Terdesak Ekonomi, Masyarakat Lalai Terapkan Protokol Kesehatan

Terdesak Ekonomi, Masyarakat Lalai Terapkan Protokol Kesehatan
Sosiolog Unas Sigit Rochadi soal intoleran di Jakarta, Lunch Talk, Senin (10/12) (Foto: BeritaSatu TV)
Dina Fitri Anisa / EAS Senin, 13 Juli 2020 | 22:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kepatuhan masyarakat untuk menaati protokol kesehatan berdampak pada tingkat penyebaran Covid-19. Namun sayang, belum semua masyarakat Indonesia menyadari pentingnya mematuhi protokol kesehatan.

Sosiolog dari Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Sigit Rochadi mengatakan, salah satu faktor penyebab rendahnya tingkat disiplin masyarakat terhadap penerapan protokol kesehatan adalah karena desakan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, pekerja adalah golongan masyarakat yang lalai dalam melaksanakan protokol kesehatan.

Ia mengatakan, demi memenuhi kebutuhan pokok keluarga mereka tetap melakukan mobilitas kerja yang tinggi. Sebagian besar mereka adalah pekerja informal dengan pendapatan yang tak menentu. Semisal, pedagang kaki lima, ojek daring, dan beberapa lainnya.

Kemudian golongan pekerja ke dua adalah mereka yang memiliki ikatan dengan perusahaan atau lembaga yang memgharuskan para pekerjanya dilakukan secara kolektif. Misal akademi kepolisian ataupun lembaga pendidikan kedinasan.

"Sebagian besar adalah mereka yang secara ekonomi merasa kekurangan. Kalau kita lihat perkembangannya, klaster baru sentral penularan Covid-19 saat ini adalah tempat kerja. Perusahaan-perusahaan. Ini laporan dari beberapa tempat kerja, yaitu Bekasi, Semarang, Jawa Timur,” terang SIgit saat dihubungi Suara Pembaruan, Minggu (12/7/2020).

Menurutnya, ini merupakan situasi yang dilematis bagi pemerintah yang kini perlahan membuka sektor perekonomian demi menghidupkan roda ekonomi masyarakatnya. Mengingat, dalam setiap pelonggaran pasti terdapat lonjakan kasus di dalamnya.

“Perusahaan itu menjadi klaster baru penyebaran Covid-19, karena tidak menerapkan protokol kesehatan lagi. Ada asumsi setelah bulan juni, dianggap situasi sudah aman. Asumsi ini yang harus diingatkan. Kita masih krisis,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, dapat dikaitkan bahwa ketidakpatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan sebagian besar juga terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap wabah penyakit Covid-19.

Masyarakat kurang memiliki pemahaman seberapa rentan mereka tertular Covid-19, seberapa parah penyakit ini, apa manfaat melakukan pencegahan, serta juga kurangnya petunjuk untuk bertindak.

Dengan demikian, pemerintah perlu menyadarkan mereka terkait bahaya virus Covid-19. Sebab ia melihat sejauh ini pemerintah masih belum bisa mengkomunikasikan secara luas pemahaman akan krisis dan dampak dari pandemi Covid-19 kepada seluruh lapisan masyarakat.

Hal inilah yang menyebabkan tak kunjung adanya perubahan sikap sosial secara masif di masyarakat terutama mereka yang berada di akar rumput. Ia pun mengatakan, masyarakat yang memiliki literasi lebih tinggi kemungkinan masih akan melakukan protokol kesehatan sebagai bagian dari gaya hidup. Semisal, menjaga jarak, mencuci tangan, dan juga memakai masker di tempat umum.

“Warga kita, sejak dulu sulit taat pada aturan. Produktivitas rendah Indonesia karena tidak disiplin. Mentalitas seperti ini yang harus diubah,” tutur Sigit. 



Sumber: BeritaSatu.com