Masuki New Normal, Kemkes Minta Masyarakat Berhenti Merokok

Masuki New Normal, Kemkes Minta Masyarakat Berhenti Merokok
Paru-paru perokok yang sudah terganggu membuatnya rentan terhadap infeksi virus. (Foto: Istimewa)
Dina Manafe / IDS Selasa, 2 Juni 2020 | 23:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Promkes dan Pemberdayaan Masyarakan Kementerian Kesehatan, Rizkiyana Sukandhi Putra mengatakan, memasuki new normal atau era normal yang baru, masyarakat diminta untuk tidak hanya menerapkan protokol kesehatan, tetapi juga berhenti merokok.

Menurut Sukandhi, merokok hanya akan memperburuk kondisi Covid-19. Namun faktanya, jumlah perokok terus meningkat.

Pemerintah menargetkan jumlah perokok pada 2019 seharusnya turun di angka 5.4% dari tahun sebelumnya yang sebesar 9,1%. Alih-alih turun, angka ini justru meningkat menjadi 10,7%. Dengan kondisi yang sama, maka diperkirakan angka ini akan terus meningkat menjadi 15,0% pada 2024 dan 16,0% pada 2030.

“Bayangkan, berapa kentungan yang diraup industri rokok dari investasi ini, dan berapa kerugian yang ditimbulkan akibat konsumsi rokok,” katanya dalam webinar peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2020 yang diselenggarakan Kemkes, Selasa (2/5/2020).

Ia mengatakan, rokok elektronik yang disebutkan aman dan menjadi alternatif berhenti merokok tidaklah benar. Namun pencitraan yang dibangun dari rokok elektronik ini berhasil meningkatkan konsumsi terutama pada anak dan remaja. Kemkes mencatat hanya dalam rentang dua tahun, jumlah perokok elektronik pada usia 10-18 tahun meningkat tajam dari 1,2% di 2016 menjadi 10,9% di 2018.

Dampak buruk rokok pada perkembangan anak dan remaja tidak main-main. Selain adiksi, nikotin merusak kerja korteks prefrontal yaitu pengatur atensi, ingatan, proses belajar, suasana hati, dan kendali diri yang masih berkembang sampai usia 25 tahun. Ini tentu kontra produktif dengan pengemdangan SDM unggul, berkualitas dan berdaya saing sesuai target pemerintah dalam RPJMN 2020-2024.



Sumber: BeritaSatu.com