Jaga Kesehatan Mental Selama Pandemi Covid-19

Jaga Kesehatan Mental Selama Pandemi Covid-19
Ilustrasi stres (Foto: amiablevibes)
Indah Handayani / FER Kamis, 25 Juni 2020 | 22:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pada masa pandemi, mulai dari himbauan untuk di rumah saja hingga masa era normal baru ini, masyarakat mulai menjalani kebiasaan dan cara hidup baru. Akan tetapi, kondisi ini juga berimplikasi pada kesehatan mental.

Baca Juga: Dampak Covid-19, 16.000 Anak di Jatim Alami Depresi

Psikolog @rumah.dandelion, Nadya Pramesrani Mpsi mengatakan, menurut penelitian dari Brooks tahun 2020, masa pandemi memiliki dampak kesehatan mental di berbagai kalangan usia, termasuk usia dewasa, mulai dari depresi, stres, low mood, mudah marah atau merasa terganggu, insomnia, post-traumatic stress disorder (PTSD), hingga kelelahan emosional.

"Untuk menyiasatinya, para ahli menyarankan untuk melakukan kegiatan yang produktif serta menggali potensi diri di era normal baru ini, salah satunya dengan meningkatkan kemampuan kognitif dan mengasah kreativitas," ungkap Nadia dalam webinar HiLo bertajuk 'Menginspirasi Hidup Aktif dan Kreatif di Era Normal Baru' yang digelar secara virtual, Kamis (25/6/2020).

Nadya menambahkan, penelitian dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menemukan, membangun gaya hidup yang aktif, misalnya berolahraga rutin seperti berlari 15 menit setap hari atau berjalan selama 60 menit dan aktif bergerak, dapat menurunkan resiko depresi. Tidak hanya itu, juga bermnafaat melepaskan rasa tegang dan stres, serta meningkatkan energi fisik dan mental melalui produksi endorfin.

"Selain itu, melakukan hobi dan mengeksplorasi hal-hal baru juga bermanfaat untuk bantu meningkatkan tingkat mood dan mengurangi stres. Bahkan, bermula dari hal yang kita sukai, kita dapat mengeksplorasi potensi diri kita untuk menunjang perkembangan diri, baik secara personal maupun profesional atau self-growth," tegas Nadya.

Baca Juga: Tiga Pilar Hidup Sehat di Era Normal Baru

Lebih lanjut, Nadya mengatakan, pada dewasa muda sebenarnya lebih mudah untuk mengenali apa yang disukai atau diingingkan, dibandingkan dengan anak-anak. Hal itu karena dewasa muda memiliki kemampuan berpikir reflektif yang matang. Berpikir reflektif merupakan salah satu kemampuan berpikir tingkat tinggi dan dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendorong proses berpikir selama pemecahan masalah, karena memberikan kesempatan untuk belajar dan memikirkan strategi terbaik dalam proses pemecahan masalah.

"Caranya bisa dengan mulai saja dahulu, lalu mencoba. Jika ternyata suka dilanjutkan. Namun, apabila tidak diulangi kembali sampai menemukan kenyaman dan hobi yang diinginkan," tandas Nadya.

Penulis buku, traveler, sociopreneur dan pendiri Taman Bacaan Pelangi, Nila Tanzil, mengaku awalnya melukis hanya karena ingin mencoba kegiatan baru dan melepas kejenuhan saat dirawat di rumah ketika sakit. Ia pun melukis di atas kertas dan cat air, sesuai dengan pengalaman yang berkesan baginya ketika traveling dulu.

"Ternyata kegiatan itu sangat menyenangkan dan membuat saya merasa lebih rileks di saat sakit dulu. Berapapun usianya untuk mengeksplor potensi diri dan mencoba hal-hal baru di era normal baru ini," kata Nila Tanzil.

Baca Juga: Pandemi Covid-19, Kesehatan Jiwa Juga Perlu Dijaga

Head of Marketing Nutrifood produsen HiLo, Susana, mengatakan, sebagai brand yang dekat dengan konsumen usia aktif, pihaknya terus berinovasi agar tetap relevan dan mendukung kebutuhan nutrisi para usia aktif. Ketika sedang menggali ide inovasi, pihaknya pun tidak sengaja menemukan cerita Nila yang sangat inspiratif ketika memulai melukis serta relevan dengan misi brand-nya untuk menginspirasi hidup aktif dan kreatif.

"Hasil karya lukisan Nila tidak hanya untuk kemasan baru kami, tapi sampai ke gimmick pendukung seperti masker dan mug,” tutup Susana.



Sumber: BeritaSatu.com