Angka Covid-19 Anak di Indonesia Naik 100 Persen
INDEX

BISNIS-27 540.837 (-8.19)   |   COMPOSITE 6428.31 (-54.9)   |   DBX 1183.86 (16.52)   |   I-GRADE 188.148 (-2.58)   |   IDX30 539.476 (-8.89)   |   IDX80 144.979 (-1.68)   |   IDXBUMN20 440.639 (-3.89)   |   IDXESGL 147.926 (-1.09)   |   IDXG30 146.726 (-1.41)   |   IDXHIDIV20 473.385 (-7.91)   |   IDXQ30 152.644 (-1.92)   |   IDXSMC-COM 299.578 (-0.96)   |   IDXSMC-LIQ 376.282 (-1.41)   |   IDXV30 152.705 (-1.81)   |   INFOBANK15 1086.82 (-23.03)   |   Investor33 459.04 (-6.31)   |   ISSI 190.39 (-0.94)   |   JII 671.594 (-3.85)   |   JII70 236.079 (-1.46)   |   KOMPAS100 1294.89 (-15.54)   |   LQ45 1002.38 (-13.63)   |   MBX 1785.38 (-21.17)   |   MNC36 340.467 (-4.76)   |   PEFINDO25 342.936 (-2.7)   |   SMInfra18 325.457 (-0.02)   |   SRI-KEHATI 391.973 (-5.4)   |  

Angka Covid-19 Anak di Indonesia Naik 100 Persen

Kamis, 22 Oktober 2020 | 23:06 WIB
Oleh : Dina Fitri Anisa / EAS

Jakarta, Beritasatu.com - Total kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah, tak terkecuali kasus di kalangan anak-anak. Menurut data yang dilansir dari unggahan Instagram @kawalcovid19, total kasus positif pada anak lebih dari 37.000 kasus. Terjadi kenaikan lebih dari 100% dari data kasus pada September lalu, yang berkisar di angka 15.000 kasus.

Anggota Satuan Tugas Covid-19 IDAI, dr Anggraini Alam mengatakan, saat ini kasus pada anak tengah membawa keprihatinan. Di Indonesia, kasus Covid-19 pada anak sudah mencatat angka kematian lebih tinggi yakni 208. Angka kematian tersebut bahkan lebih tinggi daripada akumulasi kematian kasus Covid-19 di negara seperti Malaysia, Hong Kong, dan Taiwan, yang rata-rata masih di bawah 200 anak.

Anggraini mengatakan, kasus Covid pada anak membuktikan masyarakat Indonesia masih menganggap hal tersebut hanyalah angka. Padahal sebenarnya Covid-19 terus mengancam kesehatan dan keselamatan anak-anak mereka.

"Angka hanya angka, padahal saudara kita saat ini sangat sedih dan prihatin. Namun kita lihat di berbagai media, rasa keprihatinan dan kewaspadaan masih rendah,” jelasnya saat dihubungi Suara Pembaruan, Kamis (22/10/2020).

Menurut Anggraini, saat ini yang bisa dilakukan masyarakat adalah bersatu untuk menjalankan protokol kesehatan atau 3M. Mulai dari mencuci tangan menggunakan sabun, menggunakan masker kain tiga lapis atau masker bedah, dan juga menjaga jarak dari kerumunan.

Sementara secara terpisah epidemiologi dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menuturkan, terdapat tiga faktor utama yang mendorong angka kasus anak di Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara-negara lainnya. Pertama adalah mengenai cakupan status imunisasi dasar lengkap (IDL) turun hingga 19,7% pada Maret-April 2020 sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Menurutnya, situasi ini tidak hanya meningkatkan risiko wabah dari penyakit yang semestinya bisa dicegah dengan imunisasi seperti difteri, campak, polio dan rubella. Namun juga, membuka risiko yang lebih besar pada anak untuk terinfeksi Covid-19.

"Kita tahu, imunisasi lengkap akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak. Maka tentu saja, saat cakupan imunisasi tidak lengkap, maka akan semakin rawan terserang virus atau penyakit lainnya,” jelasnya saat dihubungi Suara Pembaruan, Kamis (22/10/2020).

Persoalan ini menurutnya, tidak boleh lepas dari pandangan pemerintah atau pusat vaksinasi Bio Farma yang saat ini sedang sibuk berkutat dengan vaksin Covid-19. Mengingat, imunisasi pada anak merupakan sebuah upaya besar dalam menjaga generasi penerus bangsa.

"Sistem imunisasi harus diperbaiki, jangan sampai ada penundaan imunisasi di masa pandemi. Pemerintah pusat dan daerah melalui posyandu harus membuat program yang disesuaikan dengan kondisi pandemi. Distribusi ketersediaan program vaksin pun harus selalu diperhatikan kecukupannya. Ini yang harus dipastikan terkait imunisasi. Pemerintah pusat dan daerah jangan sampai lupakan ini. Jangan masalah Covid terus, dan imunisasi terabaikan,” terangnya.

