Mengenal Angka Reproduksi Kasus Covid-19
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 526.593 (-2.12)   |   COMPOSITE 6140.17 (-31)   |   DBX 1202.23 (-7.34)   |   I-GRADE 182.055 (-0.59)   |   IDX30 520.23 (-3.14)   |   IDX80 139.249 (-0.62)   |   IDXBUMN20 408.872 (-1.63)   |   IDXESGL 143.85 (-0.25)   |   IDXG30 142.18 (0.09)   |   IDXHIDIV20 459.051 (-3.03)   |   IDXQ30 148.957 (-0.6)   |   IDXSMC-COM 277.162 (-0.91)   |   IDXSMC-LIQ 347.622 (-0.6)   |   IDXV30 138.219 (-0.5)   |   INFOBANK15 1055.23 (-7.44)   |   Investor33 446.478 (-2.09)   |   ISSI 180.128 (-0.71)   |   JII 636.549 (-4.61)   |   JII70 222.134 (-1.32)   |   KOMPAS100 1238.45 (-7.28)   |   LQ45 966.883 (-3.74)   |   MBX 1689.51 (-8.25)   |   MNC36 329.297 (-2.07)   |   PEFINDO25 325.3 (-0.25)   |   SMInfra18 310.992 (2.08)   |   SRI-KEHATI 381.519 (-2.14)   |  

Mengenal Angka Reproduksi Kasus Covid-19

Rabu, 27 Mei 2020 | 23:21 WIB
Oleh : Dina Manafe / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Istilah reproduction number (Ro) atau angka reproduksi dalam pandemi virus corona (Covid-19) belakangan populer. Tetapi, benarkah istilah tersebut digunakan saat ini untuk menggambarkan kurva Covid-19.

Pakar epidemiologi sekaligus Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas (FKM UI), Defriman Djafri, mengatakan, angka reproduksi sebetulnya ada dua bagian, yaitu basic reproduction number (Ro), dan effective reproduction number (Re/Rt).

Baca Juga: Hadapi New Normal, Pesantren Butuh Perhatian Khusus

Ro adalah jumlah kasus baru yang tertular dari satu kasus infektif pada populasi sepenuhnya rentan. Ro biasanya digunakan di awal adanya kasus (pertumbuhan kasus eksponansial) untuk menunjukkan potensi besarnya pandemi.

Sedangkan Re/Rt adalah jumlah kasus baru yang tertular dari satu kasus terinfeksi pada populasi yang memiliki kekebalan sebagian atau setelah adanya intervensi.

Biasanya Re/Rt digunakan untuk evaluasi penyebaran penyakit, yaitu di masa sekarang ini. Dari definisi itu, istilah Ro tidak tepat lagi digunakan untuk melihat penyebaran virus sekarang. Tepatnya digunakan pada awal Maret lalu. Sedangkan untuk sekaran ini yang paling tepat dipakai adalah Re atau Rt.

Baca Juga: Tatanan New Normal Butuh Perubahan Perilaku Individu

Pada prinsipnya, penghitungan Re/Rt adalah jumlah kasus baru saat ini merupakan hasil penularan kasus infeksi masa lalu. Jadi, misalnya, kasus positif yang dilaporkan Gugus Tugas hari ini Rabu (27/5/2020) sebanyak 23.851, maka itu adalah kasus terinfeksi sejak seminggu lalu. Ini sesuai masa inkubasi di Indonesia yang rata-rata 5-6 hari.

Jadi, jumlah kasus saat ini adalah perkalian angka reproduksi efektif (Re/Rt) dengan jumlah kasus infeksi di periode sebelumnya dengan memperhitungkan daya/bobot infeksi masing-masing kasus di periode tersebut.

Secara sederhana dijelaskan, Rt tidak menginfeksi sebanyak Ro. Misalnya Ro adalah 2, artinya satu orang yang sudah terinfeksi akan menginfeksi 2 orang lain, dan 2 orang ini akan menginfeksi masing-masing 2 orang lagi dalam satu waktu. Inilah yang disebut dengan eksponensial kasus. Sedangkan Rt, satu orang terinfeksi menginfeksi hanya 1 orang. Jadi kalau kurang angkanya kurang dari 1, berarti tidak lagi menginfeksi ke orang lain.

Baca Juga: Sebelum Putuskan New Normal, PSBB Harus Diperketat

Defriman mengatakan, Re/Rt angkanya kurang dari 1 maka intervensi yang dibuat pemerintah, fasilitas kesehatan maupun masyarakat bisa dikatakan berhasil. Tetapi kalau terjadi hanya dalam satu hari, maka tidak bisa dijadikan rujukan untuk relaksasi atau pelonggaran PSBB atau memberlakukan new normal. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan minimal berlangsung selama 2 minggu. Bisa dikatakan Covid-19 tereradikasi jika Re/Rt kurang dari 1 terjadi selama dua minggu berturut turut.

Tetapi faktanya, sejak kasus Covid-19 pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 2 Maret lalu sampai dengan hari ini, Re/Rt kurang dari 1 baru pernah terjadi dua kali, yaitu di tanggal 27 April sebesar 0,96 dan 3 Mei dengan angka 0,97. Selebihnya selalu di atas 1.

