90% Kabupaten dengan DBD Juga Laporkan Covid-19

90% Kabupaten dengan DBD Juga Laporkan Covid-19
Petugas melakukan pengasapan (fogging) untuk membasmi nyamuk Demam Berdarah di Perumahan Warga, kawasan Jakarta Timur, Minggu, 12 April 2020. (Foto: Beritasatu Photo / Joanito De Saojoao)
Dina Manafe / IDS Senin, 22 Juni 2020 | 17:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Di waktu yang bersamaan, sejumlah provinsi dan kabupaten/kota dihadapkan dengan beban ganda penyakit infeksi, yaitu Covid-19 dan demam berdarah dengue (DBD). Data Kementerian Kesehatan (Kemkes) per 21 Juni 2020 menyebutkan dari 460 kabupaten/kota yang melaporkan kasus DBD, hampir 90% atau 410 di antaranya juga terinfeksi Covid-19.

Bahkan beberapa daerah yang melaporkan kasus Covid-19 tertinggi juga memiliki jumlah kasus DBD tertinggi. Dari 442 kabupaten/kota endemis DBD, sebanyak 93,4% atau 413 kabupaten/kota terdapat kasus positif Covid-19.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemkes, dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid mengatakan, belum dipastikan adanya korelasi antara DBD dan Covid-19. Namun fenomena ini memang terjadi di beberapa daerah dengan kasus DBD tinggi ternyata juga punya kasus Covid-19 tertinggi. Di antaranya adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.

Misalkan Jawa Timur, yang menempati posisi keempat kasus DBD terbanyak sebanyak 5.104 kasus dan jumlah positif Covid 19 sebanyak 9.857 atau urutan kedua setelah DKI Jakarta. Contoh lainnya Jawa Barat berada di posisi pertama dengan kasus DBD terbanyak 10.594, dan Covid-19 di urutan keempat sebanyak 2.865 kasus.

Jika dilihat dari jumlah penduduk, bisa jadi jumlah kasusnya tinggi karena populasi di daerah tersebut juga banyak. Namun menurut Nadia, dimungkinkan seseorang yang terinfeksi Covid-19 dapat juga berisiko untuk terkena DBD.

Sebab, baik DBD maupun Covid-19 pada prinsipnya merupakan penyakit infeksi yang sama-sama disebabkan virus, dan sampai sekarang belum ada obat maupun vaksin yang benar-benar efektif. Kalau pun DBD sudah ada vaksinnya, itu belum terlalu efektif.

“Jadi dimungkinkan seseorang terinfeksi Covid-19 juga berisiko DBD. Kami sedang dalam proses kajian mengapa ini terjadi dengan melihat data yang sudah terjadi,” kata Nadia Tarmizi pada telekonferensi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Graha BNPB, Senin (22/6/2020).

Kemkes juga mencatat ada 10 kabupaten/kota dengan jumlah kasus DBD tertinggi. Daerah tersebut adalah Kabupaten Buleleng 2.677 kasus, Kabupaten Badung 2.138, Kota Bandung 1.748, Kabupaten Sikka 1.678, Kabupaten Lombok Barat 1.349, Kota Denpasar 1.266, Kabupaten Gianyar 1.224, Kota Jakarta Timur 1.173, Kabupaten Malang 1.021, dan Kota Jakarta Barat 1.082.



Sumber: BeritaSatu.com