Banyak Hotel Kosong, Penderita DBD di 4 Kabupaten di Bali Terbanyak Se-Indonesia

Banyak Hotel Kosong, Penderita DBD di 4 Kabupaten di Bali Terbanyak Se-Indonesia
Penderita demam berdarah dengue. (Foto: Antara)
Dina Manafe / IDS Senin, 22 Juni 2020 | 18:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Upaya penanggulangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) menghadapi tantangan berat sejak terjadinya pandemi Covid-19. Salah satunya adalah banyak bangunan seperti kantor, sekolah, dan hotel yang kosong sehingga menjadi sarang nyamuk aedes aegypti yang menjadi vektor virus dengue.

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan ZoonotikKementerian Kesehatan (Kemkes), dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, ada empat kabupaten/kota di Bali yang termasuk dalam 10 besar dengan kasus DBD terbanyak. Keempatnya adalah Kabupaten Buleleng, Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, dan Kota Denpasar.

“Mungkin karena selama pandemi ini banyak tempat wisata dihentikan dan hotel atau tempat penginapan banyak yang ditinggal dan kosong,” kata Nadia Tarmizi pada telekonferensi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Graha BNPB, Senin (22/6/2020).

Kemkes menyebutkan ada tiga tantangan terbesar dalam menanggulangi penyakit ini. Apalagi menurutnya, sejak pandemi Covid-19 pengendalian DBD menjadi tidak optimal.

Pertama, menurut Nadia, kegiatan juri pemantau jentik (jumantik) tidak optimal lantaran adanya kebijakan sosial distancing atau jaga jarak karena Covid-19.

Kedua, banyak bangunan atau gedung seperti sekolah, perkantoran, rumah ibadah, fasilitas publik, dan terutama hotel ditinggalkan karena kebijakan bekerja, belajar serta beribadah dari rumah selama beberapa bulan terakhir.

Ketiga, masyarakat kebanyakan tinggal di rumah selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah. Namun meski tinggal di rumah, mereka tidak menjalankan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk mencegah penularan dengue.

Memasuki era new normal di mana semua harus hidup berdampingan dengan Covid-19, selain menerapkan protokol kesehatan, masyarakat juga diminta untuk melakukan PSN di tempat umum, seperti sekolah, rumah ibadah, dan terutama hotel.

Karena keterbatasan kegiatan jumantik mendatangi rumah dan mengingatkan warga untuk PSN atau membagikan abate, maka setiap rumah tangga atau keluarga diminta melakukan PSN sendiri. Kalau saat ini masih bekerja, belajar dan beribadah dari rumah, maka sebaiknya lakukanlah kegiatan PSN rutin sekali dalam seminggu.

Menurut Nadia, kunci pemberantasan DBD adalah pada nyamuk aedes aegypti yang membawa virus dengue dan mengigit manusia dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore. Cara paling efektif adalah mencegah jangan sampai digigit nyamuk.

Untuk memutus penularan, maka vektor pembawa virus ini harus dimusnahkan. Salah satu cara yang masih relevan sampai sekarang untuk pengendalian DBD adalah 3M Plus.

Tiga M, yaitu menguras dan menutup tempat penampungan air serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangabiakan nyamuk. Sedangkan Plus, terdiri dari banyak cara yang efektif untuk mencegah gigitan nyamuk, seperti menggunakan obat antinyamuk, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, tidak menggantung pakaian, memperbaiki saluran atau talangan air yang tidak lancar, dan lain-lain.



Sumber: BeritaSatu.com