Industri Rumah Sakit Hadapi Tantangan di Masa Pandemi Covid-19

Industri Rumah Sakit Hadapi Tantangan di Masa Pandemi Covid-19
Pengunjung menjalani skrining yang dilakukan oleh petugas sebelum memasuki gedung RS Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Jakarta, Sabtu (7/3/2020). Siloam Hospitals Group telah menerapkan beberapa langkah pencegahan penyebaran virus Covid-19 demi keamanan pasien, pengunjung, tenaga medis, dan komunitas sekitar. (Foto: BeritaSatu Photo / Mohammad Defrizal)
Indah Handayani / CAH Selasa, 30 Juni 2020 | 22:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Di masa pandemi Covid-19 melanda dunia, hampir seluruh industri terkena dampaknya. Tak terkecuali industri kesehatan, khususnya rumah sakit. Di sisi lain, industri rumah sakit pun harus menghadapi berbagai tantangan untuk tetap dapat memberikan pelayanan kesehatan, baik pada penderita Covid-19 maupun pasien umum.

Dalam sebuah survei yang dilakukan MarkPlus pada 110 responden mengungkapkan adanya perubahan perilaku konsumen dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dengan fasiltas atau institusi kesehatan selama pandemi terjadi. Jika sebelum pandemi, setidaknya mengunjungi institusi kesehatan setidaknya satu kali dalam satu tahun sebanyak 31,8 persen. Namun, pada masa pandemi, kunjungan ke instutsi kesehatan, seperti klinik dan rumah sakit turun drastis.

Bahkan, dalam survei terungkap bahwa sebanyak 71,8 persen memilih untuk tidak mengunjungi fasiltas kesehatan. Bahkan, selama pandemi responden pun memilih untuk menggunakan pelayanan kesehatan digital untuk melakukan konsultasi mereka.

Baca JugaKetum Persi: Sangat Mulia Swasta Ikut Bisnis Rumah Sakit

Pakar pemasaran yang juga Founder & Chairman MarkPlus Inc Hermawan Kartajaya mengatakan pandemi Covid-19 telah mengguncang dunia. Hasilnya banyak industri yang menderita karena terpukul badai itu, tak terkecuali dengan industri kesehatan, terutama dengan fasiltas kesehatan, yaitu rumah sakit. Tantangan yang dihadapi pun semakin besar di industri ini, terlebih di tahun ini yang penuh ketidakpastian.

Tak pelak ancaman penurunan atau bahkan kerugian pun terbuka lebar. Namun, di balik itu ada pula peluang untuk dapat bertumbuh. “Hal ini tinggal bagaimana para pelakukanya menjawab tantangan ini. Sehingga sangat penting untuk menerapkan konsep surviving atau bertahan, preparing atau bersiap, dan actualizing atau aktualisasi dari yang telah direncanakan (SPA) ditengah pandemi ini,” ungkapnya disela webinar Industry RoundTable Surviving The Covid-19, Preparing The Post - Healthcare Services Industry Perspective, Selasa (30/6/2020).

Sementara itu, Caroline Riady, Vice President Director Siloam Hospitals Group, mengatakan tidak bisa dipungkiri pandemi Covid-19 menghadirkan tantangan baru yang tidak pernah dialami sebelumnya. Meski demikian, setidaknya ada dua tantangan besar yang dihadapi Siloam Hospitals Group pada awal pandemi ini terjadi.

Baca JugaPakar: Kapasitas RS Nasional Cukup Memadai untuk Pasien Covid-19

Pertama adalah tantangan dalam memberikan pelayanan atau asuhan kepada pasien atau masyarakat. Tantangan ini mencakup kemampuan testing dalam mengindetifikasi Covid-19, menjaga keamanan dokter dan staf, penanganan pasien positif Covid-19 dan melayani kebutuhan pasien non covid akan kesehatan.

“Misalnya saja pada wanita hamil yang akan melahirkan, ataupun pasien diabetes, ataupun paisen kanker yang harus dilayani dan kami harus memastikan keamanan para pasien ini,” jelasnya.

Tantangan kedua, lanjut Caroline, adalah berkaitan dengan keberlangsungan bisnis. Tak bisa dipungkiri Covid-19 telah membuat berantakan cash flow. Mengingat selama pandemi pendapatan mengalami menurun. Di satu sisi, biaya operasional meningkat dengan adanya standar prosedur baru dalam mengamankan lingkungan rumah sakit, baik bagi karyawan maupun tenaga medis lainnya. Belum lagi, ketidak pastian di masa depan.

“Akhirya kami dihadapi pilihan antara mengirit cash flow atau tetap memenuhi panggilan untuk tetap melayani pasien dengan cash flow yang tidak menentu. Akhirnya, kami memutuskan untuk investasi agar dapat turut ambil bagian dalam penanganan Covid-19 di Indonsia dan menjadi garda terdepan,” jelasnya.

Investasi Siloam

Menurut Caroline, hal pertama yang dilakukan adalah dengan melakukan investasi untuk menjadi center tes mendeteksi Covid-19 pada awal Maret dan menjadikan Siloam Hospital Grup sebagai salah satu pusat tes swasta pertama yang menyediakan tes Covid-19. Itu dilakukan karena pada saat itu Indonesia masih mengalami keterbatasan fasiltas tes, padahal tes merupakan instrumen utama dalam penanganan Covid-19. Tidak hanya sampai disitu, pihaknya pun terus berinvestasi hingga mendatangkan teknologi terbaru dalam tes Covid-19, yaitu tes Serologi.

Baca JugaSiloam Hospitals Sediakan Tes Serologi Antibodi SARS-CoV-2 Berbasis Lab

Hingga saat ini, tercatat telah melakukan 25.000 tes Swab, 200.000 Rapid Tes, dan tes serelogi sebanyak 58.000. “Itu sangat membantu usaha dalam mengindentifikasi pasien Covid-19,” jelasnya.

Caroline menambahkan hal kedua yang dilakukan adalah dengan mempersiapkan pusat penanganan pasien Covid-19 dengan menghadirkan 1.000 tempat tidur di 39 rumah sakit Siloam Hospitals Group. Angka itu termasuk dua rumah sakit khusus yang ditunjuk Siloam Hospitals Group, yaitu di Kelapa Dua dan Mampang.

Sehingga pihaknya bisa melakukan pemisahan pelayanan antara pasien Covid-19 dengan pasien umum atau non covid,baik dari segi ruangan, dokter, tenaga medis lainnya, maupun fasiltasnya. Alhasil, pelayanan tetap berjalan tanpa adanya potensi penularan di rumah sakit. “Pada pasien yang memeiliki riwayat penyakit kronik pun bsia melanjutkan kembali pengobatannya,” paparnya.

Tidak hanya itu, lanjut dia, pihaknya juga meluncurkan pelayanan telekonsultasi dengan menggandeng partner Aido. Bertujuan untuk memberikan tetap pelayanan pengobatan kepada pasien dengan nyaman dan juga keamanan para dokter dan pasien. Ditambah lagi, hadirnya layanan home care. Mengingat ada beberapa layanan pengobatanan atau medis yang tetap tidak bisa digantikan dan harus dilaksanakan dengan mendatangkan tenaga medis, baik dokter dan perawat, ke rumah pasien.

“Menghadapi new normal, kami juga memberikan pelayanan konsultan kepada institusi yang akan beroperasi kembali dengan baik dan aman sesuai protokol kesehatan. Tercatat beberapa institusi tercatat sudah menjadi partner kami. Inilah yang kami lakukan selama 4 bulan terakhir dalam menawab tantangan pandemi ini,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Terpilih Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr Adib Khumaidi SpOT mengatakan penerapan yang telah dilakukan oleh Siloam Hospitals Group seperti yang diceritakan Caroline menggambarkan kondisi yang idel yang memang diharapkan bagi tenaga medis. Mengingat hal terpenting dalam penanganan Covid-19 adalah kesiapan fasilitas kesehatan. Terlebih, di saat pandemi masyarakat sempat ketakutan untuk berobat ke fasilitas kesehatan mengingat adanya potensi penularan atau cross infection di fasilitas kesehatan, terutama di rumah sakit.

“Sehingga clustering atau pemisahan area sangat diperlukan dalam mengadapi kasus pandemi seperti ini,” tutupnya.



Sumber: BeritaSatu.com