumah sakit di enam benua dunia.

Baca juga: Kabar Baik! Obat Covid-19 Remdesivir Akan Diproduksi untuk 127 Negara

Para peneliti di Harvard Medical School, Brigham and Women's Hospital dan institusi lain mengamati pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit pada periode 20 Desember 2019 dan 14 April 2020.

Penelitian menyatakan 14.888 pasien dirawat dengan minum hydroxychloroquine atau chloroquine, baik single atau kombinasi dengan makrolida. Sisanya 81.144 pasien berada dalam kelompok kontrol. Hampir 10.700 pasien meninggal di rumah sakit.

Baca juga: Trump Klaim Minum Hidroksikloroquin Tiap Hari

Studi ini menemukan bahwa setelah mengendalikan beberapa faktor, termasuk usia, ras, jenis kelamin dan kondisi kesehatan yang mendasari, ada peningkatan 34 persen risiko kematian bagi pasien yang mengonsumsi hydroxychloroquine dan 137 persen peningkatan risiko aritmia jantung serius.

Temuan itu dipublikasikan beberapa hari setelah Trump mengatakan telah minum hydroxychloroquine setiap hari selama lebih seminggu untuk mencegah infeksi virus corona, meski ada peringatan dari Food and Drug Administration AS (BPOM).

Hydroxychloroquine, yang telah berulang kali disebut-sebut Trump obat potensial memerangi corona, juga sering digunakan dokter untuk mengobati rheumatoid arthritis dan lupus. Banyak uji klinis dilakuan untuk membuktikan apakah efektif dalam menyembuhkan corona, tetapi hasil pengobatan belum terbukti.

Hydroxychloroquine diketahui memiliki efek samping serius, termasuk kelemahan otot dan aritmia jantung. Sebuah penelitian kecil di Brasil dihentikan karena alasan keamanan setelah pasien Covid-19 yang mengonsumsi chloroquine membuat irama jantung tidak seimbang, termasuk beberapa meninggal.

Pekan lalu, sebuah penelitian yang diterbitkan di JAMA Network menemukan obat Covid-19 tersebut tidak membantu pasien Covid-19. Justru sebaliknya, membuat meningkatkan risiko pasian terkena serangan jantung.



Sumber: CNBC