Pakar: Remaja Sekarang Lebih Rentan Terkena DBD

Pakar: Remaja Sekarang Lebih Rentan Terkena DBD
Ilustrasi penderita penyakit demam berdarah dengue. (Foto: Antara)
Dina Manafe / IDS Senin, 22 Juni 2020 | 19:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan oleh virus dengue dapat menyerang siapa saja dan semua kelompok umur. Namun para pakar menilai, di masa sekarang tren kasus lebih banyak mengarah pada usia remaja.

Ahli infeksi dan pediatri tropik RSCM, dr Mulya Rahma Karyanti mengatakan, banyak sekali remaja yang datang ke rumah sakit dalam fase kritis karena DBD. Bahkan beberapa pasien jatuh dalam kondisi syok hipovolemik. Ini adalah kondisi gawat darurat ketika tubuh kehilangan banyak darah dan cairan, sehingga jantung tidak mampu memompa cukup darah ke seluruh tubuh.

“Pada remaja kadang merasa sering muntah-muntah, sehingga tidak mau minum atau makan. Namun justru ini bikin tambah dehidrasi, lemas, tidur seharian. Apalagi jika remaja itu kos sendirian dan tidak ada yang mengingatkan. Inilah yang kita takutkan,” kata Mulya pada telekonferensi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Graha BNPB, Senin (22/6/2020).

Menurut Mulya, pandemi Covid-19 tidak mempengaruhi pelayanan pasien DBD. Di setiap rumah sakit, ada triase untuk memilah antara pasien Covid-19 dan pasien umum. Ini mudah dilakukan karena gejala yang timbul berbeda antara DBD dan Covid-19, meskipun keduanya sama sama penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus.

DBD menunjukkan gejala selama satu minggu, dan penyebabnya adalah virus dengue yang ditularkan nyamuk aedes aegypti. Keluhan yang muncul biasanya demam tinggi mendadak, kadang disertai muka merah, nyeri kepala, nyeri di bagian belakang mata, dan muntah-muntah. Biasanya disertai perdarahan spontan, seperti mimisan, gusi berdarah, dan bintik bintik merah di kulit. Keluhan ini tidak ada pada pasien Covid-19.

Yang paling diwaspadai dari DBD adalah di hari ketiga sejak muncul gejala. Di hari ketiga obat yang paling efektif sebetulnya hanyalah cairan. Ketika pasien kurang cairan, maka akan muncul tujuh tanda bahaya, yaitu sakit perut, lemas, perdarahan spontan, pembesaran hati, penumpukkan cairan, peningkatan hematrokrit secara bermakna, dan trombosit yang semakin menurun hingga di bawah 100.000 per ul.

Itulah mengapa hari ketiga disebut fase kritis. Karena biasanya terjadi kebocoran pembuluh darah. Ketika bocor akan muncul gejala, seperti cairan keluar, sehingga aliran darah ke otak berkurang.

“Biasanya lemas, tidur terus seharian, asupan makan dan minum sulit, sehingga muntah muntah, tambah dehidrasi, dan tidak buang air kecil lebih dari 4-6 jam. Ini tanda tanda bahaya yang harus diwaspadai oleh orang tua jika ada anak atau keluarga yang muncul gejala ini. Segera bawa ke rumah sakit,” kata Rahma.

Di saat mengalami demam atau panas tinggi 39 hingga 40 derajat celcius selama 2-3 hari tidak membaik, maka sebaiknya ke rumah sakit. Yang penting jangan sampai dehidrasi. Awasi asupan minum, dan buang air kecil si penderita. Normalnya jika cukup cairan, maka dalam waktu 4-6 jam seharusnya buang air kecil. Jika seharian tidak minum, lemas, tidak kencing selama lebih dari 12 jam, dan muntah-muntah, maka disarankan ke rumah sakit.

Virus dengue penyebab DBD ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti melalui gigitannya. Warna hitam dan putih seperi zebra di bagian kaki adalah cirinya. Nyamuk ini senangnya menggigit manusia di pagi hari jam 10.00 sampai 12.000 WIB. Kemudian di sore hari jam 16.00-17.00 WIB.

Cara efektif untuk menghentikan gigitan nyamuk adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Ini bisa dilakukan dengan kegiatan 3M Plus, yang tujuannya membunuh jentik sehingga tidak berkembang menjadi nyamuk dewasa.



Sumber: BeritaSatu.com