Peserta KB Turun Drastis karena Terbatasnya Akses Selama PSBB

Peserta KB Turun Drastis karena Terbatasnya Akses Selama PSBB
IUD, salah satu Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). (Foto: Istimewa / Istimewa)
Dina Manafe / IDS Kamis, 28 Mei 2020 | 20:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkirakan pandemi Covid-19 memicu tingginya angka kelahiran. Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo mengatakan, bertambahnya angka kehamilan ini dikarenakan kebijakan PSBB yang berimbas kepada terbatasnya akses terhadap alat kontrasepsi.

Dalam diskusi secara virtual bertemakan “Tantangan Kependudukan di Tengah Pandemi Covid-19” yang digelar BKKBN, Kamis (28/5/2020), dikatakan BKKBN melakukan pendataan secara real time setiap bulan. Hasilnya cukup mencemaskan karena, selama Maret dan April ini, jumlah peserta KB baru menurun drastis.

Pada Februari 2020, PUS yang menjadi peserta KB baru sebanyak 427.133 akseptor, tetapi kemudian menurun ke bulan berikutnya, hingga di April hanya terdapat 267.132 akseptor. Secara kumulatif, total peserta KB baru hingga April sebanyak 1,5 juta PUS.

Sementara peserta KB ulangan per bulan (untuk suntik atau pil) tiap bulan juga menurun sekitar 600.000 atau dari 2,5 juta menjadi 1,9 juta. Peserta KB yang ganti cara atau metode kontrasepsi juga mengalami penurunan, dari 90.233 pada Januari menjadi 40.186 pada April. Demikian pula peserta KB yang aktif. Angkanya turun dari 35,4 juta pada Februari menjadi 26,5 juta pada April.

Namun, tren peserta KB aktif ini fluktuatif atau bergerak tiap saat. Bisa jadi peserta berhenti karena sudah menopause, atau ingin punya anak lagi, dan lain-lain.

Hasto mengatakan, selama pandemi Covid-19, banyak klinik yang tidak siap menghadapi pandemi dengan alat pelindung diri. Banyak klinik tutup karena mengindari Covid-19. Rantai pasok alat kontrasepsi di sejumlah daerah juga terganggu. Sementara produksi alat kontrasepsi terbatas dan pelatihan bagi provider terhenti. Selain itu, ganti cara metode kontrasepsi jangka pendek memberikan tingkat kegagalannya tinggi.

“Kondisi ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga banyak negara karena imbas Covid-19 seperti dilaporkan Unfpa (United Nations Population Fund),” kata Hasto.

Hasto mengatakan, BKKBN melakukan berbagai upaya untuk menekan angka kehamilan melalui pelayanan proaktif. Salah satunya, pada Juni 2020 nanti BKKBN akan melakukan gerakan sejuta akseptor dengan menggerakkan bidan dan TNI.



Sumber: BeritaSatu.com