Vaping Tingkatkan Risiko Terinfeksi Covid-19

Vaping Tingkatkan Risiko Terinfeksi Covid-19
Rokok elektronik (vape). (Foto: Antara / M Agung Rajasa)
Dina Manafe / IDS Selasa, 2 Juni 2020 | 23:30 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Rokok elektronik alias vape sering diklaim lebih aman karena tidak memiliki kandungan tembakau. Klaim tersebut tidak benar atau hoax menurut Kementerian Kesehatan (Kemkes) dan para ahli.

Dokter Spesialis Paru sekaligus Sekretaris Perhimpunan Doker Paru Indonesia (PDPI), dr Elang Samoedro mengatakan, baik rokok elekronik maupun rokok tembakau atau konvensional sama-sama berbahaya. Sebab, keduanya mengandung nikotin, tar, karbonmonoksida, dan radikal bebas yang semuanya itu bersifat toksik. Sifatnya itu membuat efek di saluran pernapasan sehingga terjadi kerusakan. Kerusakan inilah yang memudahkan terjadinya infeksi, salah satunya infeksi Covid-19.

“Rokok elektronik juga sama merusak epitel dan saluran napas, sehingga bisa berikatan dengan reseptor angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) lebih banyak. Vaping juga membuat paru lebih rentan terjangkit virus dan penyakit, serta melemahkan daya tahan tubuh sehingga mudahkan infeksi,” kata Elang dalam webinar peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2020 yang diselenggarakan Kemkes, Selasa (2/5/2020).

Menurut Elang, rokok elektronik tidak direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai sarana untuk berhenti merokok. Apalagi, merokok secara umum berkaitan erat dengan Covid-19 karena merusak sistem imun yang menyebabkan perokok lebih rentan terkena penyakit infeksi termasuk Covid-19. Rokok menyebabkan kerusakan epitel pada saluran napas.

Ketika epitel rusak, tentu bakteri atau virus akan lebih mudah masuk dan menempel dalam sel tersebut lalu memperbanyak diri dan menyebabkan infeksi.

Menurut penelitian, perokok 2,25 kali lebih mudah tertular Covid-19. Selain itu, rokok juga menyebabkan gejala yang lebih besar dan memiliki risiko kematian lebih tinggi terutama pada wabah MERS Cov.

Elang menjelaskan, kebiasaan merokok meningkatkan jumlah reseptor ACE2, yang juga merupakan reseptor virus SARS Cov-2 penyebab Covid-19. ACE2 adalah protein yang ada di permukaan paru, saluran napas, jantung, ginjal, dan saluran cerna. Ini adalah tempat menempelnya SARS Cov-2 sebelum masuk ke dalam tubuh. Merokok meningkatkan jumlah reseptor ACE2. Paru seorang perokok mengandung 40% hingga 50% reseptor ACE2 lebih banyak dibanding bukan perokok.

Sementara mantan perokok memilki kadar ACE2 yang lebh rendah 30% dibandingkan perokok aktif. Oleh karena itu, berhenti merokok dapat mengurangi risiko terkena Covid-19.

“Baik itu perokok konvensional maupun vaper rentan terhadap Covid-19, karena itu penting untuk segera berhenti,” kata Elang.

Selain vape, produk tembakau lain yang dikonsumsi dengan cara pembakaran seperti sisha atau hookah juga berisiko tinggi menularkan Covid-19 kepada orang lain. Bagian alat sisha seperti selang dan badan botol meningkatkan risiko karena jarang dibersihkan sehingga menjadi sarang virus.



Sumber: BeritaSatu.com