Konsep Hunian Sehat Dapat Mengurangi Penularan Covid-19

Konsep Hunian Sehat Dapat Mengurangi Penularan Covid-19
Pendiri studio ArsitektropiS, Ren Katili. (Foto: Istimewa)
Happy Amanda Amalia / PYA Kamis, 30 Juli 2020 | 20:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Wabah virus corona Covid-19 yang telah berjangkit hampir delapan bulan telah membuat banyak perubahan mendasar dalam gaya hidup, maupun aktivitas keseharian manusia di seluruh dunia. Angka penularan virus yang masih mengkhawatirkan, semakin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa gaya hidup sehat adalah kunci untuk menghindari paparan penyakit Covid-19.

Selain perubahan mendasar tersebut, pandemi Covid-19 turut mengubah struktur kehidupan masyarakat, termasuk mengenai perencanaan tata ruang kota. Bahkan lebih dalam lagi hingga ke setiap cluster keluarga juga terjadi perubahan ruang privat hunian menjadi area produktif, rekreasi, ruang belajar, tempat ibadah dan lainnya.

Hal ini tidak lepas dengan aturan work from home (WFH) yang diterapkan hampir oleh para pelaku dunia usaha kepada hampir seluruh karyawannya dalam beberapa bulan terakhir. Namun, perubahan cara hidup stay at home yang dialami hampir semua orang itu menimbulkan banyak pertanyaan terkait hunian serta apa di lingkup lingkungan pribadi dalam rangka pencegahan penularan Covid-19.

Menanggapi hal itu, dr. Yulia Muliaty, sebagai praktisi kesehatan sekaligus Pembina Kota Sehat di wilayah Jakarta Timur mengingatkan masyarakat tentang karakter dan cara penularan Covid-19 yang cukup unik.

“Mengingat cara penularan Covid-19 adalah melalui droplet, masyarakat harus paham bahwa strain Sars-CoV-2 (virus penyebab Covid-19) dapat bertahan hidup pada suhu 90 derajat Celsius selama satu jam,” ujarnya dalam keterangan pers, Kamis (30/7).

Dia juga mengungkapkan data tambahan dari laboratorium, bahwa untuk membunuh virus ini maka tim peneliti harus memanaskannya hingga 92 derajat Celcius selama 15 menit.

Berdasarkan karakter dari virus corona tadi, dr. Lia memberikan beberapa tips praktis untuk menerapkan hunian yang sehat, yaitu memastikan terdapat ventilasi udara yang memadai pada tiap ruangan; memastikan masuknya cahaya matahari ke dalam rumah; dan menghindari re-sirkulasi udara, seperti penggunaan pendingin ruangan (AC) terus-menerus mengingat sirkulasi udara yang berputar secara statis berpotensi terjadi peningkatan klaster Covid-19 yang rentan.

“Walaupun kontak dekat menjadi faktor utama, namun kondisi berjejalan dengan ventilasi ruangan yang buruk bisa menjadi sebab bertahannya virus dalam ruangan,” tuturnya.

Tips lainnya, lanjut dr. Lia adalah, usahakan memilih ruang penerima tamu di luar ruangan dengan udara bebas serta tidak bersinggungan langsung dengan ruang keluarga; memastikan tersedia fasilitas cuci tangan ataupun disinfektan di sekitar halaman sebelum masuk ke dalam rumah; menyediakan tempat penyimpanan sepatu atau alat-alat yang digunakan di luar rumah secara rutin; dan membiasakan untuk membersihkan diri setiap kali sampai di rumah sebelum bertemu dengan keluarga, terutama anggota yang rentan, dengan mencuci tangan menggunakan sabun setiap kali berkegiatan.

“Hal-hal di atas, kalau diterapkan secara disiplin paling tidak dapat meminimalisir paparan virus Covid-19,” tambah dia, seraya kembali mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan tubuh dengan konsumsi makanan sehat dan bergizi, serta semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sedangkan bagi masyarakat yang berencana membeli rumah atau hunian baru, dr. Lia menganjurkan untuk mempertimbangkan health protocol, serta fasilitas sanitasi lingkungan perumahan yang beradaptasi dengan kondisi normal baru saat ini.

Tidak Perlu AC
Senada dengan pernyataan dr. Lia, Pendiri studio ArsitektropiS, Ren Katili, berpendapat bahwa hunian sehat idealnya memang tidak perlu menggunakan AC yang harus disimpan di ruang tertutup. Sesuai dari berbagai referensi yang didapatkan, droplet yang mengandung Covid-19 dapat menyebar lebih cepat di ruangan ber-AC ketimbang di luar ruangan atau di dalam ruangan yang memiliki ventilasi leluasa.

Hunian yang adaptif untuk pencegahan penyebaran Covid-19 sebenarnya sudah diakomodasi dalam konsep rumah sehat yang selalu memperhatikan unsur iklim daerah setempat. Untuk daerah tropis seperti Indonesia, rumah harus memenuhi aspek kecukupan pencahayaan matahari dan memiliki sirkulasi udara yang baik, di samping fasilitas ruang terbuka hijau yang memadai.

“Rumah yang memiliki sirkulasi udara baik dengan pancahayaan sinar matahari cukup akan mampu mereduksi kelembaban udara yang tinggi di daerah tropis sehingga rumah tidak terasa lembab yang memudahkan berkembangbiaknya bakteri serta virus-virus berbahaya,” ujar Ren.

Untuk mengatasi masalah overheating yang sering dikeluhkan orang pada ruangan tidak ber-AC, Ren menyarankan saat membangun rumah, bangunan sebaiknya diorientasikan pada arah utara-selatan. Selain itu, bentuk bangunan yang pipih (desain persegi panjang) dipandang lebih baik daripada denah rumah yang berbentuk gemuk (seperti kubus) karena udara akan lebih cepat keluar masuk.

Sedangkan terkait trafik udara, Ren mengatakan, idealnya setiap rumah memiliki dua lubang yang bisa menjadi pintu keluar masuk udara. Namun, di kompleks perumahan yang padat saat ini, banyak rumah yang akhirnya hanya memiliki satu fasad karena bagian belakangnya ditutup rapat ketika penghuninya butuh ruang tambahan.

“Untuk kondisi seperti itu, dianjurkan dibuat bukaan atas agar udara panas bisa keluar leluasa. Selain bukaan untuk trafik udara, presentasi luas dasar terhadap luas lahan juga harus diperhatikan demi kualitas udara, tanah dan air sehingga tercipta keseimbangan kelestarian lingkungan. Jika rumah sudah terlanjut ditingkat, siasati dengan membuat jendela atau bukaan di atas tangga agar udara jangan sampai mampat,” demikian saran Ren.



Sumber: PR