"Di Indonesia turun kurang dari angka 1 itu baru dua hari, bukan dua minggu. Jadi tidak bisa kita jadikan acuan untuk pelonggaran,” kata Defriman saat dihubungi Beritasatu.com, di Jakarta, Rabu (27/5/2020) malam.

Baca Juga: Jakarta Belum Siap Hadapi New Normal

Oleh karena itu, menurut Defriman, untuk melakukan relaksasi PSBB atau memberlakukan new normal, pemerintah harus memastikan Rt kurang dari 1 selama dua minggu. Dua minggu ini untuk memastikan bahwa penurunan kasus tersebut tidak parsial, melainkan signifikan.

Jika penurunan hanya satu dua hari, pemerintah disarankan tidak melonggarkan PSBB. Karena transmisi virus ini langsung dari orang ke orang, sehingga potensi kejadian luar biasa atau ledakan kasus kapan pun terjadi.

Untuk DKI Jakarta, yang paling diwaspadai adalah serangan gelombang kedua. Terutama kasus impor dari provinsi lain yang terjangkit maupun luar negeri yang masuk ke DKI apabila PSBB dilonggarkan. Penyebaran gelombang kedua menjadi ancaman nyata karena transmisi lokal tidak dikendalikan dengan baik.

Baca Juga: New Normal, Rumah Ibadah Dibuka Bertahap

"Ketika di DKI sudah dikendalikan, yang justru jadi ancaman adalah kasus impor. Inilah yang akan dihadapi pak Anies ke depan. Jangan anggap penyebaran virus ini hanya satu episode saja. Kita salah kalau menganggap kasus turun kemudian aman, karena ancaman ke depan adalah kasus impor,” kata Defriman.

Defriman juga menyarankan, pemerintah harus mewaspadai serangan gelombang kedua. Karena itu, untuk menerapkan new normal, pemerintah harus memastikan bahwa sudah ada perubahan perilaku masyarakat, seperti pakai masker, cuci tangan pakai sabun, jaga jarak fisik, dan lain-lain. Persoalannya, selama ini tidak ada kajian atau evaluasi seberapa banyak penduduk yang punya perubahan perilaku atau kepatuhan pada protokol kesehatan selama PSBB diberlakukan.

Kemudian, pemerintah juga harus memastikan kesiapan layanan kesehatan baik itu di rumah sakit, tenaga medis, dan surveilensnya. Ini penting karena rumah sakit adalah garda terakhir. Ketika new normal diberlakukan, tetapi fasilitas ini tidak siap, maka bisa kelabakan menghadapi lonjakan kasus.

Baca Juga: Kirab Petakan Kasus Covid-19 Berbasis NIK

Menurut Defriman, Re/Rt sebaiknya diumumkan oleh pemerintah atau Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 setiap hari. Ini sebagai evaluasi dan agar masyarakat juga ikut memantau penurunan Rt dalam dua minggu.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Mengenal Aloe Vera, Pelembab Alami Tinggi Antioksidan

Aloe vera juga memiliki banyak manfaat mengagumkan untuk perawatan kulit.

KESEHATAN | 27 Mei 2020

Kirab Petakan Kasus Covid-19 Berbasis NIK

Kirab merupakan ide pelabelan platform aplikasi bantujiwa.com yang secara langsung mengidentifikasi setiap penduduk Indonesia menjadi merah, kuning, atau hijau.

KESEHATAN | 27 Mei 2020

FKUI Kembangkan Sistem Penilaian Covid-19 Berbasis Individu

Ini dianggap sebagai salah satu solusi untuk membantu pemerintah dalam upaya percepatan penanganan Covid-19.

KESEHATAN | 27 Mei 2020

Ini Cara Siloam TB Simatupang Hilangkan Covid Phobia

Covid Phobia malah berisiko adanya keterlambatan diagnosa penyakit non-covid.

KESEHATAN | 27 Mei 2020

Tingkat Pemakaian RS Rujukan Covid-19 di Jakarta Kurang 50%

Doni Monardo mengatakan data jumlah kasus positif Covid-19 di Jakarta sudah mengalami kemajuan positif.

KESEHATAN | 27 Mei 2020

Doni Monardo Tegaskan Kehadiran TNI/Polri Bukan untuk Timbulkan Ketakutan

Menurut Doni Monardo, pengerahan pasukan TNI/Polri sebanyak 340.000 orang di 1.800 titik dilakukan dengan pendekatan-pendekatan yang komunikatif.

KESEHATAN | 27 Mei 2020

Jatim Kembali Jadi Provinsi Terbanyak Tambahan Kasus Covid-19

Dengan tambahan 199 kasus baru, maka akumulasi kasus positif di Jatim sampai saat ini sebanyak 4.142.

KESEHATAN | 27 Mei 2020

Tips Menjaga Kebugaran Saat WFH

Prioritaskan berolahraga untuk menciptakan lingkungan kerja yang positif.

KESEHATAN | 27 Mei 2020

Update Covid-19: Tambah 686, Kasus Positif Menjadi 23.851

Untuk pasien sembuh dari Covid-19 bertambah 180 menjadi 6.057 dan meinggal bertambah 55 menjadi 1.473

KESEHATAN | 27 Mei 2020

Penumpang Ojol Diminta Bawa Helm Sendiri

Sebagai salah satu pemenuhan protokol kesehatan yang ditetapkan Garda

KESEHATAN | 27 Mei 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS