Pakar: Tanpa Lockdown, Puncak Covid-19 Sulit Diprediksi

Pakar: Tanpa Lockdown, Puncak Covid-19 Sulit Diprediksi
Ilustrasi pemeriksaan Covid-19 di laboratorium. (Foto: AFP)
Bhakti Hariani / YUD Senin, 25 Mei 2020 | 17:27 WIB

Depok, Beritasatu.com - Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan sulit memprediksi kapan puncak Covid-19 terjadi di Indonesia. Pasalnya, Indonesia tidak menerapkan lockdown sehingga pengukuran puncak kasus sulit dilakukan.

Menurut pria yang akrab disapa Miko ini, puncak wabah sulit diukur pada negara yang tak menerapkan lockdown. Apalagi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia tak dilakukan di seluruh provinsi. Hanya di beberapa provinsi saja.

Kurva wabah, kata Miko, masih menunjukkan kecenderungan naik turun, naik turun. Sebaran di tiap provinsi pun berbeda-beda.

Baca juga: PSBB III DKI, Anies: Jika 2 Minggu ke Depan Tidak Disiplin, Terpaksa Dilanjutkan

Untuk itu, Miko mengingatkan bila nanti PSBB berakhir dan suatu provinsi ingin membuka kembali pembatasannya maka harus dipastikan tidak adalagi kasus positif yang muncul.

"Harus benar-benar nol kasus. Ini pun harus ditunggu selama tiga minggu. Jika benar-benar sudah tidak ada lagi kasus maka suatu daerah bisa dibuka kembali, perlahan-lahan dengan tetap memperhatikan protokol Covid-19," papar Miko, Senin (25/5/2020) di Depok, Jawa Barat.

Untuk Jakarta, Miko meragukan pada bulan Juni, Jakarta sudah bisa kembali dibuka dengan menjalankan new normal. "Kasus pertambahan positif nya masih ada dan masih cukup tinggi. Ini harus ekstra hati-hati. Kalaupun ingin dibuka maka tetap harus disiplin menjalankan aturan seperti memakai masker, menjaga kebersihan dan menjaga jarak," papar Miko.

Indonesia juga tidak bisa dibandingkan dengan negara tetangga di ASEAN yakni Singapura dan Malaysia. Menurut Miko, Malaysia yang menerapkan lockdown bisa melanjutkan aktivitas dengan menjalankan aturan new normal.

Baca juga: Satpol PP DKI Kerahkan Seluruh Personel Tindak Pelanggar PSBB

"Mungkin kasusnya tidak bisa langsung nol total tapi ekonomi negara harus dijalankan. Malaysia juga bisa merugi terus jika lockdown terus menerus dijalankan," ujar Miko.

Dikatakan Miko, penanganan Covid-19 juga menjadi tugas dan tanggung jawab masing-masing daerah kabupaten/kota dan provinsi. Untuk itu, koordinasi yang erat dan terukur antara pusat dengan daerah harus dilakukan.

"Untuk saat ini orang yang akan masuk lagi ke Jakarta harus diperiksa secara ketat. Lakukan rapid test di tempat-tempat kedatangan para pendatang. Cek juga suhu tubuh mereka," tutur Miko.

Baca juga: Satpol PP Tangerang Keluhkan Rendahnya Kesadaran Masyarakat akan PSBB

Senada dengan Miko, Pakar Epidemiologi UI lainnya, Pandu Riono menilai Indonesia tak bisa dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya seperti Singapura dan Malaysia.

"Dari jumlah penduduk saja berbeda. Kebijakannya dan perilaku penduduknya juga sangat jauh berbeda," kata Pandu.

Diungkap Pandu, pascaliburan dipastikan ada penumpukan pemeriksaan hasil swab PCR. Ini nanti akan menyebabkan kasusnya mengalami penumpukan dan pelaporannya nanti dilakukan sekaligus.

Pandu juga mengaku tak bisa memprediksi kapan wabah ini berakhir. Karena makin banyak orang yang tak takut keluar rumah dan semakin banyak yang melanggar aturan.

"Apa sekarang masih ada PSBB? Masih ada saja sudah berani dilanggar jadi ya sudah biarkan saja PSBB diakhiri saja. Kembalikan kepada pola perilaku dan kedisiplinan masyarakat masing-masing untuk menghindari diri dari Covid-19," papar Pandu.

Dirinya juga terus mendorong pemerintah provinsi dan juga pemerintah kabupaten/ kota untuk terus me-masifkan pengetesan baik rapid test ataupun swab PCR.

"Ini sangat baik karena kita harus tahu sebanyak mungkin. Seberapa besar yang terkonfirmasi positif," ujar Pandu.



Sumber: BeritaSatu.com