Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2020

Anak Masih Jadi Korban Manipulasi Industri Rokok

Anak Masih Jadi Korban Manipulasi Industri Rokok
Puluhan anggota Pramuka melakukan aksi damai di depan Kantor Kementerian Keuangan RI, Jakarta Pusat, Jumat (20/9/2019). (Foto: Beritasatu TV)
Dina Manafe / EAS Jumat, 29 Mei 2020 | 22:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anak-anak Indonesia belum sepenuhnya bebas dari ancaman bahaya rokok. Mereka masih menjadi target industri untuk menjadi perokok pengganti yang dilakukan secara manipulatif. Manipulasi industri untuk menggiring anak-anak menjadi perokok aktif inilah yang menjadi tema Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2020 yang diperingati setiap tanggal 31 Mei.

Muhamad Bigwanto dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) mengatakan, tren belakangan ini ada manipulasi industri rokok untuk mendapatkan perokok muda. Di antaranya mempromosikan produk rokok yang diklaim secara berlebihan. Misalnya rokok elektronik, seperti vape, diklaim lebih aman karena tidak mengandung tar dan kadar nikotin yang rendah. Rokok elektronik juga diklaim sebagai produk alternatif yang membantu perokok aktif untuk berhenti merokok.

"Semua klaim itu kita anggap manipulasi karena yang dijual dari produk rokok ini adalah rasa aman, dan lain-lain. Itulah mengapa mereka menyasar anak muda,” kata Bigwanto kepada Beritasatu.com, Jumat (29/5/2020) malam.

Selain itu, menurut Bigwanto, citra yang dibangun seolah produk alternatif ini merupakan produk aman karena bukan dihasilkan oleh industri rokok konvensional. Faktanya, sejumlah komunitas pendukung rokok elektronik di Indonesia ternyata didanai oleh Sampoerna dan industri rokok konvensional yang juga memiliki bagian dalam produk elektronik.

Dari sisi kesehatan, menurut Bigwanto rokok elektronik tidak aman. Berbagai penelitian membuktikan efek rokok elektronik menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, yang paling sering adalah menderita paru-paru basah dan sesak napas akut.

“Efek konsumsi rokok elektrik ini tidak terlihat langsung, baru terlihat jangka panjang, sehingga dianggap aman. Padahal tidak lebih aman dari rokok konvensional,” katanya.

Bigwanto mengatakan, jumlah anak muda yang menggunakan rokok elektronik terus meningkat. Pada 2016 ada 1,2% pengguna rokok elektronik berusia 10-18 tahun. Pada 2018 jumlah ini meningkat menjadi 10,2%.

Sementara dari sisi regulasi, belum ada satu pun yang dibuat pemerintah untuk melindungi anak muda dari rokok elektronik. Hanya ada regulasi tentang cukai rokok elektronik.

Sementara untuk pengendalian konsumsi rokok tidak cukup hanya cukai, tetapi juga iklan, sponsorsip, promosi, dan lain-lain. Faktanya di lapangan, iklan rokok masih marak. Selain itu, akses anak terhadap rokok elektronik ini juga masih bebas. Mestinya larangan menjual di retail termasuk online diperkuat sehingga membatasi anak terhadap produk ini.



Sumber: BeritaSatu.com