Trump Berhenti Minum Hydroxychloroquine

Trump Berhenti Minum Hydroxychloroquine
Presiden Donald Trump berpidato di Kongres Amerika, Rabu 5 Februari 2020. (Foto: AFP)
Faisal Maliki Baskoro / FMB Selasa, 26 Mei 2020 | 07:05 WIB

Jenewa, Beritasatu.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin (25/5/2020) menghentikan sementara uji coba hydroxychloroquine dengan alasan keamanan. Presiden AS Donald Trump yang sempat rutin minum obat ini juga sudah berhenti menggunakannya.

Hydroxychloroquine adalah obat antimalaria yang bisa juga digunakan untuk mengobati peradangan sendi dan lupus. Meskipun belum terbukti ampuh mengobati pasien Covid-19, tetapi obat ini didukung oleh Trump, yang sempat rutin minum obat ini. Dia juga mengatakan banyak tenaga medis di garis depan yang mengonsumsi obat ini. 

Sekarang Trump telah berhenti menggunakan obat yang rutin dia konsumsi dalam dua minggu terakhir. Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS mengatakan penggunaan obat ini, tanpa pengawasan rumah sakit, bisa mengakibatkan penyakit jantung.

"Sudah selesai dan saya sehat-sehat saja," kata Trump, Senin. 

Baca juga: WHO Hentikan Klorokuin Sebagai Pengobatan Covid-19

Trump mulai rutin menggunakan obat ini sejak dua staf Gedung Putih dites positif Covid-19.

Hasil uji coba obat ini bervariasi. Di Tiongkok, obat ini menunjukkan hasil positif. Di Italia dan AS, obat ini tidak terbukti memiliki efek terhadap pasien, sementara Brasil menghentikan penggunaan obat ini karena ditemukannya efek samping pada jantung.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan penghentian hydroxychloroquine dari Uji Solidaritas karena data keamanan obat ini tengah dikaji oleh Dewan Pengawas Data Keamanan.

"Saya ingin menegaskan bahwa obat-obatan ini (hydroxychloroquine dan chloroquine), secara umum, masih aman digunakan untuk pasien dengan autoimun dan malaria," kata dia.

Menurut data Johns Hopkins University, terdapat lebih dari 5,4 juta kasus Covid-19 di seluruh dunia, dengan korban jiwa melewati 345.000 orang. Di AS sendiri, ada 1,6 juta kasus dan 97.000 korban jiwa.



Sumber: CNBC.com