Caroline Riady Paparkan Solusi Berkelanjutan di Era New Normal

Caroline Riady Paparkan Solusi Berkelanjutan di Era New Normal
Wakil Presiden Direktur Siloam Hospitals Group Caroline Riady memotong rambut peserta Hair to Share di MRCCC Siloam Hospitals sebagai wujud berbagi dengan penyintas kanker mendapatkan rambut palsu di Hari Kanker Se-Dunia, Jakarta, Rabu 12 Februari 2020. (Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah)
Dina Fitri Annisa / HA Jumat, 12 Juni 2020 | 20:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Presiden Direktur PT Siloam International Hospitals Tbk, Caroline Riady mengatakan dirinya percaya bahwa penerapan kenormalan baru di era pandemik Covid-19 ini bisa dijalani dengan aman, asalkan dilakukan dengan prinsip yang benar, mematuhi protokol kesehatan yang sudah teruji, dan ada konsistensi dari semua pihak.

Dalam diskusi lewat konferensi video bertajuk "Back to Work and Building Resilience in The Pandemic Era: Establishing The New Normal" yang digelar Siloam Hospitals Group, Jumat (12/6/2020), Caroline mengatakan dampak dan kondisi pandemik ini dipastikan akan berlangsung cukup panjang.

"Tidak hanya dalam beberapa bulan saja, tetapi bisa sampai satu hingga dua tahun," ujarnya dalam diskusi yang dimoderatori oleh Charles Wonsono, Head of Strategic Planning Siloam Hospitals.

Dengan demikian, ia menekankan agar setiap perusahaan bisa membuat solusi yang sifatnya sustainable atau berkelanjutan.

Ia menyebut ada setidaknya empat aspek untuk solusi berkelanjutan. Pertama, solusi yang berkelanjutan memiliki sifat yang scalable, agar solusi tersebut dapat dilakukan dengan skala yang cukup di berbagai tingkat operasional.

Kedua, solusi yang dirancang ini sesuai dengan dana yang tepat bagi perusahaan, dan dapat ditanggung selama berbulan-bulan. Mulai dari penyediaan sarana, fasilitas, hingga biaya operasional kesehatan lainnya.

Selanjutnya, yang tak kalah penting menurutnya adalah soal keselamatan. Karena solusi yang akan dijalani ini merupakan solusi jangka panjang, maka para pemimpin perusahaan harus berpikir terhadap dampak yang ditimbukan dari pilihan yang mereka buat.

"Kalau keamanan dari Covid-19 memang itu tujuannya. Namun, dampak lainnya juga ada jika hal ini dikesampingkan. Jangan sampai solusi yang kita ciptakan justru menimbulkan penyakit lain. Misal, memilih cairan chemical yang aman jika disemprotkan tiap hari dalam jangka waktu yang lama,” terangnya.

Terakhir, solusi yang berkelanjutan juga tidak lepas dari perilaku orang-orang yang menjalaninya. Meski nanti sudah menjadi kebiasaan, menurutnya protokol-protokol yang telah dibuat tidak boleh dianggap enteng dan kemudian dilanggar.

“Jangan terlena dengan alat-alat canggih, tetapi kita melupakan perilaku, karena perilaku adalah bagian yang peting sekali dalam memastikan semua aman. Hal yang perlu selalu diingat adalah bagaimana perilaku yang kita berikan juga dapat diterapkan pegawai, pengunjung, dan juga klien secara konsisten,” jelasnya.

Istilah new normal atau kenormalan baru muncul seiring dengan upaya bertahap untuk melonggarkan pembatasan sosial yang sebelumnya diterapkan akibat pandemik Covid-19 diikuti dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Kebijakan melonggarkan pembatasan ini acap mengundang kekhawatiran terjadinya peningkatan kurva penyebaran virus corona dan munculnya wabah gelombang kedua.



Sumber: BeritaSatu.com