Siapkah Masyarakat Indonesia Jalani New Normal?

Siapkah Masyarakat Indonesia Jalani New Normal?
Caroline Riady (Foto: istimewa)
Indah Handayani / FER Sabtu, 11 Juli 2020 | 19:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi Covid-19 di Indonesia telah memasuki era adaptasi kebiasaan baru atau new normal. Semua aktivitas pun akan kembali berjalan meski harus hidup berdampingan dengan Covid-19.

Baca Juga: Siloam Alokasikan Capex Rp 400 Miliar untuk Bangun RS

Sayangnya, di era adaptasi kebiasaan baru ini malah menunjukan pertumbuhan angka kasus penderita positif Covid-19 yang terus meningkat. Bahkan, telah beberapa kali menembus rekor tertinggi harian.

Kondisi ini tentu saja menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran di tengah masyarakat saat akan menjalani new normal. Lalu, pertanyaanya, apakah kita siap menjalani new normal?

Vice President Director Siloam Hospitals Group, Caroline Riady mengatakan, sudah sejak dahulu berbagai penyakit virus dan bakteri, diantara tubercolosis (TB), malaria, dan demam berdarah, telah ada di tengah kehidupan manusia. Namun, seringnya kebanyakan orang tidak menyadari hal itu.

"Sejak merebaknya pandemi Covid-19, masyarakat menyadari kehadiran virus dan bahayanya. Alhasil, masyarakat baru sadar untuk menerapkan pola hidup bersih. Hal ini menunjukan bahwa respon masyarakat akan kehati-hatian dan takut kehadiran virus," kata Caroline Riady di acara zoom webinar Siloam Hospitals TB Simatupang bertajuk "New Normal Means New Danger?" yang digelar secara virtual, Sabtu (11/7/2020).

Baca Juga: Siloam Sukses Melakukan Inovasi Faskes New Normal

Sayangnya, kata Caroline, setelah kebijakan pembatasan sosial berkala besar (PSBB) dijalankan dan kemudian dilonggarkan, hingga akhirnya diterapkan new normal, sikap kehati-hatian tersebut semakin berkurang. "Terlebih, masyarakat harus kembali beraktivitas dan tentu kekhawatiran akan virus masih sangat tinggi. Menjadi pertanyaan apakah masyarakat masih perlu takut?,” ungkap Caroline.

Menurut Caroline, di masa saat ini ada dua tendensi atau bahaya yang harus dilawan. Pertama, tendensi ketidaktahuan atau ketidakpedulian akan perilaku yang benar terhadap pencegahan Covid-19. Sikap yang dicerminkan adalah dengan pasrah atau tidak berdaya, bahkan tidak mau mencari tahu. "Hal ini tentu saja akan membayakan diri sendiri atau orang yang ada di sekeliling kita," jelasnya.

Kedua, lanjut Caroline, mencari tahu sehingga menjadi sangat khawatir dan ketakutan yang tidak berbasis. Sehingga, malah menjadi penghambat masyarakat dalam melakukan aktivitas yang justru perlu dilakukan.

"Semua hal itu, obatnya hanyalah pengertian yang tepat dan benar mengenai Covid-19. Mulai dari penyebaran, dan perilaku untuk memutus penyebaran rantai virus ini," tegas Caroline Riady.

Baca Juga: Industri RS Hadapi Tantangan di Masa Pandemi

Dokter spesialis penyakit dalam Siloam Hospitals TB Simatupang, dr Jimmy Tandradynata SpPD menambahkan, situasi yang dihadapi Indonesia sama dengan negara-negara tetangga seperti Australia, Selandia Baru, dan Malaysia.

"Mereka menerapkan lockdown. Dari segi dunia kesehatan, jalan terbaik untuk memutus rantai penyebarah adalah lockdown. Namun, namun ada konsekuensi tersendiri mulai dari sosial dan ekonomi. Akhirnya, pemerintah Indonesia menetapkan semi lockdown yang disebut dengan PSBB," jelas dr Jimmy.

Namun, lanjut dr Jimmy, sayangnya tidak ada sanksi yang tegas bagi mereka yang melanggar. Kondisi tersebut, diakibatkan oleh kesadaran masyarakatnya yang masih minim dan kebanyakan aturan atau kebijakan tidak dilaksanakan.

"Contohnya, hingga saat ini masih banyak orang yang berkumpul, bahkan berwisata yang tentunya malah akan meningkatkan resiko penularan,” ucap dr Jimmy.

Baca Juga: Siloam dan Link Net Sumbang 1.000 Rapid Test Kit

Alhasil, lanjut dr Jimmy, menjawab pertanyaan apakah Indonesia siap menjalani new normal, tentu saja harus siap dipaksa untuk masuk ke new normal dengan beberapa hal yang harus diperbaiki. Mulai dari pemerintah yang harus meningkatkan kapasitas testing, hingga pemerataan testing tersebut di berbagai daerah di Indonesia.

"Sementara, dari segi pengawasan, adanya sanksi tegas apabila masyarakat tidak menerapkan protokol kesehatan, seperti social distancing dan pemakaian masker," tandas dr Jimmy.



Sumber: BeritaSatu.com