Doni Monardo: Protokol Kesehatan Harga Mati

Doni Monardo: Protokol Kesehatan Harga Mati
Doni Monardo. (Foto: B1/Mohammad Defrizal)
Primus Dorimulu / ALD Minggu, 31 Mei 2020 | 20:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menegaskan kepada semua masyarakat, bahwa dalam menghadapi pandemi Covid-19, pelaksanaan protokol kesehatan adalah harga mati.

“Pada saat kita menyatakan NKRI harga mati, maka pada saat pandemi Covid-19 ini, protokol kesehatan adalah harga mati! Tidak bisa ditawar-tawar,” tegasnya saat diskusi virtual dengan jajaran pemimpin media massa di Jakarta, Minggu (31/5/2020).

Doni kembali menyerukan pentingnya seluruh masyarakat untuk rajin memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, dan menghindari dan tidak menciptakan kerumuman.

“Kami juga beri masukan penting (memakai) sarung tangan, tetapi tidak mutlak. Karena menggunakan sarung tangan bisa membahayakan, karena kadang kala cara melepasnya tidak tepat, justru menimbulkan persoalan baru. Jadi semua hal yang bisa membantu terhindarnya masyarakat dari bahaya Covid menjadi harga mati,” katanya.

Menurutnya, kalau ini semua menjadi gerakan sosial di tengah masyarakat, maka gerakan mengubah perilaku akan menjadi bagian gerakan yang tidak terhindarkan. “Jadi budaya mengubah perilaku yang dulu kita selalu ingat kata-kata ‘4 Sehat 5 Sempurna’, sekarang kami pinjam kalimat ini yang digagas oleh Prof Purwo Sudarmo. Kebetulan cucu beliau juga seorang profesor dan sudah bertemu dengan kami di sini tidak keberatan menggunakan istilah ‘4 Sehat 5 Sempurna’. Saya katakan kepada profesor di sini, kalau ini sukses dan banyak orang yang selamat dengan menggunakan istilah ‘4 Sehat 5 Sempurna’ berarti Prof Purwo di akhirat sana mendapat pahala yang lebih banyak lagi. Keluarga almarhum senang, istilah ini digunakan Gugus Tugas menjadi kampanye tips hadapi Covid, yaitu pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan, kemudian olahraga yang teratur dan cukup, tidak panik dan memakan makanan yang bergizi,” paparnya.

Faktor Lingkungan
Doni Monardo juga menyinggung kasus Covid-19 di Jawa Barat, yang menurutnya unik. Angka kematian Covid-19 dengan penyakit penyerta yang tertinggi adalah mereka yang mengidap penyakit ginjal, yakni 83%.

Hal ini tak lepas dari kualitas air, dan kebiasaan masyarakat Jawa Barat mengonsumsi lalapan. “Ternyata yang berisiko karena menderita ginjal sebagian besar makan lalapan yang sayurnya mengandung pestisida. Ini karena petani tidak dididik dengan benar, sehingga dampaknya kepada masyarakat,” ujarnya.

Doni menambahkan, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan hampir semua rumah sakit di Jabar, terutama Bandung dan Cimahi, membutuhkan alat cuci darah. “Jadi sudah sangat terbatas. Beliau minta kepada saya agar salah satu RS di bawah binaan Kodam Siliwangi bisa membantu menyediakannya,” ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, menurut Doni, ada korelasi antara kondisi lingkungan dan Covid-19. “Jadi yang mematikan itu tidak hanya Covid-nya tapi juga penyakit penyerta. Kalau kita semua sudah tahu kelompok yang paling berisiko dari penyakit penyerta, dan ini sudah kita sampaikan, mereka kita lindungi termasuk lansia. Dengan demikian kita akan bisa menyelamatkan lebih banyak warga,” jelasnya.



Sumber: BeritaSatu.com