Kemudian persoalan kedua, yaitu tingginya tingkat gizi buruk terhadap anak di Indonesia. Hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada 2019 menunjukkan, prevalensi stunting mencapai 27,67%. Artinya, setiap 10 anak Indonesia, ada tiga orang di antaranya yang mengalami stunting. Masalah gizi buruk ini sangat erat kaitannya juga dengan daya tahan tubuh anak.

"Anak dengan gizi buruk adalah salah satu grup yang juga terdampak paling bahaya bila tidak dilakukan respons yang baik dan diantisipasi. Belum lagi situasi ekonomi keluarga yang semakin tidak menentu. Pemerintah, dalam hal ini Kemsos dan Kemdagri memiliki peran penting untuk memenuhi gizi anak, terlebih di masa pandemi,” ungkapnya.

Faktor ketiga, tingkat kebersihan dan sanitasi yang masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan tingginya kasus diare. Penyakit yang disebabkan oleh Rotavirus ini merupakan cermin dari rendahnya mutu kesehatan lingkungan. Diare dan stunting menurutnya adalah dua kasus yang saling berkaitan erat.

"Ini menggambarkan kondisi wilayah yang tingkat kebersihan dan sanitasinya rendah, tidak bisa diharapkan disiplin menerapkan protokol 3M,” jelasnya.

Untuk persoalan ini, pemerintah harus lebih berupaya untuk menyediakan dan memfasilitasi air bersih bagi wilayah-wilayah dengan tingkat sanitasi dan kebersihan yang rendah. Tidak lupa, sosialisasi protokol kesehatan 3M tentang menjaga jarak, menggunakan masker, dan mencuci tangan juga harus selalu dilakukan secara rutin. Sehingga diharapkan bisa menjadi kebiasaan baru, dan memutus rantai penyebaran virus.



Sumber: Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Pemerintah Tidak Terburu-buru Berikan Vaksin

Yang dilakukan pemerintah saat ini adalah bertemu terlebih dahulu dengan para produsen tentang kesediaan mereka seandainya Indonesia jadi membeli vaksinnya.

KESEHATAN | 22 Oktober 2020

Antisipasi Klaster Liburan, Epidemiolog Minta RT dan RW Data Warga yang Berpergian

Itu akan sangat efektif untuk pengendalian kasus serta melakukan tracing apabila ada kasus baru.

KESEHATAN | 22 Oktober 2020

Pemanfaatan JKN-KIS Menurun Selama Pandemi Covid-19

Penurunan ini diduga bukan hanya karena orang takut berobat ke faskes, tetapi bisa jadi pemanfaatan layanan JKN sebelum pandemi tidak sesuai kebutuhan pasien.

KESEHATAN | 22 Oktober 2020

14 Provinsi Termasuk Jakarta Laporkan Kasus Sembuh Lebih Banyak dari Kasus Baru

Jumlah kasus sembuh di ibukota sebanyak 1.159 sedangkan penambahan kasus baru Covid-19 sebanyak 989.

KESEHATAN | 22 Oktober 2020

Update Covid-19: Tambah 4.432, Kasus Positif di Indonesia Jadi 377.541

Penambahan 4.432 kasus baru Covid-19 berdasarkan pemeriksaan spesimen sebanyak 43.928.

KESEHATAN | 22 Oktober 2020

Inilah Rekomendasi Pemberian Vaksinasi Covid-19 Menurut PB IDI

PB IDI minta pemerintah agar jangan tergesa-gesa dalam pemberian vaksin Covid-19 kepada masyarakat dan tenaga medis.

KESEHATAN | 22 Oktober 2020

Jessica Tanoesoedibjo Ajak Hidup Sehat lewat MNC Virtual Ride

Peserta dapat melakukan pendaftaran mulai 19 Oktober hingga 7 November 2020. Adapun, periode gowes akan dilaksanakan mulai 1-7 November 2020.

KESEHATAN | 21 Oktober 2020

Pemerintah Targetkan Stunting 14% pada 2024, Pakar: Ambisius dan Butuh Kerja Keras

Sebab, target ini baru bisa tercapai apabila angka stunting turun 3,8% per tahun atau angka stunting baru maksimum 10%.

KESEHATAN | 21 Oktober 2020

Menko PMK Minta Pemda Optimalkan Penanganan Stunting

Persentase angka stunting berdasarkan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia 2019 sebesar 27,67%. Artinya, 1 dari 4 balita di Indonesia mengalami stunting.

KESEHATAN | 21 Oktober 2020

Tips Mengenali Gejala Khas Covid- 19

Bagi yang menunjukan gejala Covid-19, ada beberapa ciri khas yang terbagi menjadi tiga.

KESEHATAN | 21 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS