Pakar Epidemiologi: Membuat Vaksin Covid-19 itu Tidak Mudah

Pakar Epidemiologi: Membuat Vaksin Covid-19 itu Tidak Mudah
Mahasiswa memasukkan cairan kimia ke botol takar untuk mengetahui khasiat daun dan kulit buah yang dijadikan obat tradisional di Kampus Politeknik Bina Husada Kendari, Kendari, Sulawesi Tenggara, belum lama ini (Foto: Antara Foto)
Dina Manafe / EAS Rabu, 1 Juli 2020 | 23:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Upaya menemukan dan membuat vaksin hingga saat ini dilakukan serius oleh para ahli di dunia. Tercatat sekitar 120 laboratorium di seluruh dunia sedang mengembangkan vaksin Covid-19.

Saat ini diakui belum ditemukan satu obat khusus yang pasti untuk menyembuhkan orang terinfeksi Covid-19. Bahkan juru bicara pemerintah untuk Penanganan Covid-1, Achmad Yurianto, mengatakan penemuan vaksin tidak mudah.

Di Indonesia sendiri, banyak macam obat, jamu maupun herbal yang diklaim bisa menyembuhkan Covid-19. Salah satunya Badan Intelijen Negara (BIN) dan Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya yang belum lama ini mengumumkan kombinasi obat yang bisa digunakan untuk penanganan virus Covid-19.

Pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dr Pandu Riono mengingatkan semua pihak bahwa meski dalam kondisi darurat, semua proses pembuatan obat maupun vaksin harus memenuhi prosedur sesuai ketentuan yang ada.

“Meski dalam situasi darurat, harus tetap memperhatikan keselamatan publik. Janganlah melampaui batas tupoksi, siapa pun, karena ini berbasis ilmu pengetahuan,” kata Pandu dalam keterangan tertulis kepada Suara Pembaruan, Rabu (1/7/2020).

Pandu mengingatkan semua pihak harus mengikuti prosedur untuk mengklarifikasi keabsahan obat tertentu. Sebab sudah terbukti ada sebagian obat yang diklaim sebagai obat Covid-19. Faktanya ada yang bermanfaat, tetapi ada pula yang tidak. Jangan sampai klaim seperti ini membuat masyarakat bingung.

"Orang bilang ini riset, tetapi bagaimana metodologinya? Bagaimana mungkin temuan dari sel langsung loncat menjadi clean bagi manusia. Seharusnya Badan POM menyatakan ini belum bisa. Tidak perlu basa-basi,” kata Pandu.

Pandu juga menyoroti soal rapid test yang masif dilakukan. Menurutnya, rapid test tidak ada manfaatnya untuk merespons pandemi. Pasalnya, yang harus ditingkatkan adalah kemampuan polymerase chain reaction (PCR) atau tes cepat antigen, bukan antibodi.

Pandu mengatakan, penanggulangan Covid-19 harus fokus. Pada masa pandemi saat ini, seharusnya 70% - 80% orientasinya adalah kesehatan masyarakat, bukan klinis atau pengobatan.

Sementara Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi mengingatkan bahwa menemukan jenis obat apa pun atau vaksin untuk Covid-19 haruslah berbasis keamanan dan keselamatan konsumen.

Obat tersebut harus lolos uji klinis, sehingga memenuhi standar efektivitas, manfaat, aman dan stabil untuk dikonsumsi oleh pasien Covid-19. Tulus menegaskan, lembaga mana pun termasuk BNPB dan BIN mestinya tidak membuat atau mendistribusikan obat atau vaksin sebelum mendapat lampu hijau dari Badan POM.



Sumber: BeritaSatu.com