Sensivitas Tes Serologi Mampu 100% Mendeteksi Covid-19

Sensivitas Tes Serologi Mampu 100% Mendeteksi Covid-19
Caroline Riady (Foto: istimewa)
Dina Fitri Anisa / ALD Jumat, 12 Juni 2020 | 17:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kasus baru pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 terus bertambah. Untuk itu, selain upaya pencegahan penularan virus SARS-CoV-2, langkah pendeteksian potensi infeksi virus harus terus digalakkan. Namun, tidak sedikit masyarakat yang merasa bingung karena terdapat berbagai pilihan tes untuk mengetahui apakah terinfeksi virus corona. Salah satu yang bisa diandalkan saat ini adalah tes serologi yang memiliki sensitivitas 100% untuk mendeteksi Covid-19.

Wakil Presiden Direktur PT Siloam International Hospitals Tbk, Caroline Riady menjelaskan pentingnya masyarakat untuk mengetahui jenis-jenis tes, dan kapan waktu terbaik untuk melakukannya agar hasil yang didapat maksimal.

Saat ini, tes dilakukan dengan dua metode, yakni rapid test (tes cepat) untuk menguji antibodi melalui sampel darah, serta tes polymerase chain reaction (PCR) dengan menguji sampel lendir (swab), untuk melihat kehadiran virus di tubuh seseorang.

Rapid test, menurutnya, tingkat akurasinya rendah. Bahkan bisa saja hasil negatif palsu jika orang yang dites berada dalam window period infeksi. Pasalnya, ketika masih belum bergejala (asimptomatik) atau masih dalam periode inkubasi, kehadiran antibodi seseorang belum dapat dideteksi oleh rapid test.

“Antibodi ini reaksi tubuh setelah virus itu masuk ke dalam tubuh. Sehingga, ada jeda waktu untuk mendeteksi virus dengan antibodi, karena antibodi belum terbentuk. Untuk akurasi, antibodi juga terpengaruh oleh sudah berapa lama orang tersebut terinfeksi,” jelasnya dalam diskusi virtual bertema “Back to Work and Building Resilience in The Pandemic Era: Establishing The New Normal”, yang diselenggarakan Siloam Hospitals, Jumat (12/6/2020) pagi. Diskusi yang dipandu Head Strategic Planning Siloam Hospitals Charles Wonsono tersebut juga menghadirkan sejumlah praktisi dan pakar kesehatan.

Untuk itu, orang tanpa gejala (OTG) yang memiliki riwayat kontak harus menunggu dua minggu hingga gejalanya muncul, sebelum dapat menjalani rapid test. Setelah masa inkubasi ini lewat, barulah pasien memasuki fase awal infeksi.

“Tes antibodi ini tidak 100% spesifik. Jadi mungkin saja orang yang terinfeksi dari virus yang lain tetap reaktif pada saat dites antibodi. Jadi ada antibodi yang terbentuk, tapi antibodi untuk virus yang lain, bukan SARS-CoV-2,” ungkapnya.

Rapid test yang sudah umum digunakan di Indonesia ini memang hanya bisa digunakan sebagai skrining atau penyaringan awal. Sementara itu untuk mendiagnosis seseorang terinfeksi Covid-19, hasil pemeriksaan swab yang digunakan.

Caroline menerangkan, meskipun menjadi golden standard dalam pemeriksaan virus Covid-19, masyarakat yang ingin menjalani swab test biayanya cukup mahal. Selain itu, hasil pemeriksaan tesnya tidak bisa segera diketahui.

Tes Serologi
Untuk itulah, jaringan rumah sakit Siloam menyediakan alternatif skrining berupa tes serologi antibodi SARS-CoV-2 berbasis lab atau tes serologi antibodi. Tes yang dikerjakan oleh instrumen robotik ini memiliki sensitivitas hingga 100% dan spesifitas lebih dari 99,81%. Dengan demikian, hampir tidak ada kasus positif yang tidak terdeteksi.

Selain itu tes ini lolos dari gangguan atau reaksi silang virus flu biasa dan coronavirus lain selain SARS-CoV-2. Dengan demikian, tes ini betul-betul dapat memastikan antibodi yang timbul adalah paparan dari SARS-CoV-2 atau Covid-19.

Tes serologi antibodi ini telah diakui oleh Conformite Europene (CE), Emergency Use Authorization (FDA EUA), dan National Health Service (NHS). Tes ini juga digunakan di Amerika Serikat, Australia, Eropa, Inggris, dan Singapura.

“Tes serologi adalah alternatif deteksi Covid-19 selain PCR dan rapid test yang saat ini digunakan pemerintah. Dari segi harga pemeriksaan, PCR jauh lebih mahal,” terangnya.

Lantas, kapan serangkaian tes ini bisa dijalani oleh seseorang? Dokter spesialis patologi klinik, David Rustandi mengatakan, pertama tes skrining dapat digunakan apabila seseorang diketahui memiliki aktivitas luar ruang di kawasan zona merah. Kedua, apabila orang tersebut telah mengetahui bahwa terdapat rekan kerja, ataupun tetangga yang telah terinfeksi Covid-19.

“Kalau seseorang yang bekerja di red zone itu, disarankan setiap 10 hari melakukan testing. Jika dikatakan positif, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan PCR,” ungkapnya.



Sumber: BeritaSatu.com