Gara-gara Covid-19, Angka Kelahiran Diprediksi Bertambah Hingga 500.000

Gara-gara Covid-19, Angka Kelahiran Diprediksi Bertambah Hingga 500.000
Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo. (Foto: Beritasatu Photo / Dina Manafe)
Dina Manafe / IDS Kamis, 28 Mei 2020 | 20:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi Covid-19 selain menyebabkan angka kesakitan dan kematian, juga berimbas terhadap masalah kependudukan. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkirakan pandemi Covid-19 memicu tingginya angka kelahiran. Diperkirakan selama pandemi ini, jumlah wanita usia subur yang hamil dan melahirkan bertambah sekitar 370.000 hingga 500.000.

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo mengatakan, kebijakan jaga jarak sosial dan fisik serta tinggal di rumah selama masa pandemi memicu angka kehamilan dan kelahiran tinggi. Jumlah kehamilan dan kelahiran tersebut dihitung dari akseptor kontrasepsi yang putus pakai.

Misalnya, dari 10 juta pasangan usia subur (PUS) yang putus pakai alat kontrasepsi, minimal 25% atau 2,5 juta adalah PUS usia sangat produktif (20-30 tahun) dengan tingkat fertilitas tinggi atau mudah hamil.

PUS usia produktif ini memiliki kemungkinan hamil mencapai 15%-20%. Ketika mereka tidak pakai alat kontrasepsi, maka jumlah yang hamil dan melahirkan bisa sebanyak 370.000 sampai 500.000 wanita usia subur.

“Ini kekhawatiran kita dari sisi biologis. Jika sebulan lagi katakanlah kehamilan ini antara 300.000 sampai 500.000, tentu kita harus mengantisipasi mulai sekarang. Kalau bisa ini jangan terjadi,” kata Hasto dalam diskusi secara virtual bertemakan “Tantangan Kependudukan di Tengah Pandemi Covid-19” yang digelar BKKBN, Kamis (28/5/2020).

Diketahui, rata-rata pertambahan jumlah penduduk Indonesia dari kelahiran setiap tahunnya sebanyak 3 juta. Namun dengan potensi pertambahan kehamilan selama pandemi yang diperkirakan BKKBN tersebut, bisa jadi pertumbuhan penduduk Indonesia akan menjadi lebih tinggi.



Sumber: BeritaSatu.com