Dampak Covid-19, 16.000 Anak di Jatim Alami Depresi

Dampak Covid-19, 16.000 Anak di Jatim Alami Depresi
Ilustrasi depresi wanita (Foto: alodokter.com)
Amrozi Amenan / FER Kamis, 25 Juni 2020 | 22:21 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Pandemi virus corona atau Covid-19 telah menyebabkan tatanan kehidupan masyarakat mengalami perubahan cukup drastis. Hal ini kemudian menjadi penyebab banyaknya masyarakat mengalami depresi atau stres, termasuk anak-anak di Jawa Timur (Jatim)

Baca Juga: Tiga Pilar Hidup Sehat di Era Normal Baru

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan Provinsi Jatim, Andriyanto mengatakan bahwa ketahanan keluarga sedang diuji. Ada banyak persoalan yang kemudian muncul dalam keluarga akibat Covid-19. Selain kesulitan ekonomi dan banyaknya jumlah anak yang terkonfirmasi positif di Jatim, kasus lain yang muncul adalah besarnya jumlah anak yang mengalami depresi.

"Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menyebutkan, ada sekitar 1,6 persen anak alami depresi. Dari 42 juta jiwa penduduk Jatim, maka anak usia 0 tahun hingga 18 tahun mencapai 10,87 juta. Artinya, 16.000 anak di Jatim mengalami depresi selama masa Covid-19. Ini fakta,” ujar Andriyanto saat webinar Aliansi Pelajar Surabaya (APS) dengan tema 'Mental anak menghadapi New Normal, apa peran kita?' yang didukung oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, Kamis (25/6/2020).

Adrianto mengatakan, pandemi Covid-19 telah menyebabkan angka stunting di Jatim mengalami kenaikan. Padahal di 2019, Jatim telah berhasil menekan angka sunting dari 30,8 persen menjadi 27,5 persen.

"Bahwa di tahun 2019 kita sukses menurunkan angka stunting. Tetapi pada tahun 2020 ada survei ketahanan pangan, ternyata kecukupan pangan anak turun drastis. Orang tua banyak yang mengalami PHK, sehingga persoalan ekonomi menjadi catatan," tegasnya.

Webinar Depresi Anak

Baca Juga: Gagal Mudik Bisa Memicu Gangguan Jiwa?

Menurut Adrianto, agar anak bisa beradaptasi dengan protokol Covid-19 dan tidak mengalami depresi, maka pada masa transisi era kenormalan baru ini anak harus diajak berhijrah dengan me-manage mental mereka. Pasalnya, transisi new normal sama artinya dengan berhijrah.

"Ini harus kita bangun. Jadi sebenarnya berdamai dengan Covid-19 itu bagaimana kita me-manage mental anak. Anak jangan dijadikan obyek, anak harus dijadikan subyek. Kalau seandainya anak berani menegur teman dan orang tua, ini menjadi sesuatu yang luar biasa. Berikan peran, berikan saluran kepada mereka supaya mereka bisa memasuki pada jalan yang lurus,” papar Andriyanto.

Selain itu, lanjut Adrianto, perlu juga solusi lain, seperti misalnya menyisipkan ibadah. "Karena agama dalam kondisi seperti ini menjadi sebuah solusi jitu," imbuhnya.

Pendiri Yayasan Alit Indonesia, Yuliati Umrah mengatakan, untuk membiasakan anak disiplin melaksanakan protokol kesehatan harus diawali oleh orang tuanya. Karena sebenarnya mereka adalah manusia peniru.

Baca Juga: Jaga Imunitas Tubuh dengan Protein Hewani

"Anak sangat meniru orang tua, anak jauh lebih mudah dikasih contoh. Tinggal orang dewasa ini memberikan contoh kongkrit. Karena biasanya perilaku orang dewasa ini absurd, yang dikatakan dengan yang dilakukan tidak sama. Inilah yang kemudian menjadikan anak-anak semakin tertekan dan stres,” tutur Yuli.

Disisi lain, agar anak tidak mengalami depresi, maka menurut Yuli, anak harus diberikan ruang untuk berekspresi. Bagaimana ruang yang biasa dinikmati saat di sekolah dan di luar rumah bisa kembali dinikmati di dalam rumah.

"Bagaimana ruang rumah menjadi nyaman bagi anak. Anak-anak punya energi lebih, ini dikemanakan. Ruang partisipasi anak harus diperbanyak, terutama pada minat dan bakat mereka,” tambahnya.

Direktur Lembaga Psikologi dan Pengembangan SDM Media Hati, Nurul Indah Susanti yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Bidang SDM dan Ketenagakerjaan Kadin Jatim mengatakan, anak-anak membutuhkan lingkungan dan tempat yang menjadi media berekspresi dan mereka butuh kesempatan yang banyak.

Baca Juga: Pandemi Covid-19, Kesehatan Jiwa Juga Perlu Dijaga

"Anak itu tidak ingin yang bertele-tele, beri mereka ruang, penghargaan, cinta, kasih sayang dan perhatian yang lebih,” ujarnya.

Sementara Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto menyatakan, dalam situasi seperti ini, semua lapisan masyarakat harus saling mendukung dengan melakukan peran masing-masing.

"Kami di Kadin telah berupaya menyosialisaikan kewajiban melaksanakan protokol Covid-19 pada industri. Kampanye protokol kesehatan di lingkungan masing-masing dilakukan agar terputus mata rantai penyebaran Covid-19. Karena kalau tidak dilakukan, maka anak-anak kita tidak bisa sekolah dan orang tuanya juga tidak bisa bekerja,” kata Adik.



Sumber: BeritaSatu.com