New Normal, Tenaga Medis Diminta Tidak Melakukan Hal Ini

New Normal, Tenaga Medis Diminta Tidak Melakukan Hal Ini
Petugas medis di ICU RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). (Foto: Antara)
Dina Manafe / MPA Selasa, 2 Juni 2020 | 10:43 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com-Indonesia bersiap untuk menghadapi new normal atau era normal yang baru di tengah pandemi Covid-19. Aktifitas sosial dan ekonomi akan kembali normal, tetapi di saat bersamaan kemungkinan penyebaran virus makin besar apabila tidak semua orang menerapkan protokol kesehatan dalam kesehariannya. Oleh karena itu, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) meminta seluruh tenaga medis di Indonesia untuk menerapkan protokol kesehatan ketat guna mencegah terjadinya infeksi silang.

Ketua Umum PB IDI, Daeng Faqih mengatakan, untuk mencegah penularan silang antara tenaga medis dengan pasien, maka ada hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan tenaga medis selama bekerja.

Yang tidak boleh dilakukan, sedapat mungkin jangan mendaur ulang atau menyimpan alat pelindung diri (APD) sekali pakai. APD yang didaur ulang atau modifikasi tidak 100% mencegah infeksi silang.

Menurut Daeng, sekarang ini semua negara memperebutkan APD karena kebutuhannya tinggi. Tetapi, IDI menyarankan tenaga medis tetap menggunkan APD yang ideal. Tidak boleh didaur ulang atau dimodifikasi.

Pada awal pandemi, kata Daeng, banyak tenaga medis memodifikasi APD dengan jas hujan, kantong plastik, baju operasi, dan lain-lain.

“Di lapangan karena situasi kadang memaksa tenaga kesehatan untuk memodifikasi. Mudah mudahan sekarang tidak lagi,” kata Daeng dalam diskusi secara daring Betadine Webiner : Together We Fight Covid-19, Senin (1/6/2020).

Hal lain yang tidak boleh, yaitu jangan menyentuh mata, hitung dan mulut. Kemudian menjaga higinenis tangan. Ini adalah organ tubuh yang menjadi pintu masuk virus ke dalam saluran napas. Organ inilah yang mengantarkan virus menemui reseptornya, kemudian nyaman dan berkembang biak.

Kemudian, tenaga medis jangan pindah ke pasien lain atau ruangan lain selama perawatan sebelum menjalani prosedur higieni tangan. Karena belum tentu ruangan yang lain itu sama dengan sebelumnya. Demikian pula pasien lain tersebut belum tentu penyakitnya sama. Bisa saja pasien yang satu sudah terinfeksi Covid-19 tanpa gejala, dan yang satu tidak terinfeksi.

“Kalau pindah tanpa melalui prosedur kesehatan terutama higiene, bisa menyebabkan terjadinya penularan silang.

CDC dan WHO juga tidak menyarankan tenaga medis menggunakan bahan berbasis benzolkonium chloride.

Sedangkan hal yang boleh dilakukan tenaga medis, yaitu selalu pakai APD yang rasional dan memadai ketika bekerja. APD dipakai selama minimal 6 jam, tanpa dibuka, ke kamar mandi, toilet, keluar ruangan, dan lain-lain. Disarankan menggunakan pampers.

Yang paling penting, menurut Daeng, APD tidak hanya memenuhi sandar, tetapi cara pemakaiannya juga tepat baik itu saat memasang maupun membukanya. Penelitian menujukkan, ruangan APD justru adalah tempat paling berisiko terjadinya penularan silang pada tenaga medis. Kemudian tempat rapat atau pertemuan tenaga medis juga berisiko. Kamar mandi atau toilet tanpa disadari juga menjadi tempat berisiko terjadi penularan.

Lakukan higiene tangan dengan bahan berbasis etanol 60% atau isopranolol 70%. Untuk higiene tangan, hidung, mulut gunakan bahan berbasis antiseptik



Sumber: BeritaSatu.com