Penanganan Covid-19

BPOM: Klorokuin dan Hidroksiklorokuin Masih Digunakan di Indonesia

BPOM: Klorokuin dan Hidroksiklorokuin Masih Digunakan di Indonesia
Penny K Lukito. (Foto: Antara)
/ AB Sabtu, 20 Juni 2020 | 10:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan sampai saat ini belum ada obat spesifik untuk mengatasi Covid-19, walaupun saat ini telah dipergunakan beberapa obat dalam status obat uji, antara lain klorokuin dan hidroksiklorokuin.

Kepala BPOM Penny Lukito dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (19/6/2020), menyatakan berita tentang dihentikannya penggunaan klorokuin dan hidroksiklorokuin pada keadaan darurat Covid-19 di Amerika Serikat dan di Inggris masih didasarkan pada penelitian yang sedang berlangsung. Akan tetapi, di negara lain, termasuk Indonesia, obat tersebut masih merupakan salah satu pilihan yang digunakan secara terbatas kepada pasien Covid-19.

"Hal ini sejalan dengan persetujuan penggunaan terbatas saat darurat dari BPOM yang dikeluarkan pada April 2020, diutamakan bagi pasien dewasa dan remaja yang memiliki berat 50 kilogram atau lebih yang dirawat di rumah sakit," katanya.

Penny mengatakan dari penelitian penggunaan klorokuin dan hidroksiklorokuin pada pasien Covid-19 yang sedang berlangsung di beberapa rumah sakit di Indonesia menunjukkan hasil sementara yang tidak meningkatkan risiko kematian dibandingkan pengobatan standar penderita tertular SARS-CoV-2.

"Walaupun menimbulkan efek samping pada jantung berupa peningkatan interval QT pada rekaman jantung, tetapi tidak menimbulkan kematian mendadak. Efek samping ini sangat sedikit karena sudah diketahui sehingga bisa diantisipasi sebelumnya," katanya.

Menurutnya, penggunaan klorokuin dan hidroksiklorokuin dapat mempersingkat rawat inap pasien Covid-19 di rumah sakit.

"Penggunaan kedua obat ini harus tetap merujuk pada informasi kehati-hatian tentang adanya risiko gangguan jantung," katanya.

Penggunaan kedua obat itu mengacu Protokol Tata Laksana Covid-19 yang diterbitkan pada April 2020 oleh lima asosiasi profesi, yakni Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesi dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin). Oleh karena itu, penggunaan obat tersebut harus dalam pengawasan ketat oleh dokter dan dilaksanakan di rumah sakit.

"BPOM terus memantau dan menindaklanjuti isu ini serta melakukan pembaruan informasi dan berkomunikasi dengan profesi kesehatan terkait data monitoring efek samping obat di Indonesia, informasi dari WHO, dan otoritas obat negara lain," katanya.



Sumber: ANTARA