PMI dan HSBC Sumbang APD untuk Tiga Provinsi

PMI dan HSBC Sumbang APD untuk Tiga Provinsi
Ilustrasi alat pelindung diri. (Foto: AFP)
Dina Manafe / CAH Kamis, 2 Juli 2020 | 14:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Palang Merah Indonesia (PMI) bermitra dengan PT Bank HSBC Indonesia (HSBC Indonesia) menyumbang alat pelindung diri (APD) bagi para petugas medis di beberapa daerah di Indonesia, terutama di tiga provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Tiga provisi ini berdasarkan laporan Gugus Tugas Nasional merupakan provinsi dengan jumlah kasus positif terbanyak.

Pengurus PMI Pusat, dokter Heru Aryadi, mengatakan, saat ini APD masih sangat dibutuhkan mengingat pertambahan kasus terkonfirmasi positif di Indonesia terus terjadi. Dia menyebut kebutuhan APD di rumah sakit yang merawat pasien Covid-19 mencapai 200 pcs per hari.

“Berdasarkan pengamatan, rata-rata pasien Covid-19 dirawat selama 20 hari. Kalau rata-rata 10 APD perhari untuk satu pasien, berarti 10 dikali 20 hari, per pasien berarti butuh 200 APD,” kata Heru pada webinar bertema “Tetap Waspada di Masa New Normal” sekaligus penyerahan secara simbolis bantuan APD tersebut, Rabu (2/7/2020). Acara ini juga dihadiri Ketua Umum PMI, Jusuf Kalla.

Baca JugaSekjen PMI: Kegiatan PMI Netral dan Tidak Ada Pungutan

Heru menambahkan, kebutuhan APD untuk relawan PMI juga tak kalah penting dengan penggunaannya bagi petugas medis. Relawan penyemprot disinfektan misalnya, membutuhkan APD untuk melindungi diri dari paparan zat kimia. Terlebih bagi relawan yang melakukan pelayanan evakuasi pasien serta penguburan jenazah Covid-19 yang memerlukan APD Level 3.

Menurut data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 hingga 30 Juni 2020, jumlah APD yang telah didistribusikan ke seluruh daerah sekitar 4,5 juta unit lebih. Provinsi dengan distribusi APD terbanyak adalah Jawa Timur sebanyak 750.284, DKI Jakarta 668.990, Jawa Barat 582.110, Jawa Tengah 445.550, dan Banten 165.165 unit.

Sekjen PMI, Sudirman Said mengatakan, meski pembatasan sosial berskala besar (PSBB) telah dilonggarkan, tetapi perjuangan melawan Covid-19 masih panjang. PMI melihat adanya potensi risiko dengan mulai dibukanya ruang-ruang publik seperti mal, taman, bahkan sekolah.

Menurut Said, kurva kenaikan penderita Covid-19 di Indonesia belum melandai. Sedikit kelalaian sangat berisiko menimbulkan kenaikan angka kasus positif yang menyebabkan gelombang kedua serangan Covid-19. Untuk itu, di masa transisi ini, masyarakat dipandang perlu dibiasakan untuk hidup dengan protokol kesehatan ekstra. Dengan demikian diharapkan terjadi transisi yang mulus ke masa new normal atau adaptasi kebiasaan baru di masa depan.

Jangan Takut Donor Darah Saat Pandemi Covid-19

Dengan tingkat kesiapan tiap daerah yang berbeda-beda dalam menghadapi new normal, perjuangan melawan Covid-19 di Indonesia memerlukan dukungan semua pihak, termasuk sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini peran tenaga kesehatan menempati posisi kunci dalam upaya memberikan layanan kesehatan secara optimal kepada masyarakat yang membutuhkan.

Head of Corporate Sustainability PT Bank HSBC Indonesia, Nuni Sutyoko, mengatakan pelonggaran PSBB diperlukan untuk menghidupkan kembali roda perekonomian. Karenanya perlu dibangun kepedulian masyarakat untuk dapat menjaga standar sanitasi dan kebersihan yang tinggi. Karena dengan masyarakat yang sehat bangsa Indonesia dapat membangun perekonomian secara lebih berkelanjutan.

“Untuk itu kami sangat menghargai inisiatif PMI untuk membantu menyediakan bantuan berupa APD dan menjangkau para tenaga medis yang masih sangat membutuhkan,” kata Nuni. 



Sumber: BeritaSatu.com