Menkes Ganti Istilah ODP, PDP, dan OTG untuk Covid-19

Menkes Ganti Istilah ODP, PDP, dan OTG untuk Covid-19
Terawan Agus Putranto. (Foto: Beritasatu Photo / Ruht Semiono)
Dina Manafe / WBP Selasa, 14 Juli 2020 | 14:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto menghapus istilah orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), dan orang tanpa gejala (OTG) untuk mereka yang berisiko maupun sudah terinfeksi Covid-19. Perubahan istilah ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan 413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 yang diterbitkan pada Senin, 13 Juli 2020.

Dalam Bab III Kepmenkes ini diatur bahwa istilah ODP, PDP, dan OTG diganti dengan istilah kasus suspek, kasus probable, kasus konfirmasi, dan kontak erat. Selain itu dikenal istilah pelaku perjalanan, discarded, selesai isolasi, dan kematian.

Kasus suspek didefinisikan seseorang yang memiliki salah satu dari tiga kriteria berikut. Pertama, orang dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal.

Kedua, orang dengan salah satu gejala atau tanda ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi/probable Covid-19. Ketiga, orang dengan ISPA berat atau pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

“Istilah PDP saat ini dikenal kembali dengan istilah kasus suspek. Dikatakan ISPA yaitu demam sama atau lebih dari 38 derajat C atau riwayat demam dan disertai salah satu gejala penyakit pernapasan seperti batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, pilek, pneumonia ringan hingga berat,” demikian bunyi Kepmenkes tersebut dikutip Beritasatu.com, Selasa (14/7/2020).

Kemudian kasus probable didefinisikan sebagai kasus suspek dengan ISPA berat/ARDS atau meninggal dengan gambaran klinis yang meyakinkan Covid-19 dan belum ada hasil pemeriksaan laboratorium RT-PCR.

Baca juga: Deteksi Covid-19, Ini Tiga Metode Covid-19 yang Dipakai

Sementara kasus konfirmasi adalah seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi virus Covid-19 yang dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium RT-PCR. Kasus konfirmasi dibagi menjadi dua, yaitu kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik), dan kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik).

Kasus kontak erat adalah orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau konfirmasi Covid-19.

Riwayat kontak yang dimaksud antara lain, kontak tatap muka atau berdekatan dengan kasus probable atau kasus konfirmasi dalam radius 1 meter dan dalam jangka waktu 15 menit atau lebih. Ada sentuhan fisik langsung dengan kasus probable atau konfirmasi, seperti bersalaman, berpegangan tangan, dan lain-lain.

Kemudian mereka yang memberikan perawatan langsung terhadap kasus probable atau konfirmasi tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai standar. Situasi lainnya yang mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian risiko lokal yang ditetapkan oleh tim penyelidikan epidemiologi setempat,” bunyi aturan tersebut. "Pada kasus probable atau konfirmasi yang bergejala, untuk menemukan kontak erat periode kontak dihitung dari 2 hari sebelum kasus timbul gejala dan hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala," kata Kepemenkes ini.

Sedangkan pada kasus konfirmasi yang tidak bergejala untuk menemukan kontak erat periode kontak dihitung dari 2 hari sebelum dan 14 hari setelah tanggal pengambilan spesimen kasus konfirmasi.

Istilah lain yang juga diatur dalam Kepmenkes ini, yaitu pelaku perjalanan. Istilah ini digunakan untuk seseorang yang melakukan perjalanan dari dalam negeri (domestik) maupun luar negeri pada 14 hari terakhir.

Sedangkan istilah discarded adalah apabila seseorang memenuhi salah satu kriteria berikut. Pertama, seseorang dengan status kasus suspek dengan hasil pemeriksaan RT-PCR 2 kali negatif selama 2 hari berturut-turut dengan selang waktu di atas 24 jam. Kedua, seseorang dengan status kontak erat yang telah menyelesaikan masa karantina selama 14 hari.

Sementara istilah selesai isolasi adalah apabila memenuhi salah satu kriteria berikut. Pertama, kasus konfirmasi tanpa gejala yang tidak dilakukan pemeriksaan lanjutan RT-PCR dengan ditambah 10 hari isolasi mandiri sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi. Kedua, kasus probable/kasus konfirmasi dengan gejala yang tidak dilakukan pemeriksaan lanjutan RT-PCR dihitung 10 hari sejak tanggal onset dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan.

Ketiga, kasus konfirmasi dengan gejala yang mendapatkan hasil pemeriksaan lanjutan RT-PCR 1 kali negatif, dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan.



Sumber: BeritaSatu.com