Gugus Tugas Klaim Angka Penularan Covid-19 Melambat

Gugus Tugas Klaim Angka Penularan Covid-19 Melambat
Ilustrasi kampanye pencegahan "corona". (Foto: AFP)
Dina Manafe / CAH Rabu, 1 Juli 2020 | 17:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menyebutkan angka positive rate (rasio jumlah kasus positif dengan jumlah yang diperiksa) secara nasional di Indonesia semakin rendah. Di pertengahan Mei lalu angka positive rate sebesar 13 persen, dan menurun menjadi 12 persen dari data terakhir 28 Juni 2020.

Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, mengatakan pada pertengahan Mei lalu jumlah kasus positif yang dilaporkan sebanyak 3.448 dalam seminggu atau 400 hingga 500 kasus positif per hari. Dengan jumlah pemeriksaan PCR sebanyak 26.000 orang, sehingga angka positive rate sebesar 13 persen. Data terakhir sampai 28 Juni, jumlah kasus positif sebanyak 8.227 dalam seminggu atau lebih dari 1000 per hari. Tetapi orang yang diperiksa spesimennya sebanyak 55.092, sehingga angka positive rate sebesar 12 persen.

“Angka ini bisa diinterpretasikan, pertama, penularannya lebih lambat dibanding sebelumnya. Kedua, semakin besar jumlah testing yang kita lakukan, maka nanti seharusnya angka positive rate-nya semakin rendah,” kata Dewi dalam dialog “Covid-19 Dalam Angka” di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (1/7/2020).

Baca JugaTambah 1.385, Kasus Baru Covid-19 Samai Rekor Terbanyak

Dengan demikian menurut Dewi, tingginya kasus positif tergantung pula dari pemeriksaan dan surveilens. Ketika orang yang diperiksa hanyalah orang sakit, maka sudah pasti angka positifnya akan lebih tinggi. Sebaliknya ketika pemeriksaan lebih banyak pada orang dengan risiko kecil atau bahkan tanpa gejala, maka angka positifnya tentu lebih rendah.

Dewi mengatakan, angka positive rate idealnya menurun standar World Health Organisation (WHO) adalah 5 persen. Namun, untuk mencapai angka ini di Indonesia diperlukan upaya yang lebih besar lagi.

Lebih lanjut Dewi juga menjelaskan mengapa setiap hari jumlah kasus yang dilaporkan terus meningkat. Menurut dia, untuk melihat tren penularan Covid-19 tidak bisa hanya dari angka bulatnya saja. Untuk melihat risiko penularannya dihitung dari jumlah kasus positif dengan jumlah orang yang diperiksa.

Ia mencontohkan ada daerah atau kabupaten/kota A, B, dan C. Daerah A dan B sama-sama memiliki 60 kasus positif. Tetapi, jumlah orang yang dilakukan pemeriksaan itu berbeda antara daerah A dengan daerah B. Jumlah orang diperiksa di daerah A sebayak 100 orang, sementara daerah B diperiksa 300 orang. Dengan demikian angka positive rate di daerah A tentu lebih tinggi, yaitu 60 persen, sedangkan daerah B hanya 20 persen.

Baca JugaSebagian Besar Kasus Covid-19 di Indonesia Muncul di Bulan Juni

Daerah A dengan positive rate 60 persen bermakan potensi penularan atau infeksius dari orang ke orang sangat tinggi. Sementara di daerah C, dari 230 orang yang diperiksa ditemukan 30 orang positif, sehingga angka positive rate-nya adalah 13 persen.

“Jadi kasus positifnya sama, tetapi jumlah orang yang diperiksa juga menentukan apakah daerah tersebut penularannya terjadi sangat cepat atau tidak,” kata Dewi.

Berbeda lagi dengan cara melihat laju insiden Covid-19. Untuk melihat insiden kasus dihitung dari jumlah kasus positif dibandingkan jumlah penduduk di sebuah daerah.

Ia mencontohkan di daerah A dan daerah B sama-sama memiliki 50 kasus positif. Tetapi jumlah penduduknya berbeda, yaitu daerah sebanyak 200 orang, dan daerah B 120 orang. Sementara daerah C sebanyak 150 kasus dengan 400 penduduk.

Dari sisi laju insiden atau insiden kumulatif, di daerah A jumlah kasus positif adalah 25 per 100 penduduk. Sedangkan di daerah B lebih tinggi yaitu 41 per 100 pernduduk, atinya dari 100 penduduk ada 41 kasus positif.

Baca JugaTambah Personel, Gugus Tugas Covid-19 Akan Libatkan Mahasiswa

Dari perhitungan ini maka didapatkan zona risiko daerah. Jika dibandingkan jumlah kasus positif dengan 100.000 penduduk, maka sampai dengan 28 Juni ada 10 provinsi masuk kategori insiden kasus tertinggi. Di peringkat pertama ada DKI Jakarta, lalu Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua, dan Kalimantan Utara. Meskipun dalam seminggu ini kasus di Jawa Timur melonjak melampaui DKI Jakarta, tetapi jika menggunakan ukuran laju insiden, maka tidak sebetulnya Jawa Timur lebih rendah dari lima provinsi di atas.

“Jumlah kasus dan kondisi di tiap daerah itu berbeda, sehingga supaya adil kita bandingkan kasus dengan 100.000 penduduk,” kata Dewi.

Baca Juga: Doni Monardo: Penanganan Covid-19 Butuh Integrasi Komponen di Daerah

Dewi juga mengatakan, dalam satu provinsi belum tentu semua kabupaten/kota masuk zona merah Covid-19. Oleh karena itu tidak tepat jika satu provinsi disebut zona merah secara keseluruhan ketika hanya satu dua kota yang memiliki kasus tinggi. Ia mencontohkan di Jawa Timur, yang tergolong titik merah hanyalah Surabaya dengan jumlah kasus mencapai 6.700. Sementara di Kabupaten Sidoarjo 1.387 kasus atau seperempat dari Surabaya, dan Gresik sepersepuluhnya. Di Jawa Tengah, jumlah kasus di Semarang 1.774 positif, sementara Magelang hanya 46, dan Tegal 6. 



Sumber: BeritaSatu.com