Hingga Akhir Mei, BPJS Masih Berutang ke RS Rp 5,1 T

Hingga Akhir Mei, BPJS Masih Berutang ke RS Rp 5,1 T
Ilustrasi BPJS Kesehatan. (Foto: Antara / M Risyal Hidayat)
Dina Manafe / IDS Selasa, 26 Mei 2020 | 18:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Utang BPJS Kesehatan kepada rumah sakit masih tetap besar meskipun jumlahnya telah berkurang. Hingga akhir Mei 2020, utang atau gagal bayar BPJS ke rumah sakit diperkirakan sebesar Rp 5,1 triliun.

Direktur Keuangan BPJS Kesehatan Kemal Imam Santoso mengatakan, utang BPJS Kesehatan tersebut hanya berumur maksimum 11 hari. Bisa diartikan bahwa utang tersebut dilunasi BPJS Kesehatan kurang dari 11 hari.

“Jadi posisi kami pada akhir bulan Mei ini akan gagal bayar itu Rp 5,1 triliun, tetapi umur utang maksimum 11 hari kalender atau tidak sampai 2 minggu. Apakah ini akan terus? Nanti kita akan hitung ulang semua,” kata Kemal pada diskusi daring secara live di Beritasatu TV dengan tema “Jaminan Kesehatan Berkeadilan”, Selasa (26/5/2020).

Untuk diketahui, besaran utang ini semakin berkurang bila dibandingkan dengan gagal bayar pada akhir 2019 yang dibawa ke 2020 sebesar Rp 15,5 triliun. Jumlah utang ini terus berkurang karena kemungkinan dilunasi dari dana iuran peserta penerima bantuan iuran (PBI) yang sudah dibayarkan di muka.

Setiap bulan, pemasukan dari peserta PBI yang dibayarkan pemerintah pusat atau APBN saja sebesar Rp 4,1 triliun untuk 96,8 juta orang. Ini belum termasuk iuran PBI yang dibayarkan pemerintah daerah atau APBD sebesar Rp 1,5 triliun setiap bulan untuk 36,9 juta orang.

Kemal mengatakan, selama pandemi Covid-19 dalam beberapa bulan terakhir ada tren frekuensi kunjungan pasien ke rumah sakit berkurang. Namun tidak serta merta kemudian klaim layanan rumah sakit juga berkurang. Karena menurut Kemal, pihaknya harus mengantisipasi kemungkinan klaim layanan akan kembali meningkat seperti sebelum Covid-19 apabila kelak sudah ada kelonggaran atau relaksasi pembatasan sosial berskala besar atau ketika diterapkan new normal.

“Jadi kami harus mempertimbangkan hal tersebut (kembali ke kondisi normal). Jadi kita memperbaiki cash flow kita sendiri dan cash flow rumah sakit,” kata Kemal.

Dalam kesempatan yang sama, Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar mengatakan, selama pandemi Covid-19 kunjungan pasien ke rumah sakit berkurang hingga 60% sampai 70%. Hal ini menurut Timboel, membuat klaim layanan dari rumah sakit ke BPJS Kesehatan juga ikut berkurang.



Sumber: BeritaSatu